Beranda > Tentang saya > Romansa Tali Jemuran

Romansa Tali Jemuran

Bibi Lung di Return Of The Condor heros

Melihat seutas tali jemuran yang terpampang di depan rumah, tiba-tiba saya teringat seseorang. Seseorang yang merubah hatiku, seseorang membuat kami satu,  slalu menyatu beban kecewa, tapi tak ragu kan berakhir…. Wait!!! Knapa kegalauan ini melibatkan lirik lagu Yuni Shara? Apa selera saya jadi suka emak-emak… tidaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak.

Fokus…fokus…. Kita sedang tidak membicarakan Yuni Shara apalagi Rafi Ahmad. Amit-amit jabang beybeh deh. Tapi kita sedang membicarakan seseorang dengan tali jemuran tadi. Hah… Bukaaaannn!!!! Kalau anda berfikiran dia adalah pembantu, saya tekankan, bukan! Siapa tadi yang bicara??? Tak sumpahin beser ntar.

Kembali ke topik savalas… eh topik awal. Tali jemuran ini mengingatkan saya pada Bibi Lung, atau lebih tepatnya Siao Lung Lie. Dia adalah karakter wanita utama di Return Of The Condor Heroes (ROCH) alias Kembalinya Pendekar Pemanah Rajawali.

Pertanyannya sekarang apa hubungannya Bibi Lung ini dengan tali jemuran? Gini sob, Bibi Lung ini digambarkan dalam cerita adalah seorang pendekar sakti dari aliran kuburan kuno (Stop! Gak usah mancing pertanyaan kuburan modern-nya gimana?). Doi itu cuantiknya gak ketulungan. Walaupun sudah berusia lanjut, tapi Bibi Lung masih terlihat berusia belasan tahun gara-gara ramuan/jurus rahasia alirannya. Meski Bibi Lung ini cantik, imut, dan bersahaja tapi jangan kira dia wanita yang lemah. Dia punya ilmu kungfu yang ciamik. Saking ciamiknya dia bahkan bisa tidur diatas seutas tali. Nah seutas tali inilah yang mirip tali jemuran *manggut-manggut*.

Apapun yang ada dalam diri Siao Lung Li telah membuat anak imut seperti saya (dulu… tahun 1997) jatuh hati. Saat itu Indosiar menayangkan ROCH versi ketiga yang dibintangi oleh Luois Koo dan Carman Lee. Walau versi keduanya (Andy Lau dan Idy Chan) jauh lebih populer, tapi saya lebih menyukai versi ini.

Bibi Lung yang diperankan Carman Lee inilah yang membuat anak polos nan menggemaskan (saya lagi maksudnya) di saat itu galau. Bagaimana tidak, saat makan teringat Bibi Lung, saat tidur teringat Bibi Lung, ngerjain PR-pun teringat Bibi Lung. Sampai-sampai saya jadi punya punya impian untuk punya kekasih yang tidak lain dan tidak bukan adalah guru saya sebagaimana Yoko dan Bibi Lung. Ganjil gak untuk otak anak SD?

Tapi impian saya itu gak mungkin Men. Gimana nggak, wong guru wanita saya sudah tuwir semua. Bahkan ada satu malah sudah sepuuuh banget. Saya agak lupa namanya. Tapi yang paling saya inget, saya pernah dijewer sama beliau. Gara-garanya waktu pagi saat beliau masuk kelas dan mengucapkan salam, “Selamat pagi anak-anak.” Semua siswa di kelas menjawab “Selamat pagi bu” kecuali seorang anak. Dan anak itu adalah saya. Saya menjawab, “Pagi mbaaaah…..”. Spontan saja ibu guru tadi mendatangi saya dan langsung main jewer. Mending kalo yang dijewer telinga. Ini jambang cuy. Kebayang gak sakitnya gimana?

Okelah, mari tinggalkan masa SD dengan kenangan pahit karena saya tidak berhasil menemuka Bibi Lung. Kini kita melompat ke 7 tahun setelah kejadian penarikan jambang tadi. Tepatnya di masa saya telah tumbuh besar menjadi mahasiswa teknik di Politeknik Negeri Malang.

Bagi yang pernah menjadi mahasiswa Teknik terutama yang di politeknik mungkin pernah merasakan perasaan yang sama dengan apa yang saya alami. Hidup kita kerasa hampa cuy. Sebabnya sangat jelas, mahasiswanya sebagian besar adalah cowok. Ok, itu memang bukan masalah buat yang demen sesama. Tapi bagi saya yang mendambakan pesona wanita, beda dooong (eh kita normal ya, awas ya ente bilang maho…yuuuu’).

Singkat cerita di kelas saya, cuman ada 4 cewek. Yang satu lumayan lah mukanya cuman saying punya Guk-Guk (istilah anak-anak poltek untuk menyebut pacar). Yang kedua rada lebay cuy, yang ketiga terlalu serius, dan yang keempat malah kaya cowok. Susah kan ga ada pemandangan yang asik.

Hingga suatu saat kelas saya sedang ada jadwal mata kuliah PANCASILA. Awalnya anak-anak di kelas males lah. Pikiran kami ngapain juga elektro disisipin matkul yang ga ada hubungannya dengan solder mensolder. Apalagi kita membayangkan saat itu kalo dosennya bakalan gak asik. Sebagai contoh ada yang membayangkan nih dosen pasti galak. Salah dikit kita dianggap pendukung gerakan sparatis dan teroris. Atau ada juga teman saya yang membayangkan kalo dosennya mirip kak seto yang ndongengin mahasiswanya dari a-z cerita-cerita yang dialami oleh kakek buyut kita di masa lampau. Zzzzzzzz.

Tapi men, kita semua salah besar. Dosen yang kita bayangkan dengan sosok janggal, ternyata lebih mirip Cinderella. Pertama kali melihat seolah ada angin yang membuat rambutnya terkibas layaknya di iklan sampo. Dan yang paling ajaib, tiba-tiba saja ada lagu Uptown Girl-nya Westlife pas doi masuk.

“Halo… ini bapak toh? Aku masih kuliah pak. Nanti tak hubungi lagi,” ujar salah seorang temanku. Kampreeet, ternyata back song lagu westlife tadi ringtone toh.

Kembali ke dosen cantik lagi. Sesampainya di depan kelas dia langsung memperkenalkan diri. Sebut saja namanya Bunga…. Jreng jreng….. Jangan bunga ah, kesannya baca berita cabul. Baik kita sebut saja namanya Joko… nah loh. Gak enak khan, perasaan langsung merinding disko. Oke terakhir kita sebut sosok satu ini dengan sebutan Bibi Lung. Kenapa, karena nih orang memang secakep dan seanggun Bibi Lung di ROCH…… sadaaaaaap. Lagian ngasih nama samaran tadi juga biar nyambung dengan topic awal ceritanya.

Bibi Lung masih 6 tahun lebih tua di usia rata-rata anak kelas saya. Tapi dia seolah jadi magnet perhatian tiap kali hadir. Saya dan teman-teman yang biasanya duduk paling belakang (biar bias ngorok atau baca komik) kalau pas matkul Pancasila pasti berubah haluan duduk paling depan. Walaupun saat menduduki bangku paling depan ini saya harus bersaing dengan puluhan orang lainnya. Sampai berdarah-darah malah. Jangan kaget deh kalau pas matkul Pancasila, pada saat itu ada selongsongan peluru, serpihan granat, anak panah yang berserakan, mayat yang bergelimpangan, dan tentu saja hati yang terluka…. Halah.

Pesona Bibi Lung ternyata tidak hanya mengundang kehebohan di kelas kami. Tapi juga di kelas-kelas lainnya bahkan di angkatan atas kami. Pernah suatu ketika ada kejadian gokil saat kelas saya bersama Bibi Lung menunggu giliran memakai sebuah ruangan kelas di depan Lab Elektro. Saat itu ada gerombolan kakak tingkat yang lewat di depan kami. Saya perhatikan ada seseorang yang jalannya agak meleng. Penyebabnya apa lagi kalau bukan gara-gara wajah cantik Bibi Lung. Saking nancepnya tuh mata mas kakak tingkat ke Bibi Lung, dia sampai gak sadar kalau satu meter ada got yang cukup gedhe. Belum sampai saya ngingetin mas-mas tadi eh… BYURRRRR. Si mas pun berkalang noda gara-gara nyebur di got yang isinya saat itu sedang penuh-penuhnya. Mana warna airnya item lagi.

Gelak tawa dari anak-anak kelas saya dan mahasiswa lain yang menonton kejadian tadi pun tak tertahankan. Si Mas yang kecebur tadi demi menghindari malu pun jadi sekalian pura-pura pingsan. Hina banget kan?

Bibi Lung walau sealu tampil anggun pas ngajar tapi punya kepribadian yang cukup ajaib di luar kampus. Saya sih pernah kepikiran doi orang yang feminin dan girly gitu deh. Namun lagi-lagi saya keliru. Karena saya pernah secara gak sengaja ketemu dia pas ke apotik. Dan hebatnya penampilannya jauh dari kesan cewek manis. Tau nggak dia pake apa? Celana pendek khas buat Backpacker dan kaos oblong dengan gambar tengkorak. Saya dan teman saya langsung melongo liat penampilan Bibi Lung. Manusia cantik satu ini memang bener-bener gak tertebak.

Tapi lagi-lagi ini dunia nyata bung, bukan serial kungfu. Harapan saya dan kedua teman saya si Erwin dan Micky yang sama-sama naksir bibi Lung bener-bener gak kesampaian. Sama-sama taulah… Wujud kita dekil, tingkah kita tengil, suka makan krikil pantesan Bibi Lung gak ngerespon walau kita sudah jungkir balik caper ke beliau.

Alhasil impian punya gebetan yang seperti Bibi Lung lagi-lagi harus saya tahan. Belum lagi si Micky teman saya ngasih info Bibi Lung sudah nikah. Sekarang kalo liat tali jadi jemuran suka nyesek….Galau tingkat provinsi. Kenapa Ya Allah…. Kenapaaaaa…….?

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: