Beranda > nostalgia > API dan Sebuah Kisah Tentang Anak-Anak SMP nan Cupu

API dan Sebuah Kisah Tentang Anak-Anak SMP nan Cupu

Pernah smp khan? Masa-masa dimana banyak dari kita belum mengenal diri kita. Karena bingung tentang jati diri itulah kita sering bertingkah aneh-aneh. Wajar khan namanya orang puber.

Masa di smp yang paling mengena dalam ingatan saya adalah ktika kelas 3. Saya dan beberapa anak lainnya yang termasuk kalangan tidak poluler, terpinggirkan, dan cupu habis-habisan akhirnya berikrar untuk bertanah air satu, berbangsa satu dan berbahasa satu bahasa jawa. Sehingga terbentuklah sebuah perkumpulan yang terdiri dari saya, Agi, Ega, Rahardian, Doni, Munir, Bagus Peyek, Sandy, dan Yhayan.

Nama perkumpulan kami adalah API. Dilihat dari namanya sekilas tampak garang dan ciamik. Tapi kalau dibedah kepanjangannya maka yang didapat adalah sebuah kebodohan abadi. API merupakan kepanjangan dari Angkatan Porong Indonesia. Entah bagaimana ceritanya kami dapat ide untuk mencantumkan nama Porong (Tempat orang sakit jiwa). Herannya kami bangga  memiliki predikat seperti itu.

Peristiwa yang jadi sebuah hal paling menggelikan adalah saat ebta praktek. Sebenarnya guru kesenian kami pada saat itu memberikan opsi untuk memilih menampilkan seni musik ataukah tari. Kebanyakan anak cowok di kelas kami bahkan mungkin di smp lebih memilih musik. Alasannya kalo musik itu lebih menunjukkan prestige di hadapan para kaum hawa. Sedang para cewek lebih memilih tari karena tentu saja mereka dikaruniai tubuh yang gemulai untuk melakukan seni tari.

Namun lain ceritanya bagi kelompok API. Perkumpulan ini berisikan sembilan remaja yang begitu miskin bakat. Jangankan mau main musik atau menyanyi, ngomong saja kami fals minta ampun. Daripada mengorbankan telinga para pendengar akhirnya kami memutuskan untuk bermurah hati memilih seni tari. Bu guru kesenian pun cukup kaget awalnya mendengar keputusan kami. Dia sepertinya tidak yakin dengan penampilan kami yang tidak layak jual dan tidak layak lihat.

Karena diremehkan habis-habisan akhirnya kami bertekad untuk membalik pandangan dunia. Kami merencanakan sebuah pertunjukkan spektakuler yang mungkin tidak ada tandingannya di sejarah seni SMP 3 Malang. Maka terciptalah sebuah cabaret monumental berjudul “Pahlawan Bertopeng”. Idenya diambil dari karakter pahlawan bertopeng yang ada di Shinchan. Sedang konsep cerita kami buat sederhana, minimalis, tapi mengena. Kami ingin pesan moral yang ada dalam cerita tersampaikan betul. Bahwa kebenaran selalu mengalahkan kejahatan (lebay…lebay).

Agar lebih spektakuler kami gunakan lagu-lagu Sherina di film Petualangan Sherina seperti “Jagoan” dan “Kertaredjasa”. Untuk casting, Yhayan sebagai Pahlawan bertopeng, saya sebagai Kertaredjasa, Rahardian dan Munir sebagai anak buah saya, sedang Dhoni, Bagus, Ega, Sandy dan Agi sebagai rakyat yang tertindas.

Pemilihan kostum kami rasa juga sudah cukup mewakili karakter. Terutama pada Pahlawan Bertopeng yang harus pinjem topeng dari adiknya Bagus yang masih tk. Dan agar lebih Indonesia kami tambahkan sarung sebagai slempang. Tapi setelah lama di lihat kok malah mirip boneka si unyil??????

Hari pertunjukan pun akhirnya tiba. Kami bersembilan begitu berdebar-debar. Di luar dugaan ternyata anak dari kelas lain yang menonton ebta praktek kelasku begitu banyak. Mungkin ini tak lepas dari factor Iyung (temen baik SMAku) yang cukup menjadi cowok populer pada saat itu, dan juga Inez si kembang kelas. Tapi walau dilanda rasa grogi yang begitu luar biasa kami tetap percaya diri saat nama kelompok kami dipanggil untuk menunjukkan karya seni kami. Apapun yang terjadi kami harus tampil dan membalikkan mata dunia tentang kecupuan kami.

Langkah demi langkah dirasakan para pemeran rakyat jelata di adegan pertama. Namun seiring dengan sambutan penonton yang cukup positif, akhirnya kami mulai bermain lepas. Suasana tambah meriah saat saya sebagai antagonis Kertaredjasa muncul dan memporak-porandakan desa rakyat jelata. Alunan musik “Namaku Kertaredjasa… Aku bukan orang biasa..” semakin membuat cerita begitu surprise. Apalagi saya, Rahardian, dan Munir menari begitu kompak bak seorang gangster di film Kungfu Hustle (saat itu belum ada) ketika theme song Kertaredjasa itu dilantunkan. Setelah sang Kertaredjasa menguasai desa, para rakyak jelata pun harus melarikan diri.

Di adegan selanjutnya para rakyat jelata yang melarikan diri bertemu dengan seorang Pahlawan Bertopeng (Yhayan). Yhayan cukup apik membawakan karakter ini. Wajahnya yang sering tampak lemas itu alhamdulillah tertutupi topeng power rangers milik adik si Bagus Peyek. Dan dalam adegan itu pula Pahlawan bertopeng dengan sigap memberi penduduk desa yang sudah lemas Ekstra Joss. Setelah minum tiba-tiba theme song Ekstra Joss berkumandang. Pahlawan bertopeng dengan rakyat jelata segera mengambil ancang-ancang untuk menari. Dengan semangat 45 mereka menari begitu luar biasa. Saat inilah saya mulai terharu karena saya melihat para penonton yang juga banyak dari kelas lain begitu antusias menyaksikan karya seni yang disuguhkan oleh anak-anak cupu ini.

Pada adegan ketiga atau adegan terakhir, klimaks dari epik pertarungan baik dan jahat yang kami bawakan dalam cabaret, akhirnya muncul. Penonton pun begitu menikmati. Kali ini lagu yang muncul adalah lagu Sherina “Jagoan”. Lagu ini pas dengan adegan ini karena ceritanya sang penjahat sedang olok-olokan dengan Pahlawan bertopeng dan rakyat jelata sebelum bertarung habis-habisan. Dan setelah lagu itu usai akhirnya pertarungan terakhir pun terjadi. Dan bisa ditebak bahwa Pahlawan bertopeng bisa menang.

Pada saat pertunjukan usai tiba-tiba terdengar riuh suara tepuk tangan penonton. Hal yang tidak kami duga sebelumnya. Tuhan seperti memberi pelajaran bahwa siapapun engkau ketika kau mau bangkit dan berkreasi maka kau akan mendapatkan sesuatu yang luar biasa. Bahkan pertnjukkan kami cukup mengena di murid-murid lainnya. Ada beberapa anak dari kelas lain yang saya tidak tau namanya, tiba-tiba menirukan gaya saya dalam menari ala Kertaredjasa, ketika kami lewat di depan mereka. Dan itu tidak saya jumpai sekali dua kali. Tapi sering.

Saat ini teman-teman API yang masih menjalin kontak dengan saya adalah Agi dan Yhayan. Kalau Donny kami sempat satu kampus tapi beda kelas. Yang jelas saat itu memang menjadi sebuah momen paling heboh menurut saya pada waktu SMP.

NB : Cerita ini telah mengalami proses dramatisasi… tapi tenang masih dalam koridor Based on the true Story

Kategori:nostalgia
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: