Puasa, Bulan Penuh Kejahatan…???
Sudah sering kita dengar para khotib yang mengatakan kalau semakin mendekati lebaran, maka shof solat berjamaah akan mengalami kemajuan yang signifikan. Dalam arti barisannya makin maju karena jamaahnya banyak yang menghilang entah kemana. Lucunya guyonan ini justru muncul di Indonesia yang ‘katanya’ sebagian besar penduduknya adalah beragama Muslim. Dan tentu saja guyonan ini tidak serta merta muncul begitu saja. Namun muncul karena pada kenyataannya itulah yang memang terjadi di negeri ini.
Hal ini cukup berbeda 180⁰ dengan kondisi di negeri barat seperti Australia, Amerika, dan inggris yang jamaah sholatnya ‘stabil’ dari awal puasa hingga Lebaran tiba. Itu masih ditambah dengan aktivitas keseharian mereka saat bulan Puasa yang luar biasa padatnya. Bayangkan, penganut Muslim di negara-negara barat, tetap harus bekerja seperti hari-hari biasanya. Hal ini dikarenakan sistem mereka yang tidak mengenal dispensasi untuk berpuasa bagi umat Muslim, sebagaimana yang terjadi di Indonesia. Tidak cukup hanya disitu, mereka juga menyibukkan diri dengan mengikuti kajian/seminar di Islamic Center terdekat. Jangankan amalan Wajib, amalan Sunnah pun mendapat porsi yang begitu diperhatikan.
Tak jarang umat Muslim di negeri barat menyempatkan diri menjadi sukarelawan untuk mensyiarkan Islam, ketika bulan Romadhon. Hal ini menarik, karena mereka dituntut untuk berinteraksi dengan masyarakat yang tidak semuanya bisa menerima Islam. Untuk itulah mereka dituntut untuk mengenal dan mempelajari secara mendalam tentang risalah Muhammad SAW ini. Dengan pengetahuan yang mendalam, diharapkan mereka mampu memberikan gambaran Islam secara untuh dan objektif. Sehingga dengan sendirinya itu akan menjadi dakwah yang efektif.
Logika ‘kuwalik’ (terbalik), malah terjadi di negeri kita tercinta ini. Korupsi, terorisme, anarkisme, liberalisme, kapitalisme, yang tidak hanya dilakukan hampir disemua kalangan. Contohnya gak perlu jauh-jauh seperti di tipi-tipi kelir (TV berwarna). Kita coba ambil contoh khasusnya di sekitar kita saja.
Soal korupsi misalnya. Sudah bukan rahasia umum, sebagian besar mahasiswa selalu minta kiriman ‘lebih’ dari orang tuanya. Alasannya buat kuliah, tapi jatuh-jatuhnya juga kebanyakan buat memenuhi gaya hidup. Ini juga sering terjadi di level rumah tangga, dimana istri minta uang belanja lebih. Tentu kelebihan itu dipakai untuk adu prestis dengan ibu-ibu tetangga, yang bisa jadi perhiasannya lebih mentereng. Biasanya kebutuhan akan gaya hidup di Bulan Puasa (apalagi mendekai Lebaran) akan jauh meningkat dari bulan-bulan lainnya. Jadi bisa disimpulkan nilai korupsi di bulan ini malah lebih gedhe.
Untuk urusan Terorisme, tak perlu menunggu Nurdin M.Top beraksi. Di jalan-jalan perkampungan, kita juga sudah sering Jantungan gara-gara “Bom Low Explosive” yang disebut petasan atau mercon. Herannya kalo pemain petasan ini ditegur (kebanyakan anak kecil), eh bapaknya malah balik memarahi kita sambil bawa parang.
Lalu apakah anda ingat peristi 11 September 2001 saat beberapa teroris menabrakkan pesawat ke gedung WTC? Hal yang sama juga bisa terjadi di jalan raya negara kita. Apalagi kalau jamnya mendekati waktu berbuka. Namun bedanya, yang digunakan para terosri kali ini adalah motor atau mobil. Baik Motor maupun Mobil seketika itu juga jadi mesin pembunuh yang siap membuat jiwa orang melayang, dikarenakan kebut-kebutan. Alasan ngebut pun ‘gak penting’. Supaya pas adzan sudah ada di rumah untuk berbuka puasa. Tapi karena alasan gak penting itu juga banyak orang yang bisa menjadi korban kebiadaban teroris yang mengatasnamakan agama model begini.
Belum lagi kalo pas adu cepat sampai di rumah itu, diwarnai srempetan antar pengendara. Kemaren saja (26 jam sebelum tulisan ini dibuat), 2 orang pengendara berantem hebat bahkan sampai mau bunuh-bunuhan di perempatan Ciliwung (kota Malang). Dan lucunya perkelahian konyol itu terjadi pas bulan puasa. Apa mereka puasa? Muslim…? Tau dah…. Bagi mereka bodo amat soal ajaran agama untuk saling menahan diri. Yang penting anarkis dan anarkis (Gak perlu ikut ormas kan untuk bisa berbuat anarkis?).
Dan puncaknya, pada akhir bulan puasa dihadapan kita akan disuguhi praktik konsumtif yang luar biasa dahsyatnya. Umat muslim berbondong-bondong pergi ke “Kuil Penebar Impian” bernama Mall. Mereka sibuk dengan “ritual” membeli baju, celana, aksesoris, dan perlengkapan lebaran yang bermerk serta trendi. Data sementara menunjukkan, mal-mal di kota besar (Jakarta, Surabaya, Jogja, Medan, dll) mengalami peningkatan pengunjung terutama pada malam hari.
Mal semakin ramai hingga tengah malam karena ada diskon midnight hingga 70% yang ditawarkan oleh konter-konter pakaian. Akibatnya masjid yang seharusnya dipergunakan untuk itikaf dan tadarus secara intensif menjelang 10 hari terakhir tampak sepi, sedangkan mal tampak padat merayap.
Ada sebuah proses INCEPTION pada iklan-iklan komersial yang berhasil merubah cara pandang masyarakat pada alam bawah sadarnya. Fungsi pakaian sebagai penutup aurot beralih menjadi “benda magis” sebagai simbol kekayaan, kesuksesan, borjuis, dan kemapanan.
Perlahan-lahan pertanyaan demi pertanyaan mulai menjangkiti pikiran sebagian orang. Inikah ajaran agama yang katanya begitu luhur? Inikah ajaran agama yang mengajarkan orang-orangnya untuk punya rasa empati dan kepedulian sosial? Inikah agama yang mengajarkan pemeluknya untuk bisa mengendalikan diri? Ataukah memang kita sendiri sebagai umat Muslim yang benar-benar tak (mau) mengenal agamanya sendiri.
Diakui atau tidak tujuan utama Ramadhan yang kalo kata Gusti ALLAH agar manusia bertakwa, rupanya belum bisa kita wujudkan. Sumber Daya Manusia kita yang masih silau dengan “pencitraan” semu inilah yang bikin tujuan berpuasa ini jadi kemana-mana. Ritual sebulan penuh untuk mengkoreksi dan memperbaiki diri agar 11 bulan berikutnya bisa jadi manusia lebih baik, ternyata disalah gunakan. Bulan Ramadhan kita ubah menjadi bulan ‘perayaan’ dan ‘penimbunan’ nafsu secara menggila. Momen-momen seperti ini juga yang dimanfaatkan oleh para setan kapitalis untuk mengeruk keuntungan dari manusia yang jadi korban “pencitraan”.
Sepertinya sudah saatnya kita mulai merubah cara pandang berfikir tentang pelaksanaan ajaran agama. Orang barat yang notabene banyak mualafnya ternyata jauh lebih mampu menjadi pribadi mukmin yang utuh, daripada kita yang bermodalkan warisan dari orang tua. Kegigihan orang-orang di barat yang haus akan ilmu dan pengetahuan tentang agama yang mereka anut, telah menjadikan mereka lagi-lagi lebih mengungguli kita. Bagi mereka agama tidak hanya sekedar ritual di masjid. Tapi telah menjadi pedoman pelaksanaan teknis dalam kehidupan sehari-hari. Knowing Is Not Enough, We Must Apply ! Willing is not enough, We Must Do!!!!
Yah…. Mungkin memang benar, di akhir zaman matahari akan terbit dari barat. Bukan dari timur…..






Kasus Manohara Odelia dengan Pangeran Kelantan akhir-akhir ini memang benar-benar menyita perhatian publik. Kisah itu bak sebuah sinetron di dunia nyata yang membius masyarakat. Mulai dari drama tentang pemerkosaannya sebelum dipaksa menikah, KDRT yang dialaminya saat sudah menikah dengan Fachri, hingga usahanya untuk kabur dari sangkar emas kerajaan.
Ngomong-ngomong soal lagu Isabella ini, saya jadi teringat saat masih kecil dulu. Isabella aalah judul sebuah film yang sangat popular di waktu itu (1990). Ceritanya Isabella (Nia Zulkarnaen), gadis Indonesia yang tinggal di Malaysia, saling jatuh cinta dengan Amy (Amy Search), pemusik rock. Begitu melihat penampilan Amy, Isabella dilarang bergaul oleh orangtuanya (Robert Syarief, Ida Kusumah), yang terpengaruh oleh berita-berita kerusuhan akibat pertunjukan rock di Jakarta, Padahal diperlihatkan bahwa Amy juga rajin sembahyang. Mereka menganjurkan Isabella dengan Robby (Alan Nuari), yang tak disukai Bella. Tiba-tiba orangtua Bella dipindahkan ke Jakarta. Amy kelimpungan”. Hubungan telepon ke Jakarta dihalangi, dan soal ini juga sedikit menimbulkan ketegangan dengan kawan-kawan satu grup. Kedatangan ke Jakarta untuk memecahkan masalahnya dengan orangtua Bella tak berhasil. Soal baru selesai ketika Amy datang lagi untuk pertunjukan. Kebetulan Robby yang sebenarnya juga tak suka dijodoh-jodohkan dapat saran kawannya: mencoba memperkosa. Peristiwa yang ketahuan orangtua Bella, membuat mereka sadar bahwa perjodohan itu tak bisa diteruskan. Dari judul lagu Amy dan grupnya, earch, grup musik Malaysia, yang sangat populer pada masa itu.









Saat ketrima lulus dari SMA dan keterima di perguruan tinggi (terutama yang negeri)
Saat ospek, ternyata seniornya khurhang ajhar dan ther-lha-lhu (Bang Roma Mode ON)
Setelah ospek abis-abisan, aaah akhirnya selesai juga, Yipiiiiiiii
Sempet ditaksir ato bahkan naksir seseorang saat ospek, ada juga yang naksir senior (ceritanya cinlok githu).
Eh….. malah dicuekin ma doi, soalnya kita masih kliatan item, dekil, berdaki, dan model rambutnya kaya sikat sepatu (khusus yang cowok).
Untungnya, temen-temen kuliah banyak yang asik diajak nimbrung.
menjelang UAS (Ujian Akhir Semester), sante…. belande masih jauh….
saat membaca jadwal UAS, wencriiitttt… kenapa 2 pelajaran tiap hari??
7 hari sebelum UAS, bodo amat…molor aja ah
6 hari sebelum UAS, jeb ajeb-ajeb ajeb-ajeb
5 hari sebelum UAS, sambil kangen ama rumah
4 hari ssebelum uas, la la la la la
3 hari sebelum uas, chayo barca.. chayo
2 hari sebelum uas, tul jaenak jaejatul jaeji….
1 hari sebelum uas, what i’ve done…… i face my self
semalam sebelum uas, sistem kebut semalam (sks), kampret… tulisannya bayak baget
sejam sebelum uas, arghhhhh……
selama uas berlangsung
setelah uas, ancuuurrrr minaaaaa…. ga da yang bisa
libur semester tiba… bodo amat ah sama hasil UAS, yang penting libur / pulang kampung. Bebassssssssssss
Barusan saya dicurhati oleh seorang teman yang masih SD, tentang masalahnyanya (he he he he he masih temenan ma anak SD ya?). Dan tau nggak masalahnya apa? Masalah percintaan cing. Ih Waw… anak sd jaman sekarang ya…. Yang disebut masalah itu pasti hubungannya dengan lawan jenis. Coba bandingkan dulu dengan masa saya, yang namanya masalah adalah ketika tidak sempat nonton Kstaria Baja Hitam atau Siluman Ular Putih. Karena kalo sampe ga nonton, pasti besoknya bakalan minder soalnya ga bisa nimbrung untuk cerita. Walhasil terkucilkan deh…. Hu hu hu hu…






























]




Nama adalah doa. Itu yang sering disampaikan orang tua pada saya. Sehingga sebisa mungkin saya selalu mengenalkan diri saya dengan nama asli. Namun ada sebuah fenomena menarik terkait dengan nama itu sendiri. Akhir-akhir ini seiring dengan berkembangnya zaman, orang-orang jadi lebih suka memakai nama samaran sebagai sarana mengekspresikan dirinya. Sebenarnya sih tidak masalah juga kalau mereka pakai nama palsu. Toh itu juga haknya. Tapi kejadian ini justru menunjukkan banyak dari kita yang tidak pe-de dengan diri kita.


Komentar Terakhir