Beranda > Ciem & Moel, Tentang saya > Jogja TRIP : [Chapter 1.0] Saatnya Berubah, Saatnya Berpetualang

Jogja TRIP : [Chapter 1.0] Saatnya Berubah, Saatnya Berpetualang

Saya adalah penderita fobia. Saya takut sendirian, takut bepergian, takut pada keramaian, dan takut tersesat. Sepertinya itulah yang menyebabkan jarang sekali saya meninggalkan rumah atau keluar kota. Hal ini juga ditunjang dengan kondisi saya yang menjadi anak semata wayang. Saat ingin mencoba hal baru, seringkali orang tua melarang karena khawatir saya akan terjatuh dan depresi.

Saya tetap menganggap itu adalah bentuk kasih sayang orang tua. Namun kini usia saya telah menginjak usia 27 tahun. Tidak mungkin saya terus terperangkap dalam ketakutan semu sehingga membuat saya hampir tidak pernah berpetualang dan berkembang.

Agorafobhia, sepertinya menjadi istilah paling tepat bagi fobia yang saya alami. Agorafobhia adalah ketakutan berada di tempat dimana bantuan tidak tersedia. Penderita agoraphobia selalu takut pada kerumunan atau menjadi penyendiri. Agoraphobia kadang berhubungan dengan kelainan ansietas lain, seperti gangguan panik atau fobia khusus.

Gejala Agorafobhia seperti yang sudah saya singgung di awal seperti mengurung diri dalam rumah untuk beberapa saat, bergantung pada orang lain, takut sendiri, takut berada di tempat yang memungkinkan tidak bisa lari, dan tak berpengharapan.

Tepat tanggal 25 Desember 2012 saya merencanakan sebuah perjalanan. Perjalanan menuju JOGJA. Tampak sepele? Bagi yang tidak merasakan Agorafobhia mungkin hal itu tampak biasa dan keciiil. Tapi bagi saya ini sangat berbeda. Karena disinilah awal saya untuk mengalahkan fobia yang telah merenggut sebagian besar masa produktif saya.

Hingga pada akhirnya saat yang telah saya nantikan pun tiba. Tepat pukul 2.20 pagi, saya bersama Micky, teman karib sewaktu di Poltek, berangkat dari Malang menuju Stasiun Gubeng Surabaya. Kami sengaja memilih Gubeng karena tiket ke Jogja dari sana terbilang sangat terjangkau. Hanya Rp 38.000,-. Bandingkan dengan langsung dari Malang yang rata-rata di atas seratus ribu! Keinginan kami untuk menghemat biaya perjalanan bukan lantaran kami pelit sih, cuman karena kikir aja….halah. Cari yang murah karena biar kesan “petualangan”-nya lebih berasa.

Mengendarai motor dengan santai, kami bisa datang pukul 5 pagi di Gubeng. Segera, saya dan Micky mencari musholah terdekat untuk menjalankan ibadah sholat subuh.

Setelah sholat tiba-tiba raut muka cah Blitar itu berubah serius. Dia lalu menepuk pundak saya dan berkata,”Boy… doakan aku! Setelah pulang dari Jogja, aku akan melamar gadis.”

Kunyuk, Deja Vu nih….. Sudah berapa kali adegan seperti ini saya alami? Mulai dari Yhanuar, Putut, Dhanie, Fahrur, dan sekarang si Micky ikut-ikutan mendahului saya untuk menikah. Sebenernya gak masalah mereka nikah duluan. Tapi kenapa harus disampaikan pada saya dulu yang seorang Jomblo Orisinil ini? Eike juga pengen gilaaaaa’.

Ya Allah, kenapa sih di saat saya masih suka nonton film kartun, baca komik, dan main game, teman-teman saya malah pada sibuk berumah tangga?

Banyak sih yang bilang kalau saya sampai sekarang masih kekanak-kanakan gara-gara masa kecil saya kurang bahagia. Wuoooh, itu salah besar cuiii. Masa kecil saya terlalu bahagia, hingga pada akhirnya saya lupa bahwa usia terus bertambah. Lupa deh dengan urusan MENIKAH.

“Baiklah boy… doa Bang Zafran selalu bersamamu,” ucap saya sambil menirukan mimik muka Herjunot di 5cm. Ya walau jatuh-jatuhnya gak mirip sih. BTW kenapa sih banyak yang gak trima kalau saya bilang bahwa perwujudan Zafran 5cm di dunia nyata itu ya gak beda jauh dengan saya?

Tuuuuuut jes jes jes jes (Suara kereta yang bener gimana sih?)

Suara tunggangan kami mulai terdengar memasuki stasiun Gubeng. Kereta Pasundan, ekonomi, gak pake AC….. #BiarLebihGreget.

Saya merinding, jantung rasanya bedebar-debar, saat kereta tunggangan saya ke Jogja datang. Rasa hati riangnya bukan main. Inilah kali pertama saya senang setengah mati melihat kereta api. Mungkin gini kali ya perasaan si Pepenk temen saya dedengkotnya Rail Fans Malang, tiap kali lihat kereta. Hebohnya setengah mampus. Baru kereta cuiii…. gimana kalau cewek cakep? Bisa semaput kegirangan dia.

Dalam hati saya berkata, “Ini saatnya, ini saatnya saya berubah… Memulai hidup penuh petualangan”

(Bersambung ke chapter 2.0)

  1. jtxtop
    Januari 13, 2013 pukul 6:24 am

    Terima kasih atas konten dan info yg menarik dan menginspirasi….thk u

  2. Januari 13, 2013 pukul 4:02 pm

    ji, review akomadasi murmer di jogja+tempat2 asik buat nongkrong😀

    • Alfan F
      Januari 16, 2013 pukul 3:26 am

      ok…. ntar di chapter 3 atau 4 mungkin mas

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: