Beranda > fenomena > 3M : Malang, Mall, dan Macet

3M : Malang, Mall, dan Macet

Malang Town Square
(gambar : http://www.halomalang.com)

Soal Mall dulu ya

Malang sebentar lagi akan punya dua mall baru. Yang satu di Dinoyo dan satunya lagi di Blimbing. Uniknya dua mall baru itu dibangun di bekas pasar tradisional.

Pembangunan dua mall baru ini rupanya mendapat tanggapan beragam. Ada yang pro dan ada yang kontra.

Kemaren di sebuah akun @MLGRumahKita menanyakan pada followers-nya (saya termasuk) apakah setuju dengan adanya penambahan mall. Sebagian besar yang mention yang di retweet, menjawab tidak setuju. Bahkan kebanyakan menambahkan lebih baik dibangun ruang hijau, menambahkan pasar tradisional, dan mengurangi pembangunan ruko.

Saya pribadi sebenernya pengen nimbrung dan bilang gak setuju juga. Tapi kemudian saya ingat kasusnya Matos dan MOG. Dulu pas masih kuliah di Poltek, saya sangat menolak pembangunan dua mall paling gedhe di kota Malang itu. Walau gak sempat ikut demo-nya sih.

Bahkan sampai tahun 2007 saya tidak mau menginjakkan kaki di mall-mall itu. Hingga kemudian gara-gara film Transformers, akhirnya saya menghancurkan idealisme sendiri. (“._.)/|dinding Matos|

Dan kini, saya malah langganan ke MOG dan Matos…… Aku kotooooor mamaaaaaaah.

Ini ibarat menjilat ludah sendiri.

Sekarang, semuanya kembali pada kita. Kalau semisal Mall Dinoyo dan Blimbing jadi dibangun, berani gak kita konsisten dengan omongan kita? Ya kalau gak setuju ntar jangan kesana! Bisa gak?

Soalnya banyak banget dari kita yang awalnya nolak-nolak pembangunan, ujung-ujungny jadi pengunjung setia. Saya contohnya (_ _”). Ini kalau dalam dunia asmara, ibarat pasangan yang benci tapi rindu. Di bibir ngomong nggak, tapi di hati ngarep banget. Kok jadi curcol?

True Story, ada loh eks aktivis UB angkatan 2000an awal yang sampai saat ini bener-bener gak mau ke MOG dan Matos karena megang omongannya sendiri. Nah looo…. Kalau memang menolak harus kaya gini sikapnya.

Kemacetan di jembatan Soekarno-Hatta
(Gambar dr : http://smantumpang.blogspot.com)

Sekarang Soal Macet

Lebaran lalu, temen SMP saya yang sudah lama merantau di Jakarta shock pas liat Malang. Pasalnya dia saat di pesawat menuju Malang, sudah membayangkan suasana Malang yang tenang dan dingin.

“Kampret, ini masih di Jakarta? Macet amat”. Ujar status FBnya saat di angkot.

Saya ingat betul tahun 2005 Malang masih lenggang banget jalannya. Namun begitu memasuki 2007, tampaklah gejala kemacetan yang parah apalagi pas hari libur atau akhir pekan.

Bisa jadi salah satu faktor kemacetan Malang adalah karena Kota Batu. Kota Batu punya Jatim Park 1 dan 2 serta BNS. Belum lagi tempat wisata klasik seperti Selekta atau Cangar. Sementara untuk ke sana jalan yang paling bagus adalah lewat Kota Malang. Alhasil volume kendaraan dari kota-kota sekitar Malang yang masuk pun meningkat tajam. Hasilnya…..Macet.

Faktor lainnya adalah jumlah motor dan mobil yang buaanyaaak tapi jalannya sempit. Kondisi ini diperparah dengan PKL yang menjamur di sana-sini. Ibarat manusia, Malang ini sedang terkena penyakit darah tinggi dan kolesterol. Bentar lagi stroke tuh.

Mengeluh dan menuntut pemkot untuk menanggulangi ini semua tidaklah terlalu efektif. Iya kalau mereka denger, kalau enggak mungkin kita sendiri yang dongkol.

Jadi mari kita coba ambil langkah kecil dari diri kita dulu. Langkah kecil mungkin gak bakal terasa dampaknya. Tapi itu masih mending daripada diam dan gak berbuat apa-apa tapi nuntut melulu.

Dari mobil dulu ini ya. Saya sendiri termasuk orang yang agak heran dengan sebagian pengguna mobil di Malang (ingat: sebagian). Udah tahu jalan sempit, naik mobil sendirian dan mobilnya segedhe kapalnya Gaban pula.

Alp*ard adalah salah satu jenis mobil yang bikin emosi kalau jalan di Malang. Ini mobil kaya lapangan badminton di kelurahan, gedhe banget. Mobil kaya giuni sering makan jalan. Bukankah esensi mobil itu memindahkan manusia dan barang dari satu tempat ke tempat lainnya dengan efektif dan efisien. Bukan sambil main futsal. Saya yakin tuh kalau pas di dalam tuh mobil kita teriak bakalan bergema…. ma….. ma…..ma…..ma….. (bit : Pandji)

Pengguna mobil gedhe kaya Alp*ard dan sejenisnya, tolonglah lihat sikon! Kalau memang arus lalinnya lagi padet pakai kek mobil yang lain (kalau punya). Atau kalau nggak pakai motor atau angkot kek. Namun kalau misalnya lagi butuh banget, ya paling nggak tuh mobil berdayakan untuk ngangkut beberapa orang (serah deh siapa). Biar kalau pas macet gak pengen nimpuk he he he… Peace bro!

Sekarang beralih ke pengguna motor. Kali ini saya bakal nyindir diri saya sendiri juga kok.

Dulu, kalau pergi ke suatu tempat yang jaraknya 300meter kebanyakan orang akan memilih jalan kaki. Atau minimal naik sepeda kayuh. Sekarang…. jarak 100 meter, kita sudah tancap gas.

Okelah kalau di dalam kampung perilaku kaya begini gak terlalu bermasalah. Nah kalau pas yang dilewati jalan gedhe, ini yang bikin mengelus dada.

Melewati jalan besar demi menempuh sebuah jarak 100 meter, tanpa disadari akan sangat mengganggu arus lalin. Apalagi kalau pakai nyebrang jalan, pas padet pula. Apa sih yang salah dengan “Jalan Kaki”?

Jadi biasakan mulai sekarang pakai kaki kalau ke tempat-tempat yang dekat dan mudah di jangkau. Bantu kurangi volume kendaraan di jalan!

Selanjutnya soal SIM nih. Salah satu sarat mutlak kita boleh mengendarai motor adalah mempunyai SIM C. Jadi kalau belum punya segeralah mengurus atau dengan kesadaran diri : jangan nyetir motor.

Salah satu syarat memiliki SIM C adalah berusia minimal 17 tahun sesuai dengan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009. Itu artinya anak sekolah yang boleh mengendarai motor adalah mereka yang kemungkinan duduk di kelas 2 SMA. Tapiiiii…… di smp-smp kok banyak banget ya motor yang parkir. Nah looooh…… Motor siapa ini?

Dan kalau tiga hal di atas tidak memungkinkan sama sekali bagi kita untuk dilakukan, ya sudah. Nikmati saja kemacetan itu. Toh kita juga bagian dari kemacetan itu sendiri kan. Yang pakai mobil juga kita, yang pakai motor juga kita, masa kita minta cuma kita satu-satunya orang yang boleh pakai mobil/motor.

Kategori:fenomena Tag:, , , ,
  1. Maret 12, 2013 pukul 2:11 pm

    yang terpenting kita berusaha yg terbaik, pasti akan jadi lebih baik semuanya

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: