Beranda > fenomena, Indonesia, olahraga, sepak bola, serba-serbi, unik > Hendri Mulyadi, Sang Super Star Baru Sepak Bola Nasional

Hendri Mulyadi, Sang Super Star Baru Sepak Bola Nasional

Saya dan mungkin kebanyakan anda mungkin adalah termasuk orang yang paling jengkel saat melihat penampilan Tim Nasional petang kemarin. Melawan Oman yang notabene baru dua kali masuk Piala Asia, Ponaryo cs dihajar 2-1 dihadapan publik sendiri. Bahkan dilihat dari kualitas permainan, Timnas Oman tampil lebih garang dan Ciamik. Tusukan dari segala lini dan umpan-umpan pendek yang diperagakan begitu cepat dan akurat, acapkali membuat bek timnas kita kelimpungan.

Karena dapat feeling timnas bakalan dipermalukan, saya pun mengganti channel TV ke TV One untuk mengikuti berita nasional. Namun sayang gara-gara tindakan itu, saya jadi tidak menyaksikan sebuah peristiwa luar biasa di Gelora Bung Karno.

Berikut ini kronologis kejadian yang saya kutip dari detik.com. Publik Stadion Utama Gelora Bung Karno tengah tertunduk lesu saat laga Indonesia vs Oman masuk masa injury time dan skor menunjuk angka 1-2 untuk keunggulan tim tamu. Soalnya, kekalahan dalam laga tersebut akan membuat Indonesia untuk kali pertama sejak 1996 gagal lolos ke Piala Asia.

Namun sebelum peluit panjang dibunyikan wasit, publik GBK dan jutaan pemirsa yang menyaksikan tayangan langsung ditelevisi dibuat tersenyum menyusul masuknya seorang suporter ke dalam lapangan. Pria yang kemudian diketahui bernama Hendri Mulyadi itu sempat beberapa lama menggiring bola dan mencoba menjebol gawang Oman.

Mungkin awalnya aksi tersebut hanya dianggap sebagai aksi iseng suporter Indonesia, yang memang terkenal sering berulah. Namun belakangan diketahui kalau tindakan pemuda 20 tahun itu merupakan bentuk kekesalan dan kekecewaan atas performa pasukan ‘Merah Putih’ yang tak kunjung berprestasi dan sering tampil buruk (termasuk dalam laga semalam).

Simpati pada Hendri Mulyadi pun berdatangan. Salah satunya dari komentar pembaca dari berita yang dimuat detiksport malam tadi dengan judul  ‘Saya Masuk Lapangan Karena Kecewa Timnas’. Hampir seluruh komentar yang masuk dalam berita tersebut memberikan dukungan pada warga asal Cikarang Selatan, Bekasi itu.

Hendri bahkan dianggap seperti pahlawan yang berani mendobrak kekesalan terhadap kepengurusan PSSI, yang menjadi pihak bertanggung jawab atas buruknya prestasi tim nasional sepakbola Indonesia.

Hendri yang sebelum melakukan aksi nekatnya bukan siapa-siapa, kini berubah menjadi pahlawan di mata pecinta sepakbola nasional. Bahkan di facebook beberapa group yang terkait dengan fenomena Hendri mulai bermunculan. Lebih edannya ada yang mengusulkan untuk mengajukan Hendri Mulyadi sebagai ketua umum PSSI menggantikan si Kriminil yang kini tengah menjabat.

Pada akhirnya peristiwa Hendri kembali menggelitik otak saya untuk bertanya, apa yang sebenarnya salah dalam persepakbolaan nasional. Apakah karena dana pembinaan yang tidak cukup? Belum baiknya Liga Indonesia sebagai kawah candradimuko pesepakbola Indonesia? Fisik orang indonesia yang kecil? Indonesia tidak punya sejarah sepak bola? Atau pembinaan yang asal-asalan?

Jawabannya bisa jadi iya, tapi bisa jadi tidak. Soal kurangnya dana, saya kira tidak. Anggaran untuk sepakbola ini termasuk paling gila. Bahkan di beberapa daerah, anggaran dana cabang olahraga lain harus rela dipangkas habis-habisan demi membiayai tim lokal. Gaji pesepakbola nasional juga cukupan besar. Bahkan tak jarang pemain asing mengadu nasip di sini, karena memang duitnya lumayan.

Untuk soal liga, itu juga bukan faktor penentu sebuah negara punya taji di pentas dunia. Vietnam, Myanmar, dan Laos yang liganya asal-asalan malah dengan gesit menyalip kita.

Kalau soal fisik, saya kira juga ga ngaruh-ngaruh amat. Argentina buktinya. Tim Tanggo besutan sang Maradonna itu dihuni oleh pemain-pemain yang tingginya kebanyakan sekitar 169cm.

Lalu bagaimana dengan sejarah. Indonesia tidak punya sejarah sepakbola. Begitupula dengan Yunani. Toh mereka jadi kampiun di Euro 2004 mengkandaskan Portugal dan generasi emasnya.

Yang terakhir soal pembinaan. No comment deh kayaknya. Negara-negara di Afrika pembinaannya juga sama kacaunya. Tapi tetep mereka maut kalo urusan sepakbola.

Jadi apa kalau begitu??? Daripada kita bingung menanyakan itu semua lebih baik kita belajar dari Hendri. Dia berfikir setiap orang yang mengenakan Garuda di Dadanya sudah selayaknya berjuang dengan segenap jiwa raga untuk menjaga kehormatan sang Garuda. Garuda adalah simbol dan kebanggan negara. Kalo memang punggawa dan semua yang terkait dengan timnas tidak mampu mengapresiasinya, mungkin pemain ke-12 seperti Hendri akan muncul dan mengajari kita apa itu namanya membela negara lewat sepakbola.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: