Beranda > Film > 5 cm : Menjelajah Impian di Puncak Semeru

5 cm : Menjelajah Impian di Puncak Semeru

PROLOG

12-12-12 alias Dua belas desember dua ribu dua belas. Tanggal cantik, dimana banyak orang nembak gebetan, menikah, bahkan operasi caesar demi mendapatkan sebuah momen berharga di tanggal cantik. Namun saya, seorang pemuda lajang berusia matang malah sibuk antri tiket 5cm. Sebuah film Indonesia besutan Rizal Mantofani.

Tapi kali ini takdir tak berpihak pada saya. Julukan saya sebagai mr. Premiere ternoda. Gara-garanya saya tidak berhasil mendapatkan bangku untuk nonton film ini di hari pemutaran perdananya. Peminatnya buanyak buanget. Antriannya saja hampir sama kaya antri minyak tanah tempo hari sebelum negara kita konversi ke gas elpiji.

Sebenernya ada sih sisa 3 bangku. Yang satu di barisan paling depan, dan paling ujung pula. Saya mah ogah, bisa jereng leher saya. Sementara dua sisanya saya dilarang beli sama mbak penjaga loketnya. Soalnya sisa bangku dua itu hanya boleh dibeli dua sekaligus. Wah ini sih diskriminatif pada kaum tuna asmara. Gimana Indonesia bisa maju? Terpaksa dengan hati yang luka saya, memutuskan untuk nonton keesokan harinya.

Film 5 cm ini diadaptasi dari novel berjudul sama. Saya sendiri belum pernah membaca novelnya. Namun salah seorang teman pernah memberikan sinopsisnya pada saya. Dan saat itu saya langsung tertarik.

Pernah saya berniat akan membeli novelnya. Namun begitu dengar kabar kalau bakal diangkat ke layar lebar saya mengurungkan niat saya. Saya lebih menikmati menonton film soalnya daripada baca novel.

Sebulan menjelang peluncuran film ini saya mulai goyah, mau liat apa nggak? Yang pertama karena euforia publik yang terlalu antusias (dan saya kurang suka euforia), yang kedua karena film ini banyak mengulas tentang pendakian. Masalahnya saya gak jago tuh soal mendaki (walau daki saya banyak banget).

Tapi semua berubah… saat negara api menyerang (halah). Saya akhirnya memutuskan melihat. Seorang kawan memberi nasehat bahwa dalam film ini saya akan menemukan sedikit jawaban tentang masalah yang saya alami saat ini. Tentang persahabatan, tentang cinta, dan tentang pencarian jati diri.

SINOPSIS

Genta (Fedi Nuril), Arial (Denny Sumargo), Zafran (Herjunot Ali), Riani (Raline Shah) dan Ian (Igor Saykoji) telah menjalani hari-hari mereka sebagai sahabat dekat selama hampir belasan tahun. Tak ada satu weekend pun yang tak mereka lewati bersama (sounds familiar). Namun kebersamaan mereka malah mebuat sebuah situasi “jenuh” (again….sounds familiar). Karena dengan kondisi seperti itu seolah mereka tidak memiliki lingkugan pertemanan lain di luar sana. Genta kemudian mengusulkan agar mereka break selama tiga bulan. Dan selama tiga bulan itu mereka tidak boleh berkomunikasi dengan cara apapun.

Selama tiga bulan masa break, banyak hal yang terjadi dalam kehidupan mereka. Mereka mulai memperbaiki kekurangan masing-masing dan fokus pada hal-hal yang selama ini sering mereka abaikan. Rasa rindu mereka jadikan pelecut untuk melakukan pekerjaan yang belum usai. Sehingga saat bertemu nanti mereka datang dengan membawa sebuah kabar gembira bagi teman-temannya.

Tiga bulan kemudian tibalah saatnya untuk bertemu kembali. Genta mengajak keempat sahabatnya plus Dinda (adik Arial) untuk merayakan pertemuan dengan cara yang tak biasa. Mereka pergi kesebuah tempat yang akan memberikan kesan mendalam bagi mereka. Dan tempat itu adalah MAHAMERU.

Petualangan mereka ini terbilang gila. Karena mereka sendiri hampir tidak pernah melakukan perjalanan di medan pegunungan. Dan ini adalah pegunungan semeru. Dimana medannya terkenal berat. Namun banyak hal menakjubkan yang terjadi dalam perjalanan mereka menuju puncak tertinggi di pulau Jawa itu.

PENDAPAT SAYA

Semula saya agak khawatir film ini bakalan gak menarik. Karena di bagian awal film, tipikal film Indonesia banget. Dimana kalau temanya persahabatan bakalan ada narasi dari salah satu pemerannya yang menjelaskan satu per satu sahabatnya dengan karakter unik masing-masing. Coba deh tonton lagi film Indonesia dengan tema sahabat, pasti rata-rata awalnya dibikin seperti itu.

Beruntung awal yang menurut saya agak mengkhawatirkan, mulai bisa dilupakan begitu narasi oleh Zafran selesai dibawakan. Film ini langsung konsen di alur ceritanya. Adegan demi adegan terasa begitu menarik dan tidak membosankan. Banyak sekali dialog cerdas, puitis, namun tidak melupakan joke-joke yang punch line-nya nampol banget. Dan nih film bisa banget bawa kita masuk dalam suasana syahdu trus ke suasana gokil dan masuk lagi ke suasana syahdu, tanpa mengorbankan ceritanya.

Selain itu kisah romatis di 5 cm juga menjadi point plus. Topik “Jatuh Cinta Pada Sahabat Sendiri” (lagi dan lagi…. sounds familiar) benar-benar jadi salah salah satu daya tarik. Terbukti banyak banget penonton di sekitar saya yang kaya #makjleb ha ha ha ha. Banyak yang ngalamin tuuuh😀.

Sinematografi 5cm juga terbilang sukses mengeksploitasi keindahan alam semeru. Saya sampai kepikiran kalau sampai film ini gak bisa dijual ke luar negeri maka rugi besar. Karena bisa saja film ini jadi promosi wisata Gunung Semeru.

Hanya saja saya agak kecewa di score-nya. Kura melibatkan unsur etnik. Padahal kalau music directornya berani memasukkan unsur instrumen jawa kesannya bakal makin kuat lagi. Yah tapi semua tu tertolong dengan lagunya Nidji he he he he.

Over all saya menilai 8 dari 10 deh. Dan saran saya lihatlah film ini dengan sahabat anda bukan dengan pacar anda. Karena rasanya akan berbeda.

Taruh Cita-Citamu 5CM di Depan Keningmu

  1. d3d3online
    Desember 14, 2012 pukul 6:51 am

    ciee…yang jatuh cinta pada sahabat sendiri ciee…ciee…

    • Alfan F
      Desember 14, 2012 pukul 8:49 am

      ah…. Destria juga lagi jatuh hati sama sahabatnya kan? #nahlohketahuan ha ha ha ha. Semangat des!!! Cuman 5cm dari kamu kok :p

  2. d3d3online
    Desember 14, 2012 pukul 6:36 pm

    hahahaha…. sepertinya kita berdua memang tidak perlu berbicara untuk bisa saling memahami. hanya perlu berdiam diri untuk mengetahui kearah mana hati kita melihat matahari🙂

    • Alfan F
      Desember 14, 2012 pukul 10:01 pm

      Tembak wiiiis!!!😀

      • d3d3online
        Desember 14, 2012 pukul 11:33 pm

        mosok aku truz sing nembak, lha awakmu kapan nembak’e???😛

      • Alfan F
        Desember 15, 2012 pukul 12:05 am

        Sebuah cinta memang harus diungkapkan karena tidak pernah ada cinta yang disembunyikan, kecuali oleh seseorang yang terlalu mencintai dirinya sendiri

  3. d3d3online
    Desember 15, 2012 pukul 12:50 am

    kata2nya emang ngejleb banget ya sob??
    lebih baik mengetahui jawaban dari cinta kita, meskipun itu sebuah penolakan. Daripada menyesal seumur hidup karena tidak pernah mengungkapkannya

    • Alfan F
      Desember 15, 2012 pukul 1:00 am

      Apapun jawabannya… setidaknya kita memberi satu kepastian. Bahwa kita sangat mencintainya. #Wanita

      • d3d3online
        Desember 15, 2012 pukul 1:46 am

        dan merugilah wanita2 yang menolak untuk kita cintai, karena mereka telah melewatkan sebuah kesempatan untuk mendapatkan sebuah kepastian

      • Alfan F
        Desember 15, 2012 pukul 2:05 am

        Ha ha ha

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: