Beranda > gaya hidup, roman, Tentang saya, tips > JOMBLO Chapter 1 : Berdamai Dengan Kesendirian

JOMBLO Chapter 1 : Berdamai Dengan Kesendirian

Definisi Jomblo

Kebanyakan orang menganggap bahwa Jomblo adalah kondisi yang menunjukkan bahwa seseorang itu tanpa kekasih. Di sisi lain ada yang mengartikan Jomblo dengan kalimat yang lebih ‘gagah’, bahwa Jomblo adalah orang yang bebas dan tanpa ikatan. Yang jelas bagaimanapun bentuk kalimatnya, Jomblo pada intinya merujuk pada kesendirian.

Jomblo adalah sebuah kata yang paling dihindari oleh sebagian besar masyarakat modern. Bagi mereka Jomblo merupakan penyakit yang mungkin lebih hina daripada (maaf) kusta. Gara-gara Jomblo orang bisa nekat mengakhiri hidup, gara-gara Jomblo orang bisa hilang akal dan kewarasan, dan gara-gara Jomblo orang bisa mendapat fitnah terkeji. Sungguh menyakitkan…. Apalagi bagi kita yang menyandang status ini sekarang. Seolah-olah kita merasa telah lahir pada zaman yang salah. Zaman yang tidak mengizinkan kita untuk menjadi diri sendiri. Zaman yang tidak mentolelir kekurangan yang diakibatkan karena persepsi mayoritas mendepak kita lingkungan mereka.

Namun…. Show Must Go On! Jomblo memang bisa menjadi musibah yang menyakitkan, tapi dengan sedikit kemauan status ini justru mendekatkan para penyandangnya pada tingkat yang lebih tinggi. Yah…. Ibarat Dare Devil atau Si Buta Dari Goa Hantu yang memanfaatkan kebutannya untuk menjadi kuat, maka Jomblo pun bisa merubah kondisinya menjadi sesuatu yang luar biasa.

JOMBLO MUSIBAH ATAU BERKAH?

Jomblo ini musibah atau berkah? Inilah pertanyaan yang sering dilontarkan para Jombloers. Dan jawabannya kembali pada bagaimana kita menyikapi ke-jombloa-an ini. Kalo misalnya… misalnya loh ini, udah jomblo karena muka berantakan, duwit ga seberapa, minim bakat dan prestasi, serta kerjanya mengeluh dan meratap sampai termehek-mehek maka dengan mantap kita masukkan Jomblo model begini sebagai musibah. Kelas berat malah….

Agar tidak terjerumus dalam kesengsaraan akibat Jomblo, kita perlu berdamai dengan kondisi ini. Dengan kata lain kita sedang “BERDAMAI DENGAN KESENDIRIAN”. Kesendirian tidak selamanya buruk. Dalam situasi ini kita bisa mencoba untuk menenangkan jiwa yang bergejolak. Dalam kesendirian pula kita bisa mengenal kembali siapa diri kita dan apa sebenarnya tujuan hidup kita yang hakiki.

Dalam kesendirian, otak dipaksa untuk berfikir lebih keras. Berfikir bagaimana kita menjadikan diri kita jauh lebih berarti untuk orang-orang yang kita kenal.

Dalam kesendirian pula, hati kita asah agar lebih tajam. Tajam dalam menangkap kalau masih banyak orang-orang disekitar kita yang kita acuhkan, padahal mereka sangat membutuhkan perhatian dari kita.

Dalam sebuah artikel Jomblo juga disamakan dengan gencatan senjata dimana kita mengatur siasat, meramalkan peluang, dan mengoptimalkan potensi yang kita miliki. Tujuannya bukan untuk menaklukkan gadis/pria idaman. Tapi tujuan kita bagaimana dengan kesendirian itu kita menemukan bentuk dan karakter terbaik kita. Sehingga kita datang pada sang dambaan hati bukan sebagai “pengemis cinta”. Tapi sebagai “penakluk”, sebagaimana Raja Sulaiman menaklukkan Ratu Bilqist.

(Bersambung Kapan-Kapan)

  1. Oktober 2, 2010 pukul 2:53 am

    Saya lebih suka sebutan ‘single’ daripada jomblo. Kesannya jomblo itu orang yg pasrah sm nasib, tp klo single itu memang kita memilih utk sendiri dulu🙂

    • Alfan F
      Oktober 3, 2010 pukul 6:33 am

      He he he he…. Jomblo is jomblo kalo kata temen ane. Mw single karena nasib ato singgel karena pilihan… Maka orang2 macam kita disebut Jomblo di masyarakat.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: