Arsip

Archive for the ‘Film’ Category

Fast & Furious 6 : Kembalinya Kawan Lama

Salah satu film yang tidak saya tonton premiere. Bukan karena gak minat sih, tapi karena hari pertama tiket Fast & Furious 6 sudah ludes. So saya yang waktu itu baru mau beli jam 6 petang jadi gigit jari.

Alhasil besoknya saya kembali lagi. Saat jam istirahat kantor, saya buru-buru cabut untuk ke bioskop.

Taraaaaa…….. tiketnya tinggal yang bangku depan. Padahal saya waktu itu datang sekitar jam 1an loh.

Fast & Furious ini booming di negara kita bisa jadi karena faktor Joe Taslim yang turut membintangi film ini. Aktor yang tampil apik di The Raid ini jadi magnet yang cukup kuat bagi publik kita. Jarang loh artis kita yang ikutan film Hollywood begini.

Masih berpusat pada Dom (Vin Diesel) dan Brian (Paul Walker). Seri keenam Fast and Furious menceritakan tentang dipanggilnya kembali dua sahabat ini oleh Hobbs (The Rock). Hobbs dipusingkan oleh kelompok teroris pimpinan Shaw. Skill dan keahlian Shaw dan kelompoknya dalam mengendarai mobil inilah yang membuat Hobbs mencarikan lawan sepadan untuk mereka.

Dalam FR6 juga diwarnai kembalinya Letty yang sebelumnya dikira mati oleh Dom. Masalahnya Letty ada di pihak Shaw. Demi mendapatkan kekasihnya kembali, Dom akhirnya menerima tawaran Hobbs untuk berhadapan dengan Shaw.

Film ini menurut saya tidak terlalu istimewa baik secara cerita maupun aksi laganya. Seru sih tapi ya itu aksinya terkesan punya level yang sama saja dengan seri pendahulunya.

Namun bagi penggemar Fast & Furious film ini tetap layak ditunggu. Apalagi ada kejutan dibagian akhirnya. 🙂

Star Trek Into Darkness : Film Yang Komplit

Khan

Menjadi pemimpin tidak semudah kelihatannya. Seorang pemimpin harus bernai mengambil keputusan tepat secepat kilat dan mau mengawal tim-nya sehingga tetap pada tujuan dan cita-citanya. Nilai inilah yang bisa kita simak di sequel Star Trek, Into Darkness.

Masih dengan Jim Kirk dan Mr. Spock sebagai Jagoannya, yang kali ini harus menghadapi musuh yang super cerdik dam kuat, John Harrison. John sendiri adalah mantan kapten di Starfleet di masa lalu.

Aksi John sangatlah brutal. Mulai meledakkan fasilitas yang cukup sentral di Starfleet hingga menyerang tempat rapat petinggi Starfleet dan menewaskan Christopher Pike, kapten Enterprise sebelum Jim Kirk.

Tidak terima dengan aksi teror John Harrison, Jim meminta pada Marcus sang petinggi Starfleet agar ditugaskan untuk memburu John. Marcus menyetujuinya bahkan meminta untuk menembakkan torpedo ke planet Kinglon bila John Harrison tidak mau menyerahkan diri.

Dalam pengejarannya ke planet Kinglon, Kirk dan awaknya banyak menemui fakta mengejutkan. Diantaranya saat John Harrison malah membantu Kirk dan teman-temannya saat diserang oleh bangsa Kinglon. Bahkan John bersedia menyerahkan diri.

Dari sini semakin banyak terungkap rahasia gelap petinggi Starfleet yang tidak lain didalangi oleh Marcus.

Into Darkness layak disebut film yang komplit, 4 sehat 5 sempurna bagi saya. Bagaimana tidak, film besutan J.J. Abrams ini menawarkan sebuah alur cerita yang dramatis, berkelas, twist disana-sini, dan tentu saja tidak mengurangi sisi action yang mengangkan.

Cerita yang kuat itu pun didukung dengan cast yang benar-benar tepat. Hampir tidak ada karakter yang terbuang percuma di sini. Semuanya menarik, dan diperkuat dengan masing-masing cast yang punya aksen yang multinasional. Ada Sulu yang berlogat asia, atau Chekov dengan Rusianya, Scotty dengan khas britania.

Film ini juga memberikan gambaran akan nilai moral yang sangat baik. Persahabatan, cinta, dan yang paling utama leadership. Saya cukup merinding saat adegan Kirk memohon pada Marcus agar melepaskan seluruh awak Enterprise, dan bersedia membebankan semua kesalahan pada dirinya.

Bagi saya Star Trek Into Darkness adalah film terbaik di 2013 sejauh ini.Fi

Iron Man 3 : Menguak Sisi Manusia Di Balik Topeng Besi

Iron Man 3

Pasca The Avengers, Stark harus kembali ke kesibukannya semula. Apalagi kalau bukan menjadi jenius, konglomerat kaya raya, playboy, filantropi dan kadang nyambi jadi Iron Man. Namun berbeda dari sebelumnya, Toni Stark seperti kehilangan kepercayaan dirinya. Apalagi kalau diingatkan dengan kejadian penyerangan Loki dan konco-konconya kapan hari.

Kondisi Stark yang rada labil ini semakin diperunyam dengan munculnya Mandarin, teroris yang gemar menebar ketakutan. Walau namanya Mandarin tapi mukanya muka arab. Terserah yang bikin deh.

Dan ternyata si Mandarin ini gak main-main. Dia bahkan berhasi menghancur-leburkan rumah Stark. Tapi itu salah si Stark sendiri sih yang nyebar alamat rumahnya di media.

Dengan sumber daya tersisa, Stark menyelamatkan diri ke daerah terpencil. Di sini doi merancang ulang strategnya untuk menghadapi Mandarin dengan peralatan ala kadarnya. Mana Iron Suit-nya ngadat lagi.

Film ketiga ini berbeda dari dua film sebelumya. Terasa lebih mengupas sisi manusia Tony Stark, manusia koplak yang berada di baju baja canggih. Bahkan daripada Iron Man 3 dilm ini lebih tepat diberi judul Tony Stark.

Beberapa karakter yang ada seperti Pepper dan Rhodes tampil lebih hidup di Iron Man 3. Bahkan mereka mendapat porsi yang cukup vital dalam cerita.

Karakter “sahabat” Iron Man lainnya yang cukup mendapat perhatian saya adalah Harley Keener. Seoang bocah SD yang emnolong Tony Stark, saat Stark bersembunyi di garasi milik ayahnya. Jujur ya, part Tony-Harley adalah yang terbaik di film ini. Setiap bagian dialog mereka benar-benar gokil mampus.

Pihak lawan juga memberikan sesuatu yang lebih menantang kali ini. Killian (si otak Mandarin sebenarnya) adalah musuh yang sepadan bagi Iron Man. Bahkan sampai akhir film saya sempat frustasi karena terus berfikir nih orang mampusinnya gimana.

Walau masalah yang dihadirkan lebih rumit, namun Iron Man 3 tidak kehilangan ciri khasnya. Tetap dengan jokes yang super menggelitik di sepanjang film. Iron Man bagi saya mungkin bukan film bertema superhero terbaik, namun harus diakui kalau urusan jokes Iron Man jagonya.

Saya pribadi menilai, Iron Man 3 adalah Iron Man terbaik yang pernah saya tonton. Rugi rasanya melewatkan aksi Manusia Besi yang satu ini.

A Good Day to Die Hard : Saatnya memporak-porandakan Moskow

Februari 15, 2013 Tinggalkan komentar

John & Jack McClane
Gambar dari : http://cdn-static.denofgeek.com

Bagi penggemar Die Hard, jika mendengar nama John McClane pasti yang terbayang adalah tembak-tembakan dan perkelahian yang brutal dengan para penjahat. Ya… dan itulah memang yang disajikan dalam A Good Day to Die Hard. Bahkan terkesan lebih ekstrem dari film-film sebelumnya.

Kalau sebelumnya di Die Hard ke 4, John bertemu dengan Lucy Genaro anak perempuannya, kini John berusaha mencari Jack anak keduanya. Untuk mecari si buah hati yang lama tidak dia jumpai, John harus pergi ke Rusia. Karena seorang rekannya memberi tahu John, kalau Jack terjerat khasus pembunuhan di negeri eks Uni Sovyet tersebut.

Niat John yang hanya sekedar bertemu dan memberi support anaknya dalam menghadapi pengadilan ternyata berbuntut panjang. Sang anak yang selama ini hanya dikenalnya sebagai bocah bengal tak disangka menyembunyikan rahasia lain. Jack adalah seorang agen CIA yang tengah ditugaskan untuk mengusut khasus besar Komarov, sang ilmuan nuklir.

John pada akhirnya harus ikut dalam misi yang diemban oleh anaknya. Dan sebagaimana terjadi sebelumnya, Saat McClane bertindak maka akan terjadi aksi ekstrem. Duo McClane pun memporak-porandakan Moscow.

Sebagai fans berat Die Hard, saya merasa film kelima ini adalah film paling lemah dalam segi cerita. Okelah dari segi action memang inilah yang paling “gila”. Tapi banyak ciri khas Die Hard yang dihilangkan di sini. Sebutlah karakter musuh yang punya karakter kuat seperti Hans Gruber (Die Hard 1) atau Simon Gruber (Die Hard : With a vengace). Di A Good Day to Die Hard John McClane seperti tak punya musuh yang bisa membuat dia kelimpungan.

Satu hal yang hilang di Die Hard kelima ini adalah peran karakter pembantu yang dihilangkan. Tentu kita masih ingat di film pertama hingga ke empat, McClane selalu ditemani sosok “kalem” dalam memberantas teroris. Sebutlah Dwayne T. Robinson di Die Hard pertama sebagai polisi yang simpatik. Atau Samuel L. Jackson sebagai Zeus Carver si penjaga toko yang ahli memecahkan teka-teki di film ke tiga.

Nilai 6.5/10

Jack Reacher : Menguak Konspirasi di Balik Kasus Pembunuhan

Januari 18, 2013 1 komentar

Jack Reacher bercerita tentang penyelidikan oleh seorang mantan polisi militer terhadap kasus penembakan 5 warga sipil di Pittsburgh, Pennsylvania, Amerika Serikat. Keterlibatan Jack pada kasus ini adalah atas permintaan James Barr, tersangka kasus ini. Barr merasa bukan dirinya yang bersalah, walaupun semua bukti mengarah ke dirinya. Untuk itulah dia meminta penyelidik kepolisian untuk melibatkan Jack Reacher agar tahu motif dan siapa pembunuh yang sebenarnya.

Mulanya Reacher merasa, memang Barr layak dihukum mati. Hal ini tidak lepas dari investigasi Reacher di masa lalu yang menemukan kasus pembunuhan keji James Barr saat di timur tengah. Saat itu Barr beruntung bisa lolos dari hukuman.

Namun saat penyelidikannya menemukan sebuah kejanggalan, Jack Reacher mulai ragu bahwa James Barr bersalah. Bersama Helen Rodin, pengacara yang membela Barr akhirnya menemukan fakta bahwa kasus ini bukanlah pembunuhan biasa. Namun sebuah konspirasi keji dari “orang besar” untuk kepentingan materi.

Jujur, saya gak seberapa tertarik melihat film ini. Namun karena faktor Tom Cruise akhirnya saya merasa layak di coba lah.

Di awal-awal sepertinya film ini menjajikan jalan cerita yang menarik. Namun cerita yang bagus diawal tidak bisa dipertahankan, sehingga saya bilang cukup “anjlok” di pertengahan hingga akhir. Siapa pelaku kunci bisa dengan mudah tertebak. Gimana nggak mudah tertebak wong dimunculkan langsung begitu, tanpa ada bumbu-bumbu misteri dan teka-teki. Investigasi yang dilakukan Reacher juga kurang teknis dan detail, malah bisa dibilang dibawah stadar serial CSI.

Jack Reacher sedikit tertolong dari joke-joke yang ditampilkan sepanjang cerita. Dari segi action pun tidak mengecewakan. Fight choreography sangat artistik. Bahkan di adegan kejar-kejaran dengan mobil sangat realistis dibandingkan dengan film-film sejenis.

Kesimpulan dari saya, Jack Reacher bukanlah film yang tepat bagi tom Cruise. Kalau dibilang mengecewakan, saya bilang cukup mengecewakan. Untuk nilai : 5 dari 10.

Rurouni Kenshin The Movie : Hidup Baru Sang Battousai

Januari 2, 2013 1 komentar

Rurouni Kenshin the Movie ini menceritakan masa “pertobatan” seorang samurai pembunuh bernama Kenshin Himura. Di masa lalunya pria bercodet X di pipi kirinya ini telah membunuh ratusan nyawa. Dan itu semua dialkukannya demi sebuah revolusi agar Jepang menuju era baru.

Sebuah pertarungan dengan seorang samurai muda telah mengubah pemikiran Kenshin saat itu. Lawan yang seharusnya mudah dia kalahkan ternyata memberikan perlawanan yang sengit. Walau dalam kondisi yang musatahil untuk menang sang samurai muda berhasil membuat luka di pipi kiri Kenshin. Perjuangan keras samurai muda ini ternyata karena dia tidak ingin mati karena ditunggu oleh orang yang dicintainya.

Pasca kejadian itu, Kenshin mulai merenungi hidupnya yang seolah hampa. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi dari hiruk pikuk dunia samurai.

Setelah sekian lama menghilang, Kenshin mencoba kembali ke peradaban. Namun kali ini di Jepang dengan era yang berbeda. Tidak ada lagi shogun atau samurai. Era mereka kini telah habis.

Tetapi justru disinilah Kenshin menemukan kembali alasannya untuk mengangkat senjata. Dia ingin melindungi sahabat-sahabat barunya, termasuk Kaoru wanita yang dicintainya. Dengan Sakabatou (pedang bermata terbalik) miliknya, Kenshin menegakkan keadilan bagi kaum tertindas, dan memerangi para penjahat. Hanya bedanya Kenshin hanya mencederai tanpa membunuh mereka.

Banyak yang menyangsikan saat Rurouni Kenshin akan diangkat ke layar lebar. Pasalnya versi manga dan animenya terlalu ikonik. Sehingga para fans Battousai khawatir kalau versi live action-nya bakal merusak image karakter pujaan mereka. Mungkin mereka mengaca dari khasus Avatar The Legend of Aang dan Dragon Ball. Dimana adaptasi layar lebarnya bisa dibilang hancur total.

Dan ternyata begitu saya melihat langsung filmnya, hmm bagus kok. Cast-nya cukup pas kalau dilihat dari sisi akting. Tentu saja saya lihatnya dari akting. Karena gak mungkin kalau lihatnya dari segi kemiripan wajah. Kalau nyarinya kemiripan wajah ya lihat saja cosplay, jangan lihat film (kenapa jadi emosi bgini?). Dua jempol perlu saya sematkan pada Takeru Sato dan Emi Takei yang berhasil menghidupkan Kenshin dan Kaouru. Chemistry keduanya benar-benar manis dan sedap dilihat. Sementara Koji Kikkawa tidak cukup hanya dua jempol, tapi empat. Karakter Jine Udo justru terasa lebih “sakit” daripada versi anmienya di sini.

Untuk jalan cerita pun saya nilai sangat OK. Gak terlalu mencontoh anime-nya. Karena bagi saya film adaptasi yang terlalu mencontoh sumbernya gak akan menarik karena mengabaikan sisi kejutan. Rurouni Kenshin versi Live Action ini juga memperhatikan betul detail settingnya. Keishi Ohtomo sebagai sautradara benar-benar mampu menghidupkan Jepang di era 1870.

Film ini sayang tidak ditayangkan di bioskop Indonesia. Padahal kalau dibandingkan dengan beberapa film Hollywood yang tayang di bioskop Indo, Rurouni Kenshin jauh lebih ciamik. Penilaian dari saya 8,5 dari 10.

Habibie & Ainun : Kisah Cinta sang Jenius

Desember 21, 2012 Tinggalkan komentar

Ini adalah kisah tentang cinta pertama dan cinta terakhir. Kisah cinta yang menginspirasi jutaan orang yang mendengar ceritanya. Dan salah satu kisah cinta paling romantis di Indoneisa. Inilah kisah cinta Habibie (Presiden ketiga Indonesia) dan Ainun.

Kisah cinta ini bermula saat keduanya duduk di bangku smp tahun 1962. Dua jawaban yang sama persis tentang kenapa langit berwarna biru, seolah menjadi pertanda bahwa mereka kelak akan berjodoh. Tetapi sang Jenius, Habibie belum pernah berani mengungkapkan rasa cintanya pada Ainun. Jelek, tembem, hitam, dan mirip gula jawa adalah sebutan yang pernah dilontarkan oleh Habibie pada Ainun.

Waktu pun telah merubah segalanya. Habibie bertemu kembali dengan Ainun saat dewasa. Dan kali ini Habibie secara jujur menunjukkan ketertarikannya pada sang dokter cantik tersebut. Perasaan Habibie tidaklah bertepuk sebelah tangan. Ainun bersedia menerima Habibie sekaligus ikut mendampingi suaminya di Jerman demi menuntut ilmu.

Perjalanan hidup Habibie sebagai jenius dalam membuat pesawat tidaklah semudah yang dibayangkan. Di Jerman seringkali dia diremehkan. Namun Habibie bisa merubah pandangan minir orang-orang Jerman tentang kualitas kecerdasan bangsa Asia. Tak butuh waktu lama, Jerman pun jatuh hati pada sang Profesor Doktor.

Dihargai di negeri orang tidak menyurutkan tekad Habibie untuk kembali ke tanah air. Sejak awal cita-citanya memang ingin membangun Indonesia dengan kepandaian yang dimilikinya. Dan lagi-lagi, Habibie menemui banyak tantangan. Suap, permainan politik yang kotor, serta fitnah untuk menjatuhkan reputasinya acapkali terjadi. Beruntung Habibie punya Ainun yang senantiasa mendampinginya walaupun kondisi kesehatan Ainun terus memburuk.

Bagi Habibie Ainun adalah separuh jiwanya, begitu pula Ainun. Tapi pada akhirnya setiap kisah cinta selalu memiliki akhir sedih. Ainun harus pergi untuk selama-lamanya setelah menemani Habibie dalam pernikahan yang berusia 48 tahun.

Dua jempol bagi Reza Rahardian yang mampu menghidupkan peran Habibie. Mungkin awalnya banyak yang meragukan aktor tampan ini dikarenakan bentuk fisiknya yang kurang menyerupai Habibie. Namun Reza berhasil membalikkan anggapan itu. Aktor 25 tahun ini sukses besar dalam menirukan gaya bicara dan gestur tubuh Habibie. Bahkan beberapa kali saya sempat merasa bahwa yang tengah bermain adalah Habibie asli.

Tak jauh berbeda, Bunga Citra Lestar (BCL) juga mampu memberikan hasil yang maksimal dalam menjalankan perannya sebagai Ainun. Meski hanya mendapat referensi, BCL bisa menampilkan aura Ainun. Tak heran bila kakak Almarhum Ainun usai syuting mengatakan pada BCL, bahwa dia sangat mirip adiknya.

Film ini cukup detail dalam menampilkan setting Indoensia dari masa ke masa. Sinematografi yang diatas rata-rata membuat tiap adegan terasa sedap dipandang. Faozan Rizal juga berhasil membuat film ini cukup berimbang. Dimana adegan romantis dan dramatis tetap disisipi joke-joke yang segar. Sehingga emosi penonton tidak terlalu terkuras dalam beratnya perjalanan cinta Habibie dan Ainun.

Ada beberapa hal yang menurut saya yang sangat menganggu. Film ini seolah ingin bercerita sangat banyak tentang hidup Habibie. Celakanya hal itu malah membuat proses penceritaan terlalu dangkal dan plot ceritanya kurang memiliki arah. Saya sih kepikiran film ini akan lebih enak diikuti kalau alurnya dibuat flashback. Contoh nih ya ada orang mewancarai Pak Habibie, kemudian tiap pertanyaan oleh Pak Habibie diceritakan dengan mengingat-ingat masa lalunya.

Hal lainnya adalah iklan yang “maksa” pengen nongol di film. Seharusnya sponsor bisa bijak agar tidak menampilkan produknya di film. Esensi cerita jadi terganggu. Terlebih Habibie dan Ainun ini bisa dimasukkan dalam film bergenre sejarah.

Bagaimanapun juga Ainun Habibie adalah film yang sangat layak tonton. Apalagi kalau kita ingin meneladani salah satu bapak bangsa ini.

Prof.Dr.-Ing. Bacharuddin Jusuf Habibie adalah orang yang menginspirasi kita dengan kecerdasannya, kesetiannya pada negara, serta cinta tulusnya pada sang istri, Ainun.

Habibie telah membuka mata kita bahwa seorang Indonesia adalah sama kualitasnya dengan bangsa barat, bahkan lebih. Asal kita mau berusaha dan total dengan apa yang kita kerjakan. Dan tentu saja dibalik lelaki yang hebat seperti Habibie, selalu ada wanita yang luar biasa seperti Ainun.

Nilai : 7,3/10

%d blogger menyukai ini: