Beranda > fenomena, Indonesia, Motivasi, religi, Renungan > Pahlawan dan Kita

Pahlawan dan Kita

Tribute to Pak Zuri

Pak Zuri

“Alhamdulillah, saya tunggu-tunggu mas,” ujar Pak Zuri. Dia tampak senang dengan kedatangan saya di rumah kecilnya.

“Maklum mas, mau saya buat beli Iqro’ untuk anak-anak TPQ. Lah mereka pada gak mampu beli sendiri,” imbuhnya.

Pak Zuri adalah seorang guru ngaji di wilayah Tumpang yang ikut program Insentif Bulanan Guru Quran (Ibuqu) yang diadakan oleh kantor saya, NH Malang. Tiap bulannya program ini memberikan uang sebesar Rp. 100.000,- pada para guru ngaji di Malang Raya seperti Pak Zuri. Hingga saat ini sudah sekitar 250 orang yang bergabung dalam Ibuqu.

“Santrinya Pak Zuri sekarang berapa pak,” tanyaku.

“Sekitar 100 anak mas”

“Semuanya bapak yang handle?”

“Iya mas, mau siapa lagi?”

“Wah, gak capek tuh pak? Kenapa tidak cari ustadz lain untuk bantu Pak Zuri,”

“Kalau cari orang lain saya mau bayar pakai apa mas? Wong anak-anak itu mengaji disini juga saya gratiskan, gak pake iuran. Ya, kalau mau ada yang bantu ngajar disini sih gak apa-apa, tapi syaratnya lillahita’ala,” jelas Pak Zuri.

Terus terang saya dibuat garuk-garuk kepala. Masih saja ada orang yang mau berbuat kebaikan untuk orang lain tanpa minta imbalan. Insentif dari NH saja seringkali dia gunakan untuk memenuhi kebutuhan belajar mengajar santrinya. Bukan untuk beli beras atau kebutuhan pribadinya.

Pak Zuri adalah salah satu contoh dari sekian banyak orang yang perannya besar di masyarakat namun sering terabaikan. Statusnya sebagai guru ngaji mungkin sangat remeh bagi kita. Tapi sesungguhnya orang-orang seperti Pak Zuri ini layak disebut pahlawan. Mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendekatan agama. Dan point terpentingnya, semua itu dilakukan tanpa pamrih. Tanpa mengharapkan imbalan berupa materi. Walaupun kondisi ekonomi pria asli Tumpang ini tidak bisa dikatakan cukup.

Pahlawan, apa itu arti pahlawan? Diambil dari bahasa Sansekerta, phala-wan, yang berarti orang yang dari dirinya menghasilkan buah (phala) yang berkualitas bagi bangsa, negara, dan agama. Dengan kata lain pahlawan bukan hanya mereka yang gugur di medan perang saat penjajahan saja. Tapi pahlawan adalah siapapun yang mau berbuat sesuatu untuk membangun bangsa.

Lalu bagaimana kalu kita berbuat. Berbuat sesuatu yang bisa merubah keadaan lebih baik. Bahasa maduranya, Let’s change the world. Dan ketika itu disampaikan maka kebanyakan jawaban kita adalah, “serius amat yaaaahhh”.

“Ciyus, miapah?”

“Ngrubah dunia? Ngerubah diri sendiri aja susah kalee”

“Saya cuma rakyat kecil”

“Saya cuma mahsiswa”

“Saya cuma pegawai biasa”

“Saya cuma ini, Saya cuma itu…..”

Itulah beberapa contoh jawaban kita untuk lari dari tanggung jawab. Kalau kata Nasional.Is.Me karangannya Pandji, kita terlalu sering merendahkan diri kita dengan kata cuma, susah, gak mungkin dan sejuta kalimat pesimis lainnya.

Sejarah mengajarkan pada kita bahwa “gak mungkin” kita menang lawan sekutu yang saat itu persenjatannya super canggih. Dan, ternyata kita bisa mempecundangi mereka tuh. Atau pikir lagi deh, apa mungkin 1128 suku bangsa bisa membentuk suatu negara kesatuan. Buktinya bisa tuh, Indonesia.

Siapapun dan apapun profesi kita, kita punya kesempatan yang sama untuk menjadi pahlawan. Pak Zuri orang dengan penghasilan minim saja bisa punya kontribusi besar untuk lingkungannya, kenapa kita tidak? Bayangkan kalau anda dosen, penghasilan anda mungkin sepuluh kali lipat penghasilan Pak Zuri. Belum lagi sumber daya di kampus itu melimpah ruah, baik dana maupun sumber daya inteleqtualnya. Apa itu masih kurang untuk memberikan sesuatu perubahan?

Pun sama dengan anda yang pegawai kantoran. Gaji anda tiap bulan dan akses anda dengan klien kantor, saya kira sudah bisa jadi modal yang cukup kuat untuk menghasilkan karya yang bisa dinikmati masyarakat.

Bahan kalau anda hanya mahasiswa sekalipun, tetap saja modal anda merubah kondisi lingkungan sosial tetap terbuka lebar. Jangan remehkan you punya otak dan tenaga hei mahasiswa.

Setiap orang dilahirkan untuk menjadi pahlawan. Sekarang pilihan ada pada kita. Apakah kita mau menggunakan potensi itu atau justru menyerah pada keadaan, lalu membuangnya begitu saja.

There’s a hero,
If you look inside your heart,
You don’t have to be afraid of what you are,
There’s an answer,
If you reach into your soul,
And the sorrow that you know will melt away.

(Hero – Mariah Carey)

Selamat Hari Pahlawan, Kawan!

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: