Beranda > fenomena, gaya hidup, sekitar kita > KEBIASAAN PEJABAT BUSUK YANG SERING KITA LAKUKAN

KEBIASAAN PEJABAT BUSUK YANG SERING KITA LAKUKAN

“Anggota dewan kerjanya Cuma tidur dan ngehabisin duit rakyat”

“Pejabat bisanya foya-foya, gak punya empati sama orang kecil tah?”

“Pejabat itu maling…. Mereka suka mencuri duit rakyat. Tapi enaknya gak pernah dihukum”

“Enak bener jadi anggota d(h)ewan… bisa main perempuan seenaknya”

Itulah kata-kata yang bisa jadi sering kita dengar, ketika kebanyakan orang ditanya apa yang mereka pikirkan soal pejabat. Bahkan kalau mau ditulis, makian-makian pada para pejabat itu bisa setebal buku kamus. Namun suka atau tidak, itulah faktanya. Sebagian besar (tidak semuanya) pejabat memang belum bisa menempatkan diri sebagaimana mestinya. Tak jarang jabatan itu dipergunakan untuk menjadi raja atau bahkan Tuhan baru bagi manusia yang lebih lemah darinya. Demokrasi pun jadi alat efektif bagi mereka untuk meloloskan apa yang disebut hukum rimba.

Nah… suatu saat di warung STMJ langganan, saya sedang asik berbincang dengan teman baik. Temanyapun bermacam-macam. Namun entah kenapa saat itu saya sedang semangat-semangatnya membicarakan soal tingkah laku pejabat negara kita tercinta ini. Maklum, momennya pas dengan Century yang kebetulan sama angetnya dengan STMJ Coklat pesanan saya.

Panjang lebar saya caci maki mulai dari anggota dewan, menteri, pengacara, jaksa, bahkan paling nekat PRESIDEN cing. Dan dengan bahasa yang rada tinggi bin njlimet, saya sepertinya layak juga diundang TV ONE dan Metro TV jadi nara sumber he he he he. Sampai kadang-kadang saya sendiri bingung ngomong apa?

Sementara saya ngomong panjang lebar dan berbusa, teman saya hanya mendengar dengan seksama sembari sesekali menyantap potongan roti bakar telur dihadapannya. Awalnya saya sih lanjut dengan ocehan. Namun lama-lama ngomong rahang pun jadi kram. Berhenti deh celotehannya.

Melihat saya kecapekan, teman saya lalu ganti bicara. “Sudah tah…? BTW dari tutur katamu yang sudah mirip Imam Prasojo (Sosiolog) tadi, secara sederhana apa saja dosa pejabat kita?”

Sambil garuk-garuk saya mikir bentar. Memang sih, terkadang kalau kita pakai bahasa langitan lalu ditanya pertanyaan simpel suka gak mudeng sendiri. Tapi bagaimana lagi, sudah kepalang basah sok-sokan pinter. Gengsi donk (ala warkop).

“Tidak jujur, suka korupsi, tidak amanah, suka berkhianat (obral janji doank), empati terhadap masyarakat kurang, gila popularitas, umbar nafsu birahi….. sementara itu deh,” ujar saya.

“Weleh kalau dipikir berarti jadi pejabat jaminan neraka dong???” teman saya balik bertanya sambil mengernyitkan dahi.

“Ya kalo jaminan gak juga sih. Tapi 90% mungkin iya….”

“Hmmm….. ok-lah kalau kamu berpendapat begitu. Tapi sebenernya yang jadi ganjalanku, apakah ‘dosa turunan ‘ pejabat itu juga berlaku pada kita?”

“Maksudmu..???”

“Ya apakah harus jadi pejabat dulu baru mendapat bisa melakukan hal-hal terkutuk yang kau katakan plus bonus dosanya sekalian?”. Pertanyaannya mulai kritis

“Bukannya begitu sih, tapi khan ya mereka itu pejabat. Mbok ya sadar. Lagian kalau pejabat kan merugikan banyak orang. Contoh uang yang diambil bisa sampai tirliunan. Beda sama tukang copet cing… paling maksimal kalo nyopet kita-kita dapetnya cuman 50ribu”, sanggah saya.

“Berarti, mencuri atau berbuat dosa itu boleh asalkan sedikit dan merugikan, ya minimal satu orang saja?”

“Nggg…” saya pun mulai tidak bisa berkata-kata.

Teman saya pun melanjutkan perkataanya, “Aku terkadang sangat heran dengan apa yang terjadi pada kita yang mengaku manusia. Sebuah tindak kejahatan kita lakukan dengan landasan bahwa orang lain juga melakukan tindakan yang sama. Kejahatan-kejahatan kecil kita anggap lumrah. Hanya yang jadi masalah, terkadang sebagai manusia kita lupa. Bahwa manusia diciptakan untuk memiliki kecenderungan. Kecenderungan itulah yang membuat kita tak mampu menilai berapa nilai koefisien besar kecil itu”.

Mulai lah sohib dekat saya itu mengeluarkan pemikiran-pemikiran religius, sosial, sekaligus dibumbuhi pedoman teknik (maklum jebolan teknik).

1. Yang pertama, pejabat tidak jujur pada rakyat. Persoalannya apakah kita selalu jujur dengan teman, ortu, dosen, bos di temat kerja, atau pasangan. Lihat aja kalau telat kerja ngomong ke bosnya pasi antara macet, ban meletus, atau kehabisan bensin. Padahal kesiangan karena nonton bola tengah malem. Itu belum lagi kalau ditambah soal mencotek dan njiplak skripsi

2. Kasus kedua, Saat kita menganggap korupsi uang rakyat untuk kepentingan pribadi apakah beda dengan kita yang dulu juga pernah jadi mahasiswa lalu memakai uang dari orang tua yang sebenernya untuk kuliah, tapi dipake PS-an lah, nge-mall lah, CS-an lah (kalo sekarang PB), pacaran lah. Bahkan untuk yang terakhir ini ironi banget. Anak cewek orang, punya kiriman dari orang tuanya sendiri, bahkan tak jarang kiriman ortu si cewek lebih gedhe dari punya kita. Eh mau-maunya kita pake uang kiriman kita untuk memodali tuh cewek yang belum 100% jadi istri ntar. Trus yang kita lakukan apa bedanya dengan seorang koruptor yang lihai dalam berpolitik untuk mendapatkan modal demi keuntungan individu?

3. Kasus ketiga, soal anggota dewan yang gak amanah karena tidur pas sidang. Gak usah jauh-jauh anggota dewan, brur. Di kelas kita aja banyak tidur pas jam kuliah. Kalo pun melek paling sms-an ato facebook-an. Padahal itu bilangnya ke orang tua kuliah loh ya (Untuk yang ketiga ini bikin telinga saya panas. Pasalnya saya sering banget begitu… :D).

4. Soal berikutnya ini saya ane demen… Perkara obral janji. Ini khusus laki-laki, brapa banyak dulu kaum kita yang mendapatkan ceweknya dengan berjanji setia selamanya sesaat sebelum janjian? Ajaibnya setelah janji setia, pada mupeng kalau liat cewek bahenol lewat. Selingkuh mungkin bentuk penghianatan tertinggi saat berhubungan. Namun ngomongin cewek lain saat nongkrong bersama teman, apalagi dengan kecenderungan mengikutsertakan birahi juga bisa dimasukkan dalam kaegori selingkuh. Pertanyaannya apa beda kita dengan ereka yang duduk empuk di gedung parlemen?”

5. Dan masalah empati terhadap masyarakat sekitar, saya malah miris kalau kita menyalahkan para pejabat saja. Bukankah hilangnya empati sering muncul justru di tempat yang banyak kaum intelektualnya. Atau dengan kata lain kampus menjadikan perilaku ini tumbuh subur. Contoh paling serderhana lihat saja di sekertariat bersama. Satu sekertariat dengan sekertariat lainnya sudah mirip kaya pedagang VCD bajakan di pasar besar. Satu sama lainnya berlomba untuk besar-besaran volume speaker. Yang jadi korban mahasiswa atau orang yang kebetulan ada di sekitar situ. Sumpeg denger suara gedebuk-gedebuk gedumbrang gak jelas model begitu. Kalau diingetin susahnya minta ampun. Padahal kalau demo soal SKPP Soeharo, Century, ato Lapindo kayaknya kerasnya bukan main tuh. Tapi hal simpel justru belum bisa melakukan dengan baik”

6. Untuk gila popularitas, ak usah nunggu jadi pejabat kaleee…. Di facebook kau akan menjumpai bahwa betapa hausnya kita akan popularitas. Gak usah ngomong soal ALAY. Yang merasa gak ALAY pun kadang malah lebih ALAY.”

7. Terakhir soal umbar nafsu birahi. Kalau hanya pejabat yang melakukan, mungkin negara kita tidak akan masuk menjadi salah satu negara dengan pengakses situs porno dunia. Di sisi lain kebebasan dalam pergaulan remaja tak lagi bisa dibendung. Free Sex telah menjadi gaya hidup yang menurut mereka boleh dilakukan lagi-lagi atas dasar kebebasan berekspresi.

Kawan…. Bukan berarti aku tak setuju kalau pejabat dengan perilaku busuk itu ditindak. Malah bagiku itu adalah sebuah tindakan mendesak yang harus segera diambil. Namun kita juga tidak boleh menutup mata, bahwa perilaku pejabat tadi hanyalah akibat dari kondisi sosial masyarakat kita. Kenapa aku sebut akibat, tak lain karena mereka juga berasal dari masyarakat biasa. Bukankah beberapa petinggi partai, pejabat, dan anggota dewan itu dulu aktivis di masanya. Ngomong soal idealisme dan perjuangan turun ke jalan, boleh jadi mereka jauh lebih hebat dari masa kita sekarang. Namun apakah dengan idealisme dan kemampuan mereka di masa itu akan terus menjaga mereka dari perilaku menyimpang.

Ada sebuah kekhawatiran dariku bahwa sesungguhnya kitalah yang membentuk pejabat busuk itu. Demokrasi yang kita adopsi mentah-mentah sayangnya tak kita selaraskan dengan apa yang menjadi ciri khas budaya bangsa ini. Dalam sistem itu kita menganut siapa yang banyak itulah yang menang. Hasilnya… bukankah banyak dari kita yang lebih memilih jalan yang kita anggap buruk. Bahkan kita sedniri menganggapnya sebagai kebiasaan yang lumrah.

Ibarat sebuah sistem yang membentuk sebuah pohon, maka bisa di analogikan bahwa apabila akar pohon itu menyerap saripati yang baik, maka akan tumbuh buah yang baik. Namun saat akar itu menyerap saripati yang buruk, maka pohon itu tak berbuah tapi busuk. Dan lebih parah lagi tak berbuah sama sekali. Ini menjadi renungan untukku, untukmu, dan bagi siapapun.”

Uraian dari sahabat terbaikku itu membuatku enggan untuk mengoceh lagi. Yah itu adalah uraian yang suit disanggah. Sebuah lingkaran setan yang tak berujung kecuali ada yang mau memutusnya. Di satu sisi kita muak dengan perilaku (sebagian besar) pemimpin negara ini yang busuk. Tapi di satu sisi kita dihadapkan pada kenyataan bahwa ternyata kita berperilaku sama busuknya dengan mereka.

  1. Juni 12, 2010 pukul 7:19 pm

    mari kita mencoba untuk mengintrospeksi diri kita masing2..
    semoga kita dijauhkan dari semua hal2 tersebut..

    salam kenla ya..

    • Alfan F
      Juni 13, 2010 pukul 4:31 am

      sama-sama… semoga bermanfaat

  2. Januari 23, 2012 pukul 4:26 pm

    nice gan.. memang kita hrus sering2 introspeksi.
    btw, ijin share ya..

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: