Arsip

Archive for the ‘Kuliner’ Category

Yakin Mau Makan Masakan Korea???

Maret 11, 2012 3 komentar
Kimchi menemani Indomie Ayam Bawanng

Kimchi menemani Indomie Ayam Bawanng

Saya yakin banyak di antara kita yang sedang terserang demam Hallyu Wave aka Korean Wave. Dimulai dengan suka drama-nya, music-nya, hingga pesohor sana yang terkenal cakep-cakep. Saya sendiri walau punya perawakan bak debt collector, tapi hati saya tak kuasa menolak demam Korea ini ha ha ha ha.

Dan perlu saya akui bahwa gara-gara keseringan nonton drama dan variety show Korea saya jadi penasaran dengan beberapa kuliner negerinya SNSD ini. Sebut saja Kimchi, Tteokbokki, Kimbap, dll. Namun masalahnya hasrat saya untuk mencicipi masakan tersebut menemui kendala. Di kota saya, Bumi Arema, kuliner Korea belum ada yang jualan ternyata. So saya pun harus mengurungkan niat saya untuk icip-icip kuliner negeri gingseng itu dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Tak bisa makan di resto korea saya pun nekat untuk bikin sendiri saja. Berdasarkan resep yang saya dapatkan dari Youtube saya mulai mencoba membuat Tteokbokki (kue beras pedas) dan Kimchi. Lagi-lagi saya mendapat rintangan di sini. Bahan-bahan masakannnya susah banget dicari di supermarket. Sebut saja Tteok (kue beras) dan Gokujhang (pasta cabe). Saya pun harus ngublek-ngublek internet lagi untuk bikin sendiri.

Setelah semua bahan tersedia, saya mulai membuat dua masakan ini atas petunjuk Bapak Haji Youtube. Dan setelah jadi, taraaaaa…… saat yang paling menegangkan pun tiba, mencicipi. Dan begitu mencicipi…. Jreng-jreng…. Rasanya maaaaaak, aduhai, dahsyat, luar biasa *sambil applause*….. BTW kok gini ya??? Jedhieeer.

Ok perlu saya akui bahwa rasa masakan ini tak sesuai yang saya bayangkan. Rasanya sengak-sengak, asem, pedes, asin, manis digabung jadi satu tanpa ada rasa gurih. Jujur kalo bisa dibilang saya cukup kecewa. Kalau untuk kimchi saya sih sebenernya berharap rasanya mirip lalapan sawi putih pake sambel terasi. Trus kalau tteokbokki saya berharap rasanya memper-memper Cilok legendaries di depan SMA 8 Malang.

Beda budaya beda pula standar rasa. Dan setelah saya browsing di internet memang standar masakan Korea memang gak jauh beda dengan apa yang telah saya rasakan. Hal itu banyak diungkapkan di forum-forum internet, jikalau lidah Indonesia kurang cocok dengan masakan Korea. Hal ini semakin diperkuat setelah saya mencoba juga beli Ramyun instan (mie instan korea) yang halal tentunya, dan rasanya mirip banget dengan hasil masakan yang pernah saya buat. Oh iya, ramyun instan ini kalo dibandingkan dengan Indomie, wah kalah jauh lah.

Setelah apa yang terjadi saya pun menyimpulkan bahwa masakan Indonesia jauh jauh jauh lebih asik dari masakan Korea. Bahkan gara-gara itu saya jadi mengurungkan niat buka Korean resto kelas kaki lima. Bolehlah saya jadi bias SNSD Taeyeon, Boram T-Ara, atau Jia Miss-A. Tapi urusan kuliner tetep Bakso Bakar, dan Mie Ayam Solo tetep the best.

Eh bentar-bentar…. Masakan Korea memang secara rasa kalah jauh dari masakan Indo. Namun kalau dilihat dari aspek kesehatan masakan mereka punya khasiat yang ciamik. Kimchi contohnya. Makanan pembuka ini kalau anda santap sedikit saja sebelum makan yang lainnya, maka lidah anda akan mampu merasakan masakan jauh lebih peka dari sebelumnya. Dan efeknya tidak itu saja. Pas besoknya pencernaan saya jadi lancar banget (sori…. Lancar  bukan berarti mencret loh ya). Jadi kesimpulannya rasa boleh kalah, tapi kalau mau sehat tidak ada salahnya anda coba masakan korea terutama yang berbasis sayur.

Mie Biting Super Pedas Kantin Teknik UMM

November 11, 2010 Tinggalkan Komentar

Mie biting muncul pertama kali sekitar tahun akhir 90an dan di awal tahun 2000. Saat itu harganya hanya 100 perak. Ada dua pilihan rasa dari mie biting ini, pedas dan asin. Namun perlu diakui bahwa jajanan ini bukanlah jajanan yang sehat. Jadi kalau terlalu sering dimakan akan menimbulkan gangguan kesehatan.

Akhir-akhir ini, mie biting kembali populer. Dan saat ini harganya sudah naik hingga 5 kali lipatnya atau sekitar 500 perak. Melalui penelitian dengan membeli beberapa mie biting di warung-warung, sepertinya hampir tidak ada yang berubah dari awal kemunculannya dulu. Baik itu dari segi bahan pembuatan maupun dari rasa.

Namun, ada mie biting yang ternyata beda dari mie biting di tempat-tempat lainnya. Tepatnya di kantin Teknik Universitas Muhammadiyah Malang. Harganya cukup tinggi, 1000 rupiah. Karena penasaran akhirnya saya coba beli satu.

Saat mengambil biting pertama, saya langsung dibuat kagum dengan tekstur mie bitingnya yang tebal. Bumbunya pun bukan bumbu-bumbu balado yang dipakai mie biting pada umumnya. Melainkan dari cabe kering yang dihaluskan kemudian dicampur dengan gula, garam, dan beberapa bahan lainnya.

Urusan rasa jangan ditanya, nuampar banget. Menghabiskan satu bungkus mie biting di kantin Teknik UMM sudah cukup membuat hidung orang yang tahan pedas seperti saya, mbeler. Tapi justru karena saking pedasnya itu saya jadi ketagihan.

Bagi anda yang penasaran dengan sensasi Mie Biting yang super pedas ini, segera beli saja di Kantin Teknik UMM kampus 3.

The Origin Of Bakso Bakar

Oktober 22, 2010 4 komentar

Gambar oleh : http://d-sun-blog.blogspot.com

Bakso adalah kuliner yang sangat identik dengan kota Malang. Berbagai jenis bakso enak seolah berkumpul di kota terbesar kedua Jawa Timur ini. Salah satu varian bakso paling masyur di kota Malang adalah Bakso Bakar. Kita akan dengan mudah menemui Bakso Bakar di berbagai sudut kota Malang.

Bakso bakar sendiri “lahir” dari tangan dingin seorang penjual Bakso senior di kota Malang. Dia adalah Pak Man. Konon Pak Man ini juga salah satu orang yang pertama kali berjualan Bakso di Bumi Arema. Kalau tidak salah dia mulai berjualan sekitar tahun 1965 di daerah pasar comboran.

Tipe Bakso yang dijual Pak Man, merupakan tipe Bakso original. Dimana isinya hanya su’un (mie putih), penthol (bakso), dan tahu. Pada suatu saat, Pak Man tidak sengaja menumpahkan beberapa bakso saat melayani pembeli. Ketika warung sudah mulai tutup, beliau membersihkan bakso-bakso yang jatuh tadi kemudian membakarnya bersama sampah-sampah yang lain. Rupanya nyala api yang membakar bakso tadi menimbulkan aroma yang unik dan khas. Dari situlah sang Maestro ini punya ide untuk mengkreasi salah satu jenis Bakso baru, Bakso Bakar. Dimana beberapa bakso ditusuk di bambu kemudian dibakar layaknya sate. Untuk bumbu olesnya dibuat dari campuran kecap, saus tomat, dan bawang putih.

Gambar oleh : http://d-sun-blog.blogspot.com

Menu baru ini tidak membutuhkan waktu lama untuk menjadi primadona pecinta kuliner di Kota Malang. Rasa dan aroma yang khas serta dikombinasikan dengan racikan sambal yang pedas luar biasa selalu membuat orang yang pernah mencobanya untuk datang lagi di lain kesempatan. Selain itu bakso kuahnya juga menunjang sebagai menu pemanasan sebelum kita menyantap bakso bakar Pak Man.

Dari sekian banyak Penjual Bakso di Kota Malang, hanya ada tiga yang rasanya original. Yang pertama di depan SMP 9 Malang (dekat Pasar Comboran Malang), karena disiinilah tempat awal Pak Man berjualan. Yang kedua adalah di Jl. Dr Cipto depan SMAi, disini merupakan cabangnya. Sedang Bakso Bakar original terakhir adalah di Jalan Trowulan dekat kampus ABM. Untuk tempat yang terakhir konon peraciknya adalah ex Pegawai Pak Man yang memutuskan bersolo karier.

Kenapa tiga tempat itu saya sebut original? Karena di ketiga tempat itulah rasa semua menu Baksonya hampir serupa. Hal ini tidak mengherankan mengingat peracik-peracik di tempat itu bersumber dari Guru yang sama, Pak Man. Rasa Kuah, pemilihan bawang goreng, daun bawang, serta racikan sambalnya begitu identik.

Namun bagi anda yang ingin merasakan variasi lainnya (selain yang original), anda bisa mencobanya di tempat lain. Diantaranya Bakso Bakar Dieng Plaza, Bakso Bakar Pahlawan Trip, dll. Kalau anda cermat maka anda akan menemukan perbedaan dan kekayaan rasa dari Bakso Bakar di kota Malang. Selamat Mencoba.

Makanan Paling Diburu Sehabis Lebaran

September 13, 2010 2 komentar

Krupuk Salah Satu Makanan Pokok Di Indonesia :)

Apa makanan yang paling diburu sehabis lebaran? Opor ayam? Bukan… Ketupat sayur? Bukan… Soto Ayam? Bukan juga. Makanan yang paling diburu setelah lebaran adalah…. “KRUPUK”. Jreng-jreng…..

Yap… memang tampak remeh. Tapi berdasarkan pengamatan saya yang kebetulan punya toko keluarga ini, krupuk merupakan makanan paing diburu selama satu minggu setelah lebaran.

Kerupuk bagaimanapun juga merupakan makanan pelengkap dari sekian banyak jenis makanan yang ada di bumi pertiwi ini. Mulai soto, rawon, lalapan, nasi goreng, sate ayam, masakan padang, semuanya akan tampak lebih nendang kalo ada krupuknya. Dan karena itu pula sepertinya krupuk telah mendapat tempat tersendiri di hati hampir sebagian besar masyarakat Republik Indonesia.

Saat momen lebaran seperti ini, kebutuhan akan krupuk tiba-tiba meningkat. Namun masalahnya tiba-tiba stok barang telah menghilang. Hilangnya krupuk dari pasaran ini bukan karena ada pihak-pihak tertentu yang meniumbun untuk memainkan harga krupuk di pasaran. Bukan pula karena ditimbun oleh pihak-pihak yang ingin memperkeruh suasana jagad perpolitikan Indonesia. Krupuk menghilang dari peredaran selama libur lebaran karena pengusaha krupuk sedang pada mudik.

Patut disayangkan pula memang. Libur lebaran tukang krupuk terlalu lama. Padahal kalau mereka bisa sedikit mengorbankan waktu mereka, momen seperti bisa mereka dapatkan untuk mengeruk rupiah lebih banyak. Apakah ini buruk…??? Saya dengan tegas akan bilang tidak. Karena kalo menurut analisis saya…. desiuuuung… (niru gaya sentilun), Tukang Krupuk selalu mati-maian mengeruk rupiah saat bulan puasa. Dan tak jarang mereka mengorbankan puasa mereka demi kejar setoran untuk belanja lebaran. Kemudian saat lebaran mereka menghambur-hamburkan uang untuk beli baju, rekreasi, dll. Setelah itu uang akan menipis pada H+7 lebaran. Karena uang menipis maka mereka kudu kejar setoran lagi demi menutupi kekurangan disana-sini.

Namun apa mau dikata. Setelah H+7 kebanyakan orang, kantongnya sudah menipis lagi. Pak penjual krupuk pun tak bisa menjual krupuknya dengan target berlebih. Alhasil pendapatan pun tak seperti yang diinginkan.

Ayolah Bapak-bapak penjual krupuk….!!! Anda harus sadar bahwa krupuk telah menjadi makanan pokok di Indonesia ini. Dobraklah arus tradisionil yang justru merugikan kalian. Krupuk harus bisa didistribusikan dengan baik kapanpun dan dimanapun… krupuk harus jadi komoditi kebanggaan negeri ini… Krupuk harus Go Internasional…!!!!

We Want Krupuk…. We Want Krupuk…

Biar Makan INDOMIE tidak membosankan

November 30, 2009 Tinggalkan Komentar

Mie instan memang telah menjadi bagian dari masyarakat Indonesia dalam keseharian. Bahkan kaau boleh saya menyebutnya, mie instan merupakan makanan pokok kedua setelah nasi. Sebagai orang yang punya toko, saya tahu betul bagaimana sirkulasi penjualan mie tiap harinya.

Namun ada kalanya kita merasa jenuh menyantap mie instan itu. Namun apa daya, situasi memaksa kita untuk terus menyantapnya walau dilanda kebosanan yang amat sangat. Untuk itulah diperlukan sedikit kreatifitas dan imajinasi agar mie instan yang akan kita santap memiliki penampilan dan rasa yang lain dari biasanya. Dan untuk itu anda perlu mencoba tips dibawah ini untuk me-make over Indomie yang akan anda santap.

1. Hancurkan indomie

Instruksi di bungkus indomie menyuruh kita untuk memasukkan indomie dengan utuh. Nah… kita coba cara lain dengan menghancurkan indomie kita. Kita akan dapatkan indomie matang namun kecil-kecil seperti halnya kita makan muesli. Yang kita peroleh adalah sensasi berbeda di lidah saat memakannya.

Namun, hati-hati dengan cara ini. Secara fisiologi sel, dengan menghancurkan indomie Anda sebenarnya memperbesar permukaan indomie yang bersentuhan dengan air panas. Yang terjadi adalah Indomie Anda akan cepat menyerap air panas dan lebih cepat matangnya. Oleh karena itu, para SGers harus menjaga jangan sampai Indomie tidak terlalu lembek. Cara ini cocok untuk semua rasa Indomie.

2.  Goreng dengan mentega

Indomie (baik utuh atau dihancurkan sesuai selera) bisa digoreng dulu dengan menggunakan mentega hingga berwarna kecoklatan. Lalu masukkan air dan rebus indomie hingga matang. Karbon yang dihasilkan dari penggorengan indomie dengan mentega akan memberikan rasa yang berbeda bagi indomie SGers. Perlu diperhatikan bahwa karena mentega itu rasanya asin perlu hati-hati dalam pengaturan bumbu agar rasanya tidak keasinan.

Cara ini lebih cocok untuk indomie rasa standard seperti kaldu ayam atau ayam bawang. Saya tidak menyarankan untuk mencobanya untuk Indomie yang berasa khusus seperti kari ayam, soto koya, dll.

3. Ifu-Indomie

Saya yakin SGers tahu apa itu ifu-mie. Mie yang digoreng kering yang disiram pakai kuah kental yang panas. Kalau mau sedikit repot, para SGers bisa mencoba dengan merebus sebentar indomie hingga matang, tiriskan, lalu goreng indomie tersebut dengan minyak hingga kering crispy.

Bikin kuah indomie, lalu tuangkan campuran tepung terigu/maizena dengan air ke dalamnya dan masak hingga kuah kental. Setelah itu tuangkan ke atas mie yang sudah digoreng kering tadi.

Karena agak repot saya belum tahu apakah cara ini dapat diterapkan di seluruh rasa indomie atau tidak. Tidak ada salahnya untuk bereksperimen dengan rasa yang lain, tapi nanti bagi-bagi ke saya yah bagaimana hasilnya…

4. Pizza-mie

Kayanya cara ini agak lazim dan sering dipraktekkan. Indomie direbus hingga matang, lalu tiriskan. Campur telur dan dikocok hingga rata, lalu masukkan bumbunya. Campuran ini kemudian digoreng hingga matang dan agak kering. Paling enak dimakan dengan sambel.

STMJ Glintung

Mei 29, 2009 3 komentar

DSC00113Sejak lulus dari poltek beberapa tahun lalu, memang saya sedikit merasakan ada pola yang berubah dalam hal waktu tidur. Kalau dulu saya paling malam tidur jam 11 entah mengapa saat itu jadi molor sampai jam 12. Dan yang lebih gawat akhir-akhir ini saya malah baru bisa tidur jam 2 pagi.

Pertanyaannya apa yang saya lakukan pada jam 10 malam hingga jam 1 pagi. Tidak banyak. Saya lebih suka menghabiskan waktu dengan menulis dan baca novel mungkin. Tapi tak jarang pula hang out sendiri sambil menikmati dinginnya kota Malang di malam hari.

Ada satu tempat yang sering saya kunjungi bila tidak bisa tidur. Tempat itu adalah STMJ Glintung. Letaknya cukup mudah di cari. Cari saja tenda biru tidak jauh dari Careffour di jalan utama blimbing sekitar daerah glintung.

Dan apa sih yang menyebabkan saya suka dengan STMJ di sini bukan di yang lainnya? Padahal kalau mau menghitung, jumlah penjual STMJ di kota malang ini luar biasa banyaknya. Hampir ada di setiap bagian kota. Jawabannya simple, karena rasanya paling mantap.

Saya akan coba definisikan rasa dari stmj ini. STMJ Glintung memiliki elemen rasa yang kuat dari elemen pemebentuknya. Mulai dari susu, telor, madu, dan jahe memiliki komposisi yang pas. Semua rasanya bisa muncul dan menampilkan ketajamannya tapi tidak saling mengalahkan. Inilah yang menjadi beda STMJ glintung dengan STMJ di tempat lain. Di tempat lain saya merasa STMJ yang dibuat sedikit asal-asalan. Intinya mereka asal mencampur. Sehingga terkadang rasanya tidak jauh dengan stmj instant.

Keistimewaan lain dari STMJ Glintung adalah proses pembuatannya. Untuk mencampu bahan-bahan dari STMJ mereka tidak menggunakan blender. Tapi menggunakan pengocok spiral. Sehingga kalau anda melihat hasilnya, STMJ Glintung memiliki buih yang cukup banyak di atasnya. Dan rasa buih busa ini sangat istemawa. Begitu kuat. Biasanya sebelum meminum STMJ, saya nikmati dulu busa di bagian atas STMJ dengan sendok kecil.

Di STMJ Glintung juga menyediakan roti dan pisang bakar. Keduanya saya kira menu yang serasi untuk menemani minum STMJ. Selamat mencoba!

Rawon Stasiun

Sekali lagi saya pengen membahas makanan berat. Tapi jangan salah paham dulu! Makanan berat yang saya maksud bukanlah knalpot, ban mobil, tabung gas, atau barang sejenis lainnya. Makanan berat yang saya maksud adalah makanan yang bahannya mengandung minyak, lemak, daging, rempah-rempah, dll. Dan kalau dimakan biasanya berasa banget di lidah.

Salah satu makanan berat favorit saya adalah nasi Rawon. Tapi ini bukan rawon sembarangan, yang biasa disuguhkan di kondangan-kondangan atau acara mantenan. Ini Rawon high class bung, kualitasnya jangan ditanya lagi. Lebih baik coba sendiri.

Rawon high class ini adalah rawon stasiun. Disebut Rawon stasiun karena memang letaknya ada di Stasiun Kota Baru. Sebenarnya di warungnya sendiri menawarkan banyak pilihan. Mulai dari sop buntut, rawon buntut, dan rawon biasa. Namun saya lebih tertarik untuk membahas rawonnya saja.

Kuah rawon ini cenderung coklat, berbeda dari rawon kebanyakan yang lebih berwarna hitam. Tapi walau begitu rawon ini tetap memiliki rasa yang asik sekali. Bahkan kalau boleh saya beri nilai antara 1-10 maka kuah Rawon stasiun ini bernilai 9,8. Artinya untuk urusan rasa bisa dibilang juaranya. Menurut kabar angin yang saya dapatkan cara membuat kuahnya ini berbeda dari kebanyakan pembuatan rawon. Mereka tidak langsung memasukkan bumbunya ke dalam kuah. Tapi bumbu-bumbu tersebut di tempatkan ke dalam kantong kain khusus. Nah setelah itu baru mereka celupkan kantong tersebut kedalam air yang mendidih. Metodenya mirip dengan cara membuat teh celup. Dan metode ini pula yang membuat kuah dari rawon stasiun tetep jernih tapi tetap memiliki rasa yang mantap.

Selain itu hal istimewanya adalah irisan dagingnya. Cara memasak irisan dagingnya pun pas sekali. Sehingga daging rawon tidak alot alias susah dimakan. Untuk lauk tambahan anda bisa minta sendiri. Ada tempe, babat, dan usus.

Sebagai penutup ada hal yang perlu diperhatikan. Siapkan uang sedikit lebih. Karena harganya cukup tinggi. Biasalah ada rasa ada harga. Tapi saya jamin sebanding kok dengan harganya.

Categories: Kuliner, Visit Malang City

Kupang Keraton Pasuruan Hj. Qomariah

April 3, 2009 1 komentar

Kali ini saya ingin mencoba kuliner referensi dari kakak saya. Kupang Keraton Pasuruan namanya. Tempatnya ada di jl. dr. Cipto kios no 12. Atau ancer-ancer lebih mudahnya cari saja kedai di depan Hollanda Bakery.

Sebelumnya mungkin beberapa dari anda belum tahu apa itu Kupang Lontong. Kupang adalah hewan yang hidup hanya dilaut, warna tubuhnya coklat agak pucat. Kalau dalam kondisi sudah dimasak maka pada bagian kepalanya berwarna hitam.

Di Jawa Timur penangkapan kupang ini bisa ditemui di daerah pesisir utara antara lain di pantai Surabaya, Sidoarjo, dan Pasuruan. Kupang yang diolah menjadi sebuah makanan yang khas yang hanya bisa ditemui di sekitar daerah penangkapannya.

Cara memasak kupang juga sangat mudah, hanya dicuci bersih, direbus dengan air sampai matang. Masyarakat Jawa Timur lebih akrab menyebut kuliner ini dengan “kupang lontong”.

Kupang lontong disajikan dengan kuah, dan bumbu yang digunakan berupa: bawang putih yang diiris tipis-tipis (digoreng), cabe, dan petis (salad hitam yang terbuat dari udang). Bumbu tersebut dicampur kemudian digerus dengan sendok diatas piring yang akan disajikan.

Sesudah digerus maka campuran tersebut akan diencerkan dengan membubuhi sedikit kuah rebusan kupang, di tambahkan irisan lontong diatasnya kemudian ditambah dengan lentho (campuran singkong parut, kacang tolo, kelapa parut, dan bumbu berupa bawang putih, ketumbar, garam, gula).

Kupang yang sudah direbus matang selanjutnya disiramkan diatasnya beserta kuahnya. Untuk finishing touch-nya ditaburi dengan bawang goreng.

Kupang ini akan lebih lengkap apabila disantap dengan sate kerang. Sate kerang yang dikukus dan ditusuk dengan lidi bambu.

Untuk urusan rasa tidak perlu diragukan, ueeeeenak tenaaan. Kuahnya bener-bener cakep sekali, apalagi irisan bawang goreng tadi menambah tusukan rasanya. Gerusan cabe merah tadi juga senantiasa mengelitik lidah Sementara ketika saya tambahkan perasan air jeruk nipis, rasa fresh tiba-tiba menyeruak di lidah. Benar-benar kombinasi rasa yang serasi.

Bagi anda yang berminat, saya sarankan bersiap merogoh kocek sedikit dalam (apalagi ukuran kantong mahasiswa). Kupang lontongnya dipatok dengan harga Rp 7000,-. Sementara lentho dan sate kerang satu bijinya dihargai Rp 750,-. Untuk minumannya ada es degan, es jeruk, atau yang lainnya berharga Rp 3000,-.

Categories: Kuliner, Visit Malang City

Nasi Goreng Mawut Kasin, Pesona Bohemian dalam Sepiring Nasi

Pernah dengar nasi goreng “resek” (sampah)? Itu adalah salah satu kuliner khas di kota Malang. Letaknya di sekitar perempatan kasin. Tapi saya sarankan jangan terlalu sering menyebut nasi goreng resek, apalagi di depan penjualnya. Bisa jadi bukan layanan ramah yang anda dapatkan, tapi sabetan kain serbet di muka yang anda terima. He he he.

Nama asli dari kuliner ini adalah Nasi goreng Mawut Kasin. Awal mula mendapat julukan nasi goreng resek adalah karena cara masakanya yang terkesan arogan dan asal-asalan. Penggorengannya berukuran raksasa. Seperti yang biasa dijumpai di kamp pengungsian. Pada saat memasak sang bapak penjualnya kemudian memasukkan nasi, kol, mie kuning, tauge, kecap, dll dalam jumlah yang amat banyak. Setelah bahan-bahan itu dimasukkan dalam penggorengan kemudian diaduk dengan pengaduk yang tentunya berukuran ekstra juga. Mirip lah dengan cara ngaduk gula saat pembuatan dodol.

Rasa dari nasi goreng ini bisa dibilang enak tapi tidak terlalu istimewa. Malah kalau menurut pendapat saya rasanya kurang mengimbangi penampilannya yang bohemian itu. Cenderung soft dan mengalir apa adanya.

Saat memesan biasanya anda akan ditawari, “ndamel ulam nopo mboten?”. Atau kalau dalam bahasa Indonesia,”pakai lauk apa tidak?’. Kalau memilih memakai lauk maka anda akan mendapat tambahan ampela ati.

Sebagai peringatan penting, bagi anda yang tidak kuat pedas, sisir dulu ranjau yang tersebar pada nasi ini. Ranjau yang saya maksud adalah cabe hijau. Karena bisa jadi anda tidak menyadari bila mengunyah ranjau-ranjau biologis itu. Dan bisa dirasakan sendiri akibatnya.

Sebagai anjuran terakhir, saya sarankan untuk tidak membungkus nasi ini. Ataupun kalau terpaksa, jangan dibiarkan terlalu lama dalam bungkusan. Karena sseringkali nasi ini kehilangan rasa saat dibiarkan dibungkus terlalu lama. Dan memang jauh lebih baik memakan langsung nasi goreng ini di kedainya.

Categories: Kuliner, Visit Malang City

SOTO YAYA, Murah Meriah Porsi Urakan

April 3, 2009 2 komentar

Masih dalam suasana liburan semester, dan saya pun mengisi hari-hari libur dengan sesekali membantu Toko Milik ortu. Biasanya saya lebih memilih peran untuk menjadi seksi kesana kemari daripada seksi penjaga toko. Karena saya orangnya tidak betahan kalo berada dalam satu tempat. Alasan lain saya kurang telaten meladeni pembeli yang kebanyakan ibu-ibu atau mbah-mbah dimana sebagian besar bawel banget. Jadi saya minta ke Ibu dan Bapak agar diberi tugas untuk belanja saja.

Dan hari ini pun saya melakukan kegiatan rutin saya selama liburan yaitu belanja kebutuhan toko. Kebetulan mbak yang biasa Bantu-bantu rumah tidak masuk. Alasannya sih sakit gigi, bagus lah daripada sakit hati (diambil dari pendapat Meggy Z). Dikarenakan mbak tidak masuk akhirnya tidak ada yang masak. Daripada harus menahan lapar yang menggelora,maka saya putuskan untuk mencari makan di luar saja. Maklum kalau menunggu ibu masak mungkin baru sempat makan siang harinya. Karena perhatian beliau saat pagi tersita oleh toko.

Tepat pukul 9.30 saya memacu sepeda motor saya untuk menuju Rukun Jaya salah satu agen langganan toko kami. Ketika sampai di sana saya menitipkan catatan belanja dan bergegas untuk mencari makan. Kali ini saya memilih Soto YAYA sebagai tempat mengisi perut. Hal ini saya lakukn karena letaknya memang tidak terlalu jauh dari Rukun Jaya. Hanya sekitar 15 menit perjalanan. Letaknya ada di pinggir jalan utama Simpang Sulfat, tidak jauh dari SMK-PU.

Sebenarnya soto YAYA bukanlah soto dengan rasa no 1 seantero Malang. Bahkan bisa diilang rasanya hanya dalam level lumayan. Namun satu hal yang menjadi pertimbangan bagi insan yang didera kelaparan adalah porsi semangkuk Soto YAYA yang sangat urakan. Alias buanyak banget nasinya. Hampir setara dengan 1½ – 2 porsi soto pada umumnya. Saya sarankan bagi anda yang tidak doyan makan banyak untuk tidak memesan penuh. Mintalah agar nasinya dikurangi. Namun ingat, walaupun nasi dikurangi harga tetap.

Namun untuk harga anda tidak perlu khawatir. Bisa dibilang dengan porsi yang urakan seperti itu, Soto YAYA sangat ringan dikantong. Rp 5000,- untuk soto biasa dan Rp 7000,- untuk yang istimewa. Sedang anak sekolah berseragam akan mendapat harga khusus yaitu Rp 3000,- untuk soto biasa.

Perbedaan soto biasa dan istimewa hanya terletak pada isinya saja. Istimewa memakai ati rempela, sedang untuk yang biasa tidak memakai. Selain itu sama saja.

Bagi anda yang ingin mencoba sensasi soto dengan porsi yang ajegile, soto YAYA adalah tujuan yang tepat. Selamat mencoba!!!!!!

Categories: Kuliner, Visit Malang City
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 775 pengikut lainnya.