Beranda > Indonesia > Yang Terlupa Dari Negaraku

Yang Terlupa Dari Negaraku

Seperti biasa, perayaan HUT RI selalu saja dilewati dengan berbagai lomba di sana-sini. Tapi entah kenapa saya merasa lomba-lomba yang diadakan semakin ngaco dan malah menjauhkan kita dari kemegahan sebuah bangsa. Lomba sepak bola pakai daster lah, dandan ala bencong lah, balap karung lah, dll. Lagu-lagu yang dipakai untuk mengiringi lomba pun bukan lagi lagu perjuangan seperti “Hari Merdeka”, “Maju Tak Gentar”, “Halo-Halo Bandung” atau “Garuda Pancasila”. Lagu-lagu fenomenal itu telah tergantikan dengan lagu band2 cengeng yang tak bermutu.

Saya semakin tak respek dengan cara kita merayakan 17an saat melihat pentas di dekat rumah di isi dengan pentas-pentas dangdut erotis. Penontonnya pun tak kalah brengsek. Melihat pertunjukan sambil menenggak minuman laknat dan ketika sudah mabuk mereka bikin rusuh.

Ketika mencoba mengkritik dan menawarkan pemikiran selalu saja mereka menolak dan berujar, ini hanya untuk senang-senang lah, pemerintah ga ngelarang lah, hak berekspresi lah.

Alhasil daripada emosi melihat kelakuan bejat, saya hanya mengurung diri sambil erenungi puisi Chairil Anwar :

Kerawang-Bekasi

Kami yang kini terbaring antara Kerawang-Bekasi

tidak bisa berteriak ‘Merdeka’ dan angkat senjata lagi

Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,

terbayang kami maju dan berdegap hati?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi

Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kami mati muda. Yang tinggal hanyalah tulang diliputi debu

Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa

Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa

Kami sudah beri kami punya jiwa

Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan

Tapi adalah kepunyaanmu

Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan,

kemenangan dan harapan

atau tidak untuk apa-apa

Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata

Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi

Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami

Teruskan, teruskanlah jiwa kami

Menjaga Bung Karno

Menjaga Bung Hatta

Menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat

Berilah kami arti

Berjagalah terus di garis batas kenyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami

Yang tinggal tulang-tulang diliputi debu

Beribu kami terbaring antara Kerawang-Bekasi

Andai mereka yang telah mati demi negara ini bisa hidup lagi, mungkin kita hanya bisa tertunduk malu karena membiarkan apa yang mereka perjuangkan…. perlahan jadi sesuatu yang tak berarti.

Tapi bagaimanapun inilah bangsaku…. apapun itu inilah negaraku. Hitam atau putih, Indonesia tetap didadaku.

Selamat Hari Keerdekaan!

  1. Agustus 19, 2009 pukul 2:46 pm

    huffttt,, moral negara kita makin terpuruk saja..
    jangankan orang dewasa, anak-anak indonesia kini lebih senang bernyanyi yg tidak sepantasnya mereka nyanyikan. ckck..ckckck…ckckck.
    sedih sya mendengarnya,,, sungguh berbeda sekali ketika saya masih anak2..😦

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: