Arsip

Archive for the ‘gaya hidup’ Category

My Picnic Story (Chapter 01) : Bajulmati Beach

November 18, 2012 8 komentar

“Bayangin! Bayangin! Pasti keren kalau kalian yang cewe ke Pantai pakai gaun warna putih dengan topi kaya punya Ajeng…. berjalan di sepanjang pantai dan dihempas angin laut yang menggoda…. wiuuuuh kaya di film Korea.” ujarku pada Rijal, Lita dan Nora di hadapanku.

“Yah kalau mau putih pakai mukenah aja mas.” tiba-tiba Fila dari dalam kamar nyletuk seenaknya. Jujur banget ya, nih anak selalu bikin momen sentimentil jadi kacau gara-gara omongannya yang absurd ~__~”. Sekarang bayangin ke pantai pakai mukenah itu kaya apa jadinya?

“Ih mbak ajeng pake topi itu jadi kaya tukang ngamen.” Cletukan Fila makin semena-mena. Sontak Ajeng yang dari tadi sibuk memadankan sudut topi pantainya di depan kaca jadi uring-uringan.

Tapi walau suasana pagi yang cerah sedikit ternoda dengan omongan Fila, tetap saja ini hari yang menyenangkan bagi kelompok arisan kami. Karena hari ini Piknik ke pantai. Yuhuuuuuuu….

Sudah lama juga sih gup arisanku tidak bertamasya. Terakhir saat mas Maharf masih di Malang. Kalau gak salah itu sebelum puasa. Itulah kenapa begitu ada momen tanggal merah di kalender, kami kalap merencanakan piknik yang murah meriah.

Tak beberapa lama, Pepenk sebagai driver proffesional (pengen nyebut supir gak tega) datang membawa mobil rental yang sudah kami sewa sebelumnya. Berangkat dari rumah Ajeng, tujuh orang. Aku, Rijal, Pepeng, Lita, Ajeng, Fila dan Nora. Sementara Destria dijemput langsung di rumahnya dikarenakan alamatnya berada di City Side (Pinggiran he he he he).

Tujuan piknik kami kali ini adalah ke pantai Bajulmati. Salah satu pantai yang terletak wilayah Malang Selatan (kurang lebih 60 km dari Kota). Untuk mencampainya dibutuhkan sekitar 2 – 3 jam perjalanan dengan mobil atau 1,5 – 2 jam kalau pakai motor. Kondisi jalan yang ditempuh pun terbilang sangat baik. Hanya saja perlu sedikit kewaspadaan ekstra karena tikungannya meliuk-liuk kaya jogednya Inul Daratista….Bukak sithik joosssss (Oh please…..). Tapi ciyusss loh! Beruntung aku duduk di jok depan dan menguasai tape/radio mobil. Sehingga lagu yang diputar semuanya adalah seleraku ho ho ho ho. No Koplo, No Underground, No Women…. Nemeeeen. Yang lainnya sih sempat bete karena kebiasaanku yang suka mengganti-ganti musik seenaknya. Sori Guuuuyssss.

Sekitar 5 km (kalau gak salah….. ya bener) dari tujuan, terbentanglah jembatan Bajulmati. Jembatan seharga 35 Milliar lebih ini terbilang sangat keren. Yakin deh, siapapun yang lewat bakalan tergoda untuk foto-foto. Buktinya begitu sampai di jembatan ini, kami pun kalap jepret sana-sini dengan pose yang amat sangat unyu cetar membahana badai…. U la la.

Tak beberapa lama setelah puas mempermalukan diri di depan kamera, akhirnya kami sampai di Pantai Bajulmati. Ongkos masuk per orang Rp. 5000,- dan parkir mobil Rp. 5000,- juga. Termasuk murah untuk pemandangan pantai yang luar biasa indahnya.

Semilir angin pantai ini benar-benar membuat jantungku berdegup kencang. Entah darimana datangnya, tiba-tiba soundtrack serial drama Jepang Beach Boys serasa mengalun. Kubayangkan diriku bak Takeshi Sorimachi. Bedanya Takeshi Sorimachi punya perut sixpack, sementara sixpack-ku tertutup timbunan lemak…. #bedatipis.

Kulihat teman-temanku yang dalam perjalanan tadi sedikit ngantuk jadi kembali bergairah. Semua perlengkapan piknik kami keluarkan. Kami pilih spot paling asik untuk menggelar tikar biru milikku yang biasa dipakai ibuku untuk pengajian. Sementara itu Nora sibuk dengan kompor mini milik karang taruna Pandanwangi (Damn….. I love this Kelurahan) yang dia pinjam.

“Wooohooooooooo………….” si Lita teriak-teriak mirip Wiro Sableng. Mumpung gak ada mahasiswanya jadi dia gak perlu jaim, katanya. Karena profesinya sebagai Dosen menuntutnya untuk jaim, apalagi saat bangku perkuliahan. Saya sih mikir akan lucu juga kalau gak sengaja ada mahasiswa Lita tiba-tiba nongol dan menjumpai dosennya lagi heboh kaya gitu ha ha ha ha ha.

Perlu diakui Pantai Bajulmati ini punya pemandangan yang sangat indah. Suasananya gak terlalu ramai sehingga pantainya bisa terbilang bersih. Warna pasir yang coklat keemasan dikombinasikan dengan warna biru laut dan langit semakin mempercantik suasana. Karang-karang yang berdiri kokoh bak gerbang antar dimensi jadi satu panorama yang jarang ditemui di tempat lain. Walau ombak terbilang deras, tapi ada salah satu spot di bagian barat pantai yang nyaman untuk di buat berbincang. Dan disinilah aku dan teman-temanku saling berbicara dari hati ke hati. Biarlah masalah yang ada ikut tersapu ombak. Dan momen di Pantai Bajulmati ini akan masuk dalam salah satu cerita kami. Dimana anak cucu kami bisa menikmati betapa indahnya pertemanan kami.

Bentar…… di awal menulis agak gokil tapi akhir-akhir agak syahdu ya? Ha ha ha ha. Namanya juga hidup, harus ada variasi. Ini adalah piknik pertama kami. Mungkin belum sesempurna yang kubayangkan, tapi tetap jadi salah satu momen paling menyenangkan. Walau Nora dan Lita sewot dengan wajah mereka yang berubah belang, dan aku juga protes kenapa antara sesudah dan sebelum berjemur tetep saja hitam. I love this moment so much

Penakluk Calon Mertua Sejak Jaman Kompeni

November 5, 2012 Tinggalkan komentar

image

Salah satu hal yang selalu diingat orang saat mau ketemu calon mertua adalah “Martabak”. Saya sendiri heran kenapa harus Martabak. Apa karena bentuknya kotak kaya muka bapak-bapak yang galau karena anaknya belum laku? Entahlah.

Pun demikian Martabak ini konon adalah makanan paling ampuh untuk meluluhkan hati mertua. Bahkan sejak jaman kompeni, dimana jaman itu Si Pitung masih doyan futsal (halah). Coba liat deh, begitu martabak berpindah tangan maka izin jalan dengan pacar pun di acc. Ibarat kata sinetron, ini judulnya Putri yang ditukar…….. dengan Martabak. Tega……tegaaaaaaahnya kau papaaaah.

Namun perlu diingat sodarah-sodarah, gak selamanya Martabak bisa jadi senjata yang ampuh untuk meluluhkan hati mertua. Apalagi kalau mertuanya juga juragan martabak. Trus kita ngasihnya martabak buatan kompetitornya. Wah bisa dilempar codet kepala kita. Mending cari alternatif lain deh! Martabak Itali (Pizza) atau Maicih level 10 juga boleh dicoba.

Ingatlah kata para pendiri bangsa, harkat dan martabak harus tetap dijaga…… Nngggg….. Itu martabat ya? Ya terserahlah. Tapi jangan kaget kalau suatu saat nanti akan ada outlet “Jajanan Penakluk Calon Mertua”. Karena itu saya yang punya. Itu sebagai bentuk kepedulian saya bagi yang kesusahan dapat restu dari Camer.

Btw….. Kamu wanita cantik yang lagi baca, Boleh gak aku bawain martabak untuk bapak kamu….. :p

Balikan Nih Yeeeee

November 4, 2012 2 komentar

Sejak keranjingan main jejaring sosial macam Facebook dan twitter sepertinya saya jadi jarang memperbarui blog. Alhasil blog saya ini jadi berdebu dan penuh sarang laba-laba he he he.

Memang sih, FB atau twitter lebih asik untuk dimainkan. Kita cukup nulis ala kadarnya dan respon dari orang akan berdatangan sebegitu mudahnya. Bandingkan dengan ngeblog! Bikin tulisannya setengah mampus eeeh kok ndilalah no response.

Lebih-lebih, kini ada aplikasi jejaring sosial di smartphone seperti BBM, Whatsapp, dan LINE. Tinggal ngoceh dengan teman anda dijamin anti mati gaya deh.

Namum segala kemudahan selalu memiliki dampak. Kita boleh merasa interaksi dan transfer informasi jadi lebih cepat. Tapi di sisi lain kecepatan itu malah mengurangi kualitasnya. Yaaah… liat saja tulisan-tulisan yang kita share jadi semakin ngasal, informasinya setengah-setengah, dan terkesan tidak ada sentuhan “nilai”.

Sudah dapat ditebak apa yang terjadi selanjutnya. Kita jadi kurang bisa tepo seliro, salah tangkap pembicaraan, lebih sensitif saat ada perbedaan, dan akhirnya berantem karena pembicaraan yang seharusnya bisa dibicarakan dengan baik.

Dampak buruk tadi ada, karena kita dengan adanya kemudahan informasi dan interaksi jadi dituntut untuk reaksioner. Yang penting ditanggepi, yang penting bisa jawab, yang penting gak kalah omong. Kita pun mengabaikan waktu untuk berfikir jernih dan menanggapi segalanya dengan bijak.

Pemikiran tadi telah membawa saya kembali ngeblog. Tentunya disamping alasan lain sih. Diantaranya karena saya kalah produktif dari teman saya Fahrur dan Tya, padahal saya sepertinya lebih kawakan di dunia blog ho ho ho ho. Dan faktor lainnya karena seorang penulis bernama Nita. Baik tulisannya di blog miliknya ataupun di twitter selalu saja keren. Simpel tapi daleeeeeeem. Saya pun jadi kegatelan buat nulis lagi.

Jadi ini ceritanya saya balikan nih yeeeee….. balikan nge-blog.

Yakin Mau Makan Masakan Korea???

Maret 11, 2012 17 komentar
Kimchi menemani Indomie Ayam Bawanng

Kimchi menemani Indomie Ayam Bawanng

Saya yakin banyak di antara kita yang sedang terserang demam Hallyu Wave aka Korean Wave. Dimulai dengan suka drama-nya, music-nya, hingga pesohor sana yang terkenal cakep-cakep. Saya sendiri walau punya perawakan bak debt collector, tapi hati saya tak kuasa menolak demam Korea ini ha ha ha ha.

Dan perlu saya akui bahwa gara-gara keseringan nonton drama dan variety show Korea saya jadi penasaran dengan beberapa kuliner negerinya SNSD ini. Sebut saja Kimchi, Tteokbokki, Kimbap, dll. Namun masalahnya hasrat saya untuk mencicipi masakan tersebut menemui kendala. Di kota saya, Bumi Arema, kuliner Korea belum ada yang jualan ternyata. So saya pun harus mengurungkan niat saya untuk icip-icip kuliner negeri gingseng itu dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Tak bisa makan di resto korea saya pun nekat untuk bikin sendiri saja. Berdasarkan resep yang saya dapatkan dari Youtube saya mulai mencoba membuat Tteokbokki (kue beras pedas) dan Kimchi. Lagi-lagi saya mendapat rintangan di sini. Bahan-bahan masakannnya susah banget dicari di supermarket. Sebut saja Tteok (kue beras) dan Gokujhang (pasta cabe). Saya pun harus ngublek-ngublek internet lagi untuk bikin sendiri.

Setelah semua bahan tersedia, saya mulai membuat dua masakan ini atas petunjuk Bapak Haji Youtube. Dan setelah jadi, taraaaaa…… saat yang paling menegangkan pun tiba, mencicipi. Dan begitu mencicipi…. Jreng-jreng…. Rasanya maaaaaak, aduhai, dahsyat, luar biasa *sambil applause*….. BTW kok gini ya??? Jedhieeer.

Ok perlu saya akui bahwa rasa masakan ini tak sesuai yang saya bayangkan. Rasanya sengak-sengak, asem, pedes, asin, manis digabung jadi satu tanpa ada rasa gurih. Jujur kalo bisa dibilang saya cukup kecewa. Kalau untuk kimchi saya sih sebenernya berharap rasanya mirip lalapan sawi putih pake sambel terasi. Trus kalau tteokbokki saya berharap rasanya memper-memper Cilok legendaries di depan SMA 8 Malang.

Beda budaya beda pula standar rasa. Dan setelah saya browsing di internet memang standar masakan Korea memang gak jauh beda dengan apa yang telah saya rasakan. Hal itu banyak diungkapkan di forum-forum internet, jikalau lidah Indonesia kurang cocok dengan masakan Korea. Hal ini semakin diperkuat setelah saya mencoba juga beli Ramyun instan (mie instan korea) yang halal tentunya, dan rasanya mirip banget dengan hasil masakan yang pernah saya buat. Oh iya, ramyun instan ini kalo dibandingkan dengan Indomie, wah kalah jauh lah.

Setelah apa yang terjadi saya pun menyimpulkan bahwa masakan Indonesia jauh jauh jauh lebih asik dari masakan Korea. Bahkan gara-gara itu saya jadi mengurungkan niat buka Korean resto kelas kaki lima. Bolehlah saya jadi bias SNSD Taeyeon, Boram T-Ara, atau Jia Miss-A. Tapi urusan kuliner tetep Bakso Bakar, dan Mie Ayam Solo tetep the best.

Eh bentar-bentar…. Masakan Korea memang secara rasa kalah jauh dari masakan Indo. Namun kalau dilihat dari aspek kesehatan masakan mereka punya khasiat yang ciamik. Kimchi contohnya. Makanan pembuka ini kalau anda santap sedikit saja sebelum makan yang lainnya, maka lidah anda akan mampu merasakan masakan jauh lebih peka dari sebelumnya. Dan efeknya tidak itu saja. Pas besoknya pencernaan saya jadi lancar banget (sori…. Lancar  bukan berarti mencret loh ya). Jadi kesimpulannya rasa boleh kalah, tapi kalau mau sehat tidak ada salahnya anda coba masakan korea terutama yang berbasis sayur.

Anda Jomblo…. Lakukanlah Hal Ini saat Valentine’s Day!!!

Februari 13, 2012 Tinggalkan komentar

1.  Doa

Orang jomblo itu masuk alam golongan teraniaya. Dan doa orang teraniayah itu diijabah. Saya yakin anda yang jomblo (kayak saya nggak jomblo aja) pasti ngenes karena sering mendapat hinaan dan cacian dari para kaum yang tidak mau bertoleransi dalam ber-asmara. Mau tahu siapa contohnya? Tuh yang suka pajang prof pic berduaan sama pacarnya. Walaupun kalau si pelaku adalah cewek, biasanya cowok di fotonya lebih tampak sebagai budak daripada pacarnya. Atau orang-orang yang sering sok unyu pas ngetwit dengan pacarnya….hueeeeeeeek *dengki tingkat kecamatan*.

Nah orang model begini lah yang butuh DOA kita. Seperti apa doanya? Simple saja. Doakan pas tanggal 14 Februari ntar hujan deres, banyak ulangan, deadline kerjaannya numpuk, atau bisulan di pantat. Pokoknya doa aja biar kaum yang gak punya toleransi berasmara itu apes pas hari laknat, 14 Februari.

2. Sabotase

Pasti ada dong temen kumpulan anda yang suka pamer kemesraan dengan pacarnya. Kurang ajarnya, tuh orang pamernya di depan kita-kita yang sedang melajang ini. Orang model begini gak usah dikasihani cuy. Kasih pelajaran…!!!! Salah satunya adalah dengan men-sabotase hari Valentine si Kampret ini.

Sebagai contoh berpura-puralah anda jadi agen pensuplai coklat khusus Valentine. Nah sebisa mungkin tawarkan produk dagangan anda ke temen yang rese tadi. Namun jangan lupa. Kalo deal, maka jangan sampai yang anda jual itu adalah coklat beneran. Ganti dengan Broklak!!! Mencret….mencret…dah.

NB : broklak itu obat pencuci perut yang mirip coklat.

3. Mengalihkan Perhatian

Coba deh ente perhatiin. Orang pacaran itu sebenernya masing-masing mereka tersiksa kok. Kebanyakan sih mereka menjalin hubungan bukan untuk saling mengasihi. Tapi hanya untuk sekedar prestis. Dan yang lebih parah, malah ada yang pacaran hanya demi ‘status hubungan’ di facebook supaya tercantum ‘sedang berpacaran dengan………’.

Model hubungan semu seperti ini sebenernya mudah dihancurkan kok he he he he. Tinggal alihkan saja perhatian dari cewek atau cowoknya. Cukup pilih salah satu saja. Contoh kasusnya kalau yang ingin kita alihkan perhatiannya adalah si cowoknya, cukup iming-imingi dengan tawaran nonton bareng tim bola kesayangan. Ato ajak aja maen PS3, futsal, atau kegiatan yang kesannya lebih penting dari cewek mereka. Hmpf….

Kalau yang ente alihkan perhatiannya adalah sang cewek, cukup dengan ngasih brosur diskon baju di mall, distro, atawa butik. Mudah kan?

4. Berbohonglah Untuk Sementara

Ini adalah cara terakhir. Namun perlu saya ingatkan bahwa ini adalah cara paling hina diantara semua cara. Karena dengan cara ini kita terpaksa mengingkari takdir yang ada pada diri kita sebagai seorang jomblo. Dan cara itu adalah berbohong. So..so..so..ri men… merinding ane jadinya.

Pas tanggal 14 Februari dan kemudian kita mulai terdesak dengan pertanyaan-pertanyaan model, “eh paca lo mana bro?” atau “eh beli coklat… mau dikasih ke siapa coba?”. Nyebelin khan pertanyaan model begitu? Bangeeeeeeet. Maka berbohonglah… Katakan, “Ini hari kasah sayang, walau saya gak ngerayaain karena alsan prinsip, tapi Alhamdullah yahh saya tetap mencintai pacar saya. Dia baik, cantik, perhatian…….namanya Bambang,” *hening…….*

Waspada Jomblo Berformalin !!!

Februari 13, 2012 Tinggalkan komentar

Anda Jomblo Awet? Mungkin Berformalin

Mendadak pengen gigitin sandal jepit. Penyebabnya lagi-lagi gara-gara berita kawin seorang temen. Bukannya apa sih, tapi dengan kawinnya dia berarti saya tinggal satu-satunya orang dari 4 sekawan di remaja musholah poltek 2004 yang belum menikah. Eh tapi beneran loh…. Biar slenge’an begini saya maennya di musholah cuy ho ho ho ho.

Sesek dengar berita itu? Yah, saya akui sangat menyesakkan. Saya jadi ibarat Will Smith di I am Legend. Sama-sama item manis. Tapi bukan itu intinya. Intinya saya seolah jadi orang terakhir di sebuah kota dimana penduduknya telah menjadi zombie. Bedanya saya jadi perjaka terakhir di hampir tiap kumpulan saya.

Seorang teman saya pernah bilang, jangan-jangan status jomblo saya yang awet banget itu diakibatkan karena sering makan bakso sembarangan. Berhubung baksonya mengandung formalin jadi merembet deh ke status saya. Jadilah pemuda jomblo berformalin alias awet banget jomblonya. Minta dihajar banget kan tuh teman saya. Emang saya Tahu pake dipakein formalin?

Pasca tragedi menggigit sandal jepit tadi, saya pun segera merumuskan langkah-langkah yang dirasa perlu. Kalau cuma ‘prihatin’ ntar kaya bapak yang……itu tuuuh. Yang pertama sih nyari tahu apa Annisa Cherry Belle udah punya pacar apa belum? Eh ternyata doi lagi di incer Ryan deHansip, bro. Tengsin donk….. masa saya saingan sama penyanyi band. Gak lepel lah. Bentar… kebalik ya?

Langkah kedua adalah ngelist temen-temen cewek yang masih jomblo juga. Yah, siapa tahu mau diajak joinan gitu…. Maksud loooooh? Untuk metode ngincerin temen sepertinya perlu dihindari dulu coy. Selain riskan buat pertemanan, hal model begini juga banyak dramanya. Capek kan. Belon kawen udah lemes duluan. Ambigu….bener-bener ambigu.

Cara ketiga adalah cara yang sepertinya cukup rasional dan menggoda. Yaitu ngincer ababil. Apalagi yang masih SMA. Konon ada kabar burung, ababil lebih suka lelaki matang daripada cowok imut dan ganteng. Tahu matang kan? Matang itu bukan tua coy, tapi dewasa. Nah kalo cowok imut dan ganteng konon sih banyak yang Maho ha ha ha ha ha #tertawatanpaekspresi.

Ok, ketiga cara tadi mungkin gak ada satupun yang merupakan langkah kongkrit. Au ah gimana nanti deh. Mikirin orang lain mau kawin emang bikin pusing bro. Tapi beda lagi kalau kita sendiri yang ngalamin. Asik kali ya? *jongkok di closet….. disambi ngupil*

Inilah Cara Jaman Dulu Kalo Mau Dapet Lagu Gratis…!!!

Mei 18, 2011 6 komentar

Asik ngublek-ngublek file mp3 di kompie sembari menunggu download-an selesai. Maklum brur, quota Sapidol sudah over limit, jd downloadnya lumayan lemot. Nah sedang asik-asiknya melototin mp3 tembang nostalgia, mata indah saya langsung tertuju pada dua buah lagu yaitu How Do I Live (Trisha Yearwood) dan My Heart Will Go On (Celine Dion). Dua lagu yang booming di era 96-97.

Dan hebatnya dua lagu ini berhasil menguak masa lampau saya. Bahwa sesungguhnya saya adalah Putra Yang di Tukar dengan Sandal Jepit hayaaaaaah…. Bukan om, dua lagu ini mengingatkan saya akan aktivitas saya pada masa itu. Karena saking kepinginnya ndengerin dua lagu ini setiap saat, saya terpaksa merampok salah satu kaset bekas milik kakak untuk dibuat merekam lagu. Maklum lah buat mendapatkan lagu di jaman segitu tidak seperti sekarang. Kalo sekarang tinggal ngopy di warnet, beli mp3 bajakan, ato download via internet. Nah dulu, nemu rentalan komputer yang ada game dos-nya saja sudah untung (gak nyambung kan…?).

Aktivikas rekam merekam ini tidaklah semudah yang dikira. Memang sih teknisnya cuman tinggal mencet tombol rec dan play di Tape bersamaan. Namun masalahnya, kita kudu betah nunggu lagu yang diincer diputar di radio lebih dahulu. So…. disini kita olang pake filosofinya orang mancing. Sabar.. sabar.. dan sabar.

Beberapa hal yang bikin jengkel saat mau merekam lagu di radio adalah sebagai berikut :

Kelewatan

Ini merupakan masalah umum yang dihadapi orang yang gemar rekam merekam seperti saya. Lagu yang diputar jadi kepotong di awal. Padahal intro sebuah lagu biasanya justru jadi daya tarik lagu tersebut. Pada kasus kelewatan yang sering saya alami, saya sering kelewatan gara-gara pas asik di depan radio, tiba-tiba saya disuruh Ibu beli micin dan terasi di warung sebelah. Nah pas saya beli micin dan terasi tadi, ternyata tuh lagu malah diputer.

Penyiar Terlalu Cerewet

Lagu belum rampung (bahkan masih di reff pertama) si penyiar sudah terlanjur ngoceh. Alunan nada yang indah jadi terkontaminasi suara lebay penyiar. (Sori yang profesinya penyiar… bukan maksudku melukai hatimu)

Pitanya Habis

Kalo ini sih lebih ke faktor perekamnya saja. Kadang-kadang saya sering lupa ngecek posisi pitanya. Pas sudah dapat timing yang pas… eh lah dalah… kasetnya habis. Jadilah kucing-kucing di kasur jadi pelampiasan. Saya gigiti ekornya, sampe nyathek-nyathek (nyakar-nyakar)….

Salah Saluran

Misalnya menunggu lagu barat, eh kitanya malah nungguin di siarang lagu dangdut ato karawitan. Itu masih mending, saya malah pernah nungguin lagu “Hard To Say I’m Sorry” yg dinyanyikan AZ YET di program siaran Sanggar Cerita Anak-Anak….. Slamat berjumpa dengan sangar cerita…tutuw tutuw

Tidak Ada Yang Request

Bukannya tidak mau request sendiri sih… tapi saat itu umur saya masih 10 tahun. Masih lucu dan lugu… imut lagi. Jadi tidak mungkin donk telpon ke kakak-kakak penyiar supaya diputerin lagu-lagu barat yang notabene konsumsi 17 tahun ke atas itu. Ntar saya malah disuruh ndengerin lagunya Joshua ato Trio Kwek-Kwek lagi.

Sialnya…. selama 60 menit ternyata tidak ada satu orang pun yang merequest lagi itu.

Kaset Sudah Tidak Layak Pakai

Berubung kaset yang dipakai itu-itu saja, kualitas pita doi jadi menurun drastis. Lagu yang direkam pun jadi mendengung dan tidak jelas. Solusinya, bajak kaset lain…… Tapi kadang-kadang saya tetap bertahan dengan kaset lama. Karena kalo pake kaset sembarangan bisa dimarahi kakak saya yang saat itu terkenal cukup kejam dengan seorang adik.

Njegleg (Trip) ato Mati Lampu di Tengah Merekam

Listrik padam di tengah aktivitas merekam. Yang pertama gara-gara listrik di rumah saya njegleg (trip). Pasalnya saat itu daya di rumah saya memang tidak besar. Bahkan untuk menyalakan tv Dijitak… Digitec ding, listrik bisa padam.

Namun kedongkolan itu bisa tambah menjadi-jadi bila PLN tiba-tiba memadamkan listrik di area tempat tinggal saya tanpa peringatan di radio KDS 8 dulu.

Walaupun tampak ribet dan tidak praktis, tapi tetap saja aktivitas merekam lagu-lagu di radio dengan kaset menjadi kegiatan yang menyenangkan. Kenangan tentang kebiasaan saya di masa lampau ini menjadikan saya hamba yang bersyukur. Bayangkan dulu pengen dapat satu lagu saja susahnya minta ampun. Sedangkan sekarang cukup butuh sesaat dan lagu favorit pun telah tersedia. Fiuh fiuh fiuh….

%d blogger menyukai ini: