Archive

Archive for the ‘religi’ Category

Life of Pi : Pengalaman Spiritual Yang Menakjubkan

Desember 12, 2012 9 komentar

Prolog : Kenapa Saya Nonton Life of Pi?

Cuy… udah nonton Life of Pi bagus gak?

Itulah pesan yang saya terima dari salah seorang teman di WhatsApp. Berhubung saya juga belum nonton akhirnya saya bales :

Ane juga belum nonton tuh. Tau deh….

Jujur saja saya sendiri baru tau ada film judulnya Life of Pi ya pas temen saya nanya tadi. Karena rada penasaran akhirnya saya cari-cari trailernya di Youtube. Scara gitu, gak afdhol kalo seorang yang SUFI (Suka Film) seperti saya sampai gak tahu kalau ada film baru nongol di bioskop.

Singkat cerita saya temukan trailernya di Youtube, dan tunggu dulu….

“Film India? India bul-bul?” Setidaknya itulah yang ada dalam benak saya begitu melihat trailernya. Mulai dari pemeran hingga setting cerita sepertinya memang ada di negeri Sharukh Khan itu.

Namun satu hal yang membuat saya penasaran sekaligus tertarik adalah Macan Bengali dalam cuplikan Life of Pi. Apa yang dilakukan seekor macan di perahu skoci? Pertanyaan inilah yang membuat saya tanpa pikir panjang langsung ke Dieng Plaza untuk nonton film ini.

Begitu sampai, saya langsung di sapa senyum manis si mbak penjaga bioskop (lihat senyumnya saya yakin si Mbak ini naksir berat ke saya :p ). Begitu saya memesan satu tiket, eh ternyata di monitor display terlihat baru sekitar 10 orang yang bakal nonton nih film. Gawat juga nih, saya jadi ragu, apa beneran Life of Pi ini film yang bagus.

Berhubung khawatir mengecewakan mbak yang (kayaknya) naksir saya tadi, ya sudahlah saya pesan satu tiket untuk menonton Life of Pi. Urusan ntar ternyata film-nya bagus atau jelek belakangan deh.

Tepat pukul 18.15 film ini dimulai. Saya ingat hari itu adalah hari Jumat (penting gak sih? Hehehehe). Saya memasuki bioskop pun dengan hati yang syahdu (karena baru patah hati). Eng ing eng…. Betulan cuman 10 orang yang nonton. Dan pas di barisan bangku yang saya duduki….. cuma saya yang duduk di situ (“._.)/|Dinding bioskop|.

Bismillah…… Mulai.

Film ini dibuka dengan alunan lagu relaksasi berbahasa India dengan menampilkan suasana kebun binatang yang indah. Woaaaahhhh……… opening credit ini langsung membuat saya jatuh cinta dengan film ini.

Tidak hanya berhenti di opening credit, tiap adegan dan dialog saya seolah membuat perhatian saya susah teralihkan.

SINOPSIS

Film ini sendiri bercerita tentang perjalanan hidup seorang Pi Patel. Saat kecil Pi hidup disebuah keluarga yang bahagia bersama Ayah, Ibu, dan kakaknya Ravi. Ayah Pi adalah seorang penganut paham matrealis. Ibunya walau penganut Hindu namun dalam beberapa aspek masih terpengaruh kuat oleh pemikiran sang Ayah.

Berbeda dari keluarganya, Pi sangat tertarik tentang Tuhan dan Agama. Sejak kecil Pi begitu senang dengan cerita tentang Dewa Krishna dan Wisnu. Di saat menginjak remaja Pi bertemu dengan seorang Pendeta Kristen. Tertarik dengan cerita penyaliban Kristus, Pi pun memeluk Kristen tanpa meninggalkan Hindu. Pun begitu saat mengenal tentang Islam, Pi juga tertarik tentang ajarannya yang universal. Lagi-lagi, dia memeluk Islam tanpa meninggalkan Hindu dan Kristen.

Namun kisah tentang keyakinan Pi pada Tuhan ini teruji saat keluarganya harus meninggalkan India karena krisis ekonomi pada saat itu. Hotel milik ayahnya terpaksa dia jual. Namun hewan-hewan yang dipelihara di hotel (yang juga kebun binatang), diputuskan untuk dijual di luar negeri karena harganya lebih mahal. Alhasil Pi sekeluarga harus pindah dari India dengan membawa hewan-hewan miliknya dengan kapal milik perusahaan Jepang.

Apa daya, dalam menuju Kanada, kapal yang ditumpangi Pi diterjang badai dahsyat hingga tenggelam. Pi selamat dengan menaiki skoci bersama seekor Zebra yang patah kakinya, Heyna, Orang Utan, dan Richard Parker. Richar Parker ini adalah seekor Harimau Bengali.

Karena masuk dalam lingkaran rantai makanan tentu saja Zebra dan Orang Utan ini dimangsa oleh carnivora semacam Heyna. Dimana Heyna ini akhirnya dibunuh oleh Richard Parker si Macan. Dan tinggalah Pi dengan seekor macan bengali di kapal skoci.

Sendiri di tengah samudra yang luas bersama seekor macan yang ganas tidak membuat Pi terpuruk. Dia menyerahkan dirinya kepada Tuhan.

God, i give my self to You…..” Ujar Pi.

Pi mendapat sebuah pengalaman menakjubkan di tengah lautan bersama Richard Parker. Dua makluk yang seharusnya saling membunuh malah menjadi teman perjalanan karena situasi. Berbagi makanan, berbagi tempat, bahkan saling berbagi kesepian dan kesedihan.

Badai yang tak kenal ampun membuat skoci yang ditumpangi Pi dan Richard Parker terombang-ambing. Mereka tak memiliki apapun lagi untuk dimakan. Tubuh Pi dan Ridhard Parker semakin lemah, lunglai, tak berdaya. Mereka pasrah kemanapun ombak akan membawa skoci yang mereka tumpangi.

Tak disangka skoci yang ditempati Pi terdampar di sebuah pulau misterius. Namun disinilah Pi menemukan air untuk minum, dan makanan dari tumbuh-tumbuhan. Begitu juga dengan Richard Parker.

Saat malam tiba Pi mulai merasakan keganjilan pada pulau yang ditempatinya. Air jernih yang tadi dia minum memunculkan bangkai ikan yang sangat banyak. Pi semakin terkejut saat dia menemukan gigi manusia ada di bunga pohon yang dia tempati.

Merasa pulau ini adalah pulau yang aneh, keesokanya Pi mengajak Richard Parker untuk pergi sembari membawa bekal secukupnya.

Lagi-lagi Pi dan Richard Parker harus melalui perjalanan berat di lautan yang sangat luas. Sampai bekal makanan yang mereka bawa dari pulau misterius pun habis.

Setelah terombang-ambing di lautan hingga 227 hari Pi sampai di pantai meksiko. Kondisi badannya benar-benar sangat kurus dan lusuh saat itu. Pi berusaha sekuat tenaga untuk bisa sampai di pantai. Dan begitu sampai di pantai Pi sudah tak kuat lagi. Kesadarannya mulai menghilang. Di saat itu dia sempat melihat Richard Parker pergi meninggalkannya. Tanpa menoleh ke arah Pi, tanpa mengaum untuk menandakan perpisahan mereka. Pi sangat terpukul saat mengetahui Richard Parker pergi menghilang begitu saja.

All of life is an act of letting go but what hurts the most is not taking a moment to say goodbye.”

Cerita fantastis Pi ini lalu diceritakan pada seorang novelis atheis. Paman Pi-lah yang meminta sang novelis untuk datang pada Pi. Karena menurut pamannya, Pi punya cerita yang akan membuat sang novelis percaya pada Tuhan.

Namun selain cerita fantastis itu, Pi juga menceritakan versi lain dari kisahnya bertahan hidup di samudra. Tidak ada zebra, Orangutan, Heyna, ataupun macan bengali. Yang ada hanya sang pelaut (zebra), Ibu Pi (Orangutan), Juru masak yang licik (Heyna) dan Pi sendiri (macan bengali). Empat orang ini harus saling membunuh dan saling makan demi bertahan hidup di samudra. Dimana akhirnya Pi adalah orang terakhir bertahan hidup.

Pi menceritakan versi lain itu karena pihak pemilik kapal (asal Jepang), menginginkan ada kesaksian dari Pi yang masuk akal agar bisa diterima oleh perushaan asuransi.

Sang novelis pun bingung. Mana cerita yang sebenarnya. Pi lalu mempersilahkan novelis untuk memilih, “So wich story do you prefer?

The one with the tiger. That’s the better story”

Thank you… And so it goes with God”

It’s an amazing story,” ujar novelis sambil tersenyum.

Yang Bikin Film Ini Cetar Membahana Badai

Saya merasa inilah film terbaik yang pernah saya tonton di tahun 2012. Score-nya selalu nancep dan membawa suasana hati di tiap adegan. Sinematografi juga begitu indah. Saking indahnya mata saya sampai enggan berkedip untuk menikmati tiap adegan yang tersaji. Sayangnya saya nonton film ini bukan dalam format 3D. Yaaah…. coba di Malang ada bioskop 3D.

Akting Suraj Sharma sebagai Pi 16 tahunan benar-benar luar biasa di sini. Gak nyangka loh, doi baru pertama kali masuk tipi…. eh pilm.

Dan tentu saja bagian terkuat dari Life of Pi adalah ceritanya. Bayangkan 75% durasi film ini adalah monolog si Pi. Tapi walau demikian saya tidak bosan atau jenuh dengan tiap ucapan kata yang terlontar dari mulut Pi. Sangat filosofis, penuh makna, dan sarat akan pesan moral.

Salut buat Mr. Ang Lee deh yang menggarap film ini jadi cetar membahana badai. Konon kata temen saya yang pernah baca novelnya, Life of Pi ini adalah film yang jauh lebih bagus dari versi novelnya. Ang Lee berhasil membangkitkan beberapa adegan di novel jadi lebih luar biasa.

Pesan Moral Yang Saya Dapat Dari Film Ini

Kebanyakan orang menilai film ini dari sisi pluralisme-nya dimana Pi adalah penganut tiga agama sekaligus. Namun saya lebih menilai film ini adalah tentang bentuk kepasrahan hamba kepada Tuhannya. Saat Pi kehilangan keluarganya yang ikut tenggelam bersama kapal, lalu dia terjebak bersama harimau, Pi tidak lantas menyalahkan Tuhan. Dia malah menyerahkan nasibnya kepada kehendak Tuhan. Dia tetap akan berusaha sekuatnya untuk melihat apa yang diinginkan Tuhan dari kejadian yang menimpanya saat itu. Dan itulah yang justru membuat keimanan Pi kepada Tuhan semakin kuat. Walaupun selalu saja ada situasi-situasi sulit yang acapkali membuat Pi hampir putus asa.

Ada satu ucapan Pi yang menyentak hati saya dia meninggalkan pulau misterius. Saya lupa tepatnya namun secara garis besarnya seperti ini :

Di saat kita merasa Tuhan tak lagi peduli lagi kepada kita, maka di saat itulah sebenarnya Tuhan mengulurkan tangannya untuk membantu kita.

Tuhan selalu ada bagaimanapun kondisi kita. DIA selalu mebantu kita dengan rahmatNYA. Hanya kita yang belum memahamiNYA dengan utuh. Karena DIA selalu bekerja dengan cara yang misterius.

Pahlawan dan Kita

November 9, 2012 Tinggalkan komentar
Tribute to Pak Zuri

Pak Zuri

“Alhamdulillah, saya tunggu-tunggu mas,” ujar Pak Zuri. Dia tampak senang dengan kedatangan saya di rumah kecilnya.

“Maklum mas, mau saya buat beli Iqro’ untuk anak-anak TPQ. Lah mereka pada gak mampu beli sendiri,” imbuhnya.

Pak Zuri adalah seorang guru ngaji di wilayah Tumpang yang ikut program Insentif Bulanan Guru Quran (Ibuqu) yang diadakan oleh kantor saya, NH Malang. Tiap bulannya program ini memberikan uang sebesar Rp. 100.000,- pada para guru ngaji di Malang Raya seperti Pak Zuri. Hingga saat ini sudah sekitar 250 orang yang bergabung dalam Ibuqu.

“Santrinya Pak Zuri sekarang berapa pak,” tanyaku.

“Sekitar 100 anak mas”

“Semuanya bapak yang handle?”

“Iya mas, mau siapa lagi?”

“Wah, gak capek tuh pak? Kenapa tidak cari ustadz lain untuk bantu Pak Zuri,”

“Kalau cari orang lain saya mau bayar pakai apa mas? Wong anak-anak itu mengaji disini juga saya gratiskan, gak pake iuran. Ya, kalau mau ada yang bantu ngajar disini sih gak apa-apa, tapi syaratnya lillahita’ala,” jelas Pak Zuri.

Terus terang saya dibuat garuk-garuk kepala. Masih saja ada orang yang mau berbuat kebaikan untuk orang lain tanpa minta imbalan. Insentif dari NH saja seringkali dia gunakan untuk memenuhi kebutuhan belajar mengajar santrinya. Bukan untuk beli beras atau kebutuhan pribadinya.

Pak Zuri adalah salah satu contoh dari sekian banyak orang yang perannya besar di masyarakat namun sering terabaikan. Statusnya sebagai guru ngaji mungkin sangat remeh bagi kita. Tapi sesungguhnya orang-orang seperti Pak Zuri ini layak disebut pahlawan. Mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendekatan agama. Dan point terpentingnya, semua itu dilakukan tanpa pamrih. Tanpa mengharapkan imbalan berupa materi. Walaupun kondisi ekonomi pria asli Tumpang ini tidak bisa dikatakan cukup.

Pahlawan, apa itu arti pahlawan? Diambil dari bahasa Sansekerta, phala-wan, yang berarti orang yang dari dirinya menghasilkan buah (phala) yang berkualitas bagi bangsa, negara, dan agama. Dengan kata lain pahlawan bukan hanya mereka yang gugur di medan perang saat penjajahan saja. Tapi pahlawan adalah siapapun yang mau berbuat sesuatu untuk membangun bangsa.

Lalu bagaimana kalu kita berbuat. Berbuat sesuatu yang bisa merubah keadaan lebih baik. Bahasa maduranya, Let’s change the world. Dan ketika itu disampaikan maka kebanyakan jawaban kita adalah, “serius amat yaaaahhh”.

“Ciyus, miapah?”

“Ngrubah dunia? Ngerubah diri sendiri aja susah kalee”

“Saya cuma rakyat kecil”

“Saya cuma mahsiswa”

“Saya cuma pegawai biasa”

“Saya cuma ini, Saya cuma itu…..”

Itulah beberapa contoh jawaban kita untuk lari dari tanggung jawab. Kalau kata Nasional.Is.Me karangannya Pandji, kita terlalu sering merendahkan diri kita dengan kata cuma, susah, gak mungkin dan sejuta kalimat pesimis lainnya.

Sejarah mengajarkan pada kita bahwa “gak mungkin” kita menang lawan sekutu yang saat itu persenjatannya super canggih. Dan, ternyata kita bisa mempecundangi mereka tuh. Atau pikir lagi deh, apa mungkin 1128 suku bangsa bisa membentuk suatu negara kesatuan. Buktinya bisa tuh, Indonesia.

Siapapun dan apapun profesi kita, kita punya kesempatan yang sama untuk menjadi pahlawan. Pak Zuri orang dengan penghasilan minim saja bisa punya kontribusi besar untuk lingkungannya, kenapa kita tidak? Bayangkan kalau anda dosen, penghasilan anda mungkin sepuluh kali lipat penghasilan Pak Zuri. Belum lagi sumber daya di kampus itu melimpah ruah, baik dana maupun sumber daya inteleqtualnya. Apa itu masih kurang untuk memberikan sesuatu perubahan?

Pun sama dengan anda yang pegawai kantoran. Gaji anda tiap bulan dan akses anda dengan klien kantor, saya kira sudah bisa jadi modal yang cukup kuat untuk menghasilkan karya yang bisa dinikmati masyarakat.

Bahan kalau anda hanya mahasiswa sekalipun, tetap saja modal anda merubah kondisi lingkungan sosial tetap terbuka lebar. Jangan remehkan you punya otak dan tenaga hei mahasiswa.

Setiap orang dilahirkan untuk menjadi pahlawan. Sekarang pilihan ada pada kita. Apakah kita mau menggunakan potensi itu atau justru menyerah pada keadaan, lalu membuangnya begitu saja.

There’s a hero,
If you look inside your heart,
You don’t have to be afraid of what you are,
There’s an answer,
If you reach into your soul,
And the sorrow that you know will melt away.

(Hero – Mariah Carey)

Selamat Hari Pahlawan, Kawan!

Miss Hannah, “Islam Can Be Stylish”

November 16, 2010 5 komentar

Semenjak Miss Hannah memeluk Islam 4 tahun lalu, dia gelisah memikirkan bagaimana beratnya menjadi seorang muslimah di negara barat. Apalagi sebagai seorang Muslimah harus berpakaian dengan menutup aurat yang berbanding terbalik dengan gaya barat yang sangat terbuka.

Atas dasar itulah, Miss Hannah kemudian memutar otak bagaimana menciptakan fashion style yang menutup aurat namun bisa diterima di mata orang barat. Dia menginovasikan busana muslimah eropa dan muslimah yang tinggal di negara non muslim lainnya. Di sana para muslimah bisa tampil dengan modis sekaligus tetap dalam koridor norma agama sehingga mereka secara nyaman bisa bersosialisasi dengan masyarakat sekitarnya (yup ini menjelaskan bahwa Islam bukan anti-sosial).

Kini Miss Hannah bersama suaminya (ea..pupus dah harapan) membuka usaha kecil-kecilan, sebuah web fashion company yg namanya maysaa.com.

Berikut ini contoh rancangan Miss Hannah :

Miss Hannah 1
Miss Hannah 2
Miss Hannah 3
Miss Hannah 4
Miss Hannah 5
Miss Hannah 6
Miss Hannah 7
Miss Hannah 8
Miss Hanah 9
Miss Hannah 10
Miss Hannah 11
Miss Hannah 12
Miss Hannah 13
Miss Hannah 14
Miss Hannah 15
Miss Hannah 16
Miss Hannah 17
SUMBER :

Biarkan Kelemahan Itu Membuat Anda Hebat

November 4, 2010 2 komentar

Pernah tidak kita merasa sangat kekurangan dan tidak sempurna? Bahkan karena kekurangan itu kita mendapat cemoohan yang sangat menyakitkan hati. Kita tidak sanggup membalas karena di satu sisi, apa yang dihinakan pada kita adalah sebuah kenyataan. Kenyataan pahit yang terpaksa kita terima. Dunia pun seakan enggan memberikan pembelaannya. Saat itu kita mulai bertanya, apakah memang kita diciptakan untuk sendiri? Tanpa satu pihakpun yang menghargai kita apa adanya?

Namun selang beberapa lama kita mulai kebal dengan komentar miring orang lain. Tanpa disadari kita mampu menemukan sebuah cara tersendiri dalam menyikapi sesuatu yang dianggap kebanyakan manusia adalah “hina”. Kekurangan yang kita miliki menuntun pada sesuatu yang disebut dengan bakat dan kelebihan. Kita menjadi sesosok manusia baru yang bahkan lebih hebat dari kebanyakan orang.

Lihatlah bukankah telah banyak contoh orang yang mampu menyapa kejayaannya walaupun bagi kebanyakan orang mereka tidak sempurna. Garincha, pesepak bola asal Brazil yang kakinya tidak sama panjang, justru dia merupakan penemu tendangan pisang yang terkenal itu. Liu Wei juara China’s Got Talent, adalah seseorang yang tak punya lengan namun dapat bermain piano menggunakan kedua kakinya dengan begitu indah. Atau Mark Zuckerberg pencipta Facebook yang ternyata adalah seorang buta warna. Dan masih banyak lagi.

Kini, tinggal kita. Seseorang yang merasa dirinya sangat kurang dibanding orang lain. Kita memang tak bisa memilih untuk jadi manusia yang utuh tanpa cacat. Tapi kita bisa memilih untuk menjadikan kekurangan yang kita miliki sebagai sebuah kehabatan yang tak pernah dibayangkan.

Sejenak mari kita merenung bahkan menangis, dalam menikmati tayangan dibawah ini. Namun setelahnya biarkan semangat kita menuntun pada keinginan untuk bangkit.

 

QUOTES


Sesungguhnya KAMI telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (QS 95:4)

 

Allah tidak menciptakan manusia itu ada yang pandai dan yang ada yang bodoh. Sebaliknya Allah itu menciptakan manusia itu berbeda-beda kepandaiannya (di bidang yang berbeda). Keberhasilan seseorang akan datang saat dia mengenali potensi dirinya (Abu Saif)

 

You Need to believe!!

(Master Ooguay, Kungfu Panda)

Hari Gini Sholat….???

Oktober 6, 2010 3 komentar

Saat adzan berkumandang di negeri kita tercinta dan kemudian ada ajakan sholat, inilah jawaban yang mungkin kita berikan :

  • Ah ntar aja di rumah
  • Wah celana kayaknya kotor, dan gak bawa sarung
  • Ga bawa mukenah, trus gimana donk
  • Halah nanggung banyak kerjaan
  • Sholat kan nomor dua, yang pertama sahadat he he he he
  • Ibadah yang penting di hati… syariat urusan belakangan…..
  • Aduh lagi halangan (khusu wanita)
  • Wah aku juga halangan (padahal laki-laki)
  • Males……
  • Halah, ngapain sholat. Toh banyak orang sholat tapi tetep aja kelakuan bejat.
  • Sholat gak sholat itu kan urusan gue, ngapain lu ikut-ikut sih.
  • (tak ngomong apapun, sambil pasang wajah masam)
  • (dan sejuta alasan lainnya yang penting ujung-ujungnya gak sholat).

He he he… itulah fenomena yang terjadi di masyarakat Indonesia. Negeri yang konon (ingat saya bilang konon) peduduknya sebagian besar umat Islam. Tak perlu heran! Karena inilah memang nyatanya.

Saya disini tak akan menjastifikasi mana yang benar dan mana yang salah. Yang sholatkah atau yang tak sholatkah. Boleh atau tidaknya meninggalkan sholat silahkan anda cari jawabannya sendiri! Soal pilihan akhir itu terserah masing-masing kita.

Hanya saja saya ingin berbagi gambar untuk kita renungkan bersama :

Muslim Khazakstan Mengerjakan Sholat Di Tengah Salju

Muslim Itali di kota Milan

Muslim India di Kota Mumbai

Muslim di Kota Yerussalem sholat dengan pengawasan ketat tentara Israel

Umat Muslim Amerika

Sholat di perahu

Tidak masalah, puing-puing bangunan pun jadi tempat yang layak untuk berjamaah

Sedikit tempat berpijak

Memang Penyelam yang bertugas Tidak Boleh Menghadap???

Kekurangan Fisik Tak Menjadi Halangan Untuk Menghadap-NYA

Mengerjakan Sholat di Perjalanan Udara

No Parking khan... bukan No Sholat

Luasnya Gurun Pasir tak sebanding dengan Luasnya Pengampunan-MU

Mendekatkan diri di hamparan rerumputan yang hijau

Sujud di tengah keramaian

Trotoar jadi salah satu pilihan bila tak menemukan masjid

Tubuh tak tegak karena cacat. Tapi orang ini tetap punya ssemangat untuk menegakkan tiang agama

Apa gunanya sehat jasmani kalau tak sehat rohani?

Semoga perdagangannya diberkahi

Sisihkan waktu saat bersenang-senang di taman kota

Sulitnya medan tak jadi hambatan

Di hadapan-NYA kita sama

Di Golden Gate

Selama menutup aurat kenapa tudak?

Benarkah seturan bakal seret kalau meluangkan waktu sejenak untuk ibadah yang satu ini?

Sholat berjamaah di sebelah kereta

Harusnya sel narapidana adalahtempat untuk memperbaiki diri

Kalau yang masjidnya gedhe dan banyak, tapi shof-nya lowong dan bolong-bolong tahu kan di mana?

Masjid Istiqlal

Kategori:religi Tag:, , , ,

Puasa, Bulan Penuh Kejahatan…???

September 7, 2010 2 komentar

Gambar diambil dari acehforum.or.id

Sudah sering kita dengar para khotib yang mengatakan kalau semakin mendekati lebaran, maka shof solat berjamaah akan mengalami kemajuan yang signifikan. Dalam arti barisannya makin maju karena jamaahnya banyak yang menghilang entah kemana. Lucunya guyonan ini justru muncul di Indonesia yang ‘katanya’ sebagian besar penduduknya adalah beragama Muslim. Dan tentu saja guyonan ini tidak serta merta muncul begitu saja. Namun muncul karena pada kenyataannya itulah yang memang terjadi di negeri ini.

Hal ini cukup berbeda 180⁰ dengan kondisi di negeri barat seperti Australia, Amerika, dan inggris yang jamaah sholatnya ‘stabil’ dari awal puasa hingga Lebaran tiba. Itu masih ditambah dengan aktivitas keseharian mereka saat bulan Puasa yang luar biasa padatnya. Bayangkan, penganut Muslim di negara-negara barat, tetap harus bekerja seperti hari-hari biasanya. Hal ini dikarenakan sistem mereka yang tidak mengenal dispensasi untuk berpuasa bagi umat Muslim, sebagaimana yang terjadi di Indonesia. Tidak cukup hanya disitu, mereka juga menyibukkan diri dengan mengikuti kajian/seminar di Islamic Center terdekat. Jangankan amalan Wajib, amalan Sunnah pun mendapat porsi yang begitu diperhatikan.

Tak jarang umat Muslim di negeri barat menyempatkan diri menjadi sukarelawan untuk mensyiarkan Islam, ketika bulan Romadhon. Hal ini menarik, karena mereka dituntut untuk berinteraksi dengan masyarakat yang tidak semuanya bisa menerima Islam. Untuk itulah mereka dituntut untuk mengenal dan mempelajari secara mendalam tentang risalah Muhammad SAW ini. Dengan pengetahuan yang mendalam, diharapkan mereka mampu memberikan gambaran Islam secara untuh dan objektif. Sehingga dengan sendirinya itu akan menjadi dakwah yang efektif.

Logika ‘kuwalik’ (terbalik), malah terjadi di negeri kita tercinta ini. Korupsi, terorisme, anarkisme, liberalisme, kapitalisme, yang tidak hanya dilakukan hampir disemua kalangan. Contohnya gak perlu jauh-jauh seperti di tipi-tipi kelir (TV berwarna). Kita coba ambil contoh khasusnya di sekitar kita saja.

Soal korupsi misalnya. Sudah bukan rahasia umum, sebagian besar mahasiswa selalu minta kiriman ‘lebih’ dari orang tuanya. Alasannya buat kuliah, tapi jatuh-jatuhnya juga kebanyakan buat memenuhi gaya hidup. Ini juga sering terjadi di level rumah tangga, dimana istri minta uang belanja lebih. Tentu kelebihan itu dipakai untuk adu prestis dengan ibu-ibu tetangga, yang bisa jadi perhiasannya lebih mentereng. Biasanya kebutuhan akan gaya hidup di Bulan Puasa (apalagi mendekai Lebaran) akan jauh meningkat dari bulan-bulan lainnya. Jadi bisa disimpulkan nilai korupsi di bulan ini malah lebih gedhe.

Untuk urusan Terorisme, tak perlu menunggu Nurdin M.Top beraksi. Di jalan-jalan perkampungan, kita juga sudah sering Jantungan gara-gara “Bom Low Explosive” yang disebut petasan atau mercon. Herannya kalo pemain petasan ini ditegur (kebanyakan anak kecil), eh bapaknya malah balik memarahi kita sambil bawa parang.

Gambar diambil dari : sosbud.kompasiana.com

Lalu apakah anda ingat peristi 11 September 2001 saat beberapa teroris menabrakkan pesawat ke gedung WTC? Hal yang sama juga bisa terjadi di jalan raya negara kita. Apalagi kalau jamnya mendekati waktu berbuka. Namun bedanya, yang digunakan para terosri kali ini adalah motor atau mobil. Baik Motor maupun Mobil seketika itu juga jadi mesin pembunuh yang siap membuat jiwa orang melayang, dikarenakan kebut-kebutan. Alasan ngebut pun ‘gak penting’. Supaya pas adzan sudah ada di rumah untuk berbuka puasa. Tapi karena alasan gak penting itu juga banyak orang yang bisa menjadi korban kebiadaban teroris yang mengatasnamakan agama model begini.

Belum lagi kalo pas adu cepat sampai di rumah itu, diwarnai srempetan antar pengendara. Kemaren saja (26 jam sebelum tulisan ini dibuat), 2 orang pengendara berantem hebat bahkan sampai mau bunuh-bunuhan di perempatan Ciliwung (kota Malang). Dan lucunya perkelahian konyol itu terjadi pas bulan puasa. Apa mereka puasa? Muslim…? Tau dah…. Bagi mereka bodo amat soal ajaran agama untuk saling menahan diri. Yang penting anarkis dan anarkis (Gak perlu ikut ormas kan untuk bisa berbuat anarkis?).

Dan puncaknya, pada akhir bulan puasa dihadapan kita akan disuguhi praktik konsumtif yang luar biasa dahsyatnya. Umat muslim berbondong-bondong pergi ke “Kuil Penebar Impian” bernama Mall. Mereka sibuk dengan “ritual” membeli baju, celana, aksesoris, dan perlengkapan lebaran yang bermerk serta trendi. Data sementara menunjukkan, mal-mal di kota besar (Jakarta, Surabaya, Jogja, Medan, dll) mengalami peningkatan pengunjung terutama pada malam hari.

Mal semakin ramai hingga tengah malam karena ada diskon midnight hingga 70% yang ditawarkan oleh konter-konter pakaian. Akibatnya masjid yang seharusnya dipergunakan untuk itikaf dan tadarus secara intensif menjelang 10 hari terakhir tampak sepi, sedangkan mal tampak padat merayap.

Ada sebuah proses INCEPTION pada iklan-iklan komersial yang berhasil merubah cara pandang masyarakat pada alam bawah sadarnya. Fungsi pakaian sebagai penutup aurot beralih menjadi “benda magis” sebagai simbol kekayaan, kesuksesan, borjuis, dan kemapanan.

Perlahan-lahan pertanyaan demi pertanyaan mulai menjangkiti pikiran sebagian orang. Inikah ajaran agama yang katanya begitu luhur? Inikah ajaran agama yang mengajarkan orang-orangnya untuk punya rasa empati dan kepedulian sosial? Inikah agama yang mengajarkan pemeluknya untuk bisa mengendalikan diri? Ataukah memang kita sendiri sebagai umat Muslim yang benar-benar tak (mau) mengenal agamanya sendiri.

Diakui atau tidak tujuan utama Ramadhan yang kalo kata Gusti ALLAH agar manusia bertakwa, rupanya belum bisa kita wujudkan. Sumber Daya Manusia kita yang masih silau dengan “pencitraan” semu inilah yang bikin tujuan berpuasa ini jadi kemana-mana. Ritual sebulan penuh untuk mengkoreksi dan memperbaiki diri agar 11 bulan berikutnya bisa jadi manusia lebih baik, ternyata disalah gunakan. Bulan Ramadhan kita ubah menjadi bulan ‘perayaan’ dan ‘penimbunan’ nafsu secara menggila. Momen-momen seperti ini juga yang dimanfaatkan oleh para setan kapitalis untuk mengeruk keuntungan dari manusia yang jadi korban “pencitraan”.

Sepertinya sudah saatnya kita mulai merubah cara pandang berfikir tentang pelaksanaan ajaran agama. Orang barat yang notabene banyak mualafnya ternyata jauh lebih mampu menjadi pribadi mukmin yang utuh, daripada kita yang bermodalkan warisan dari orang tua. Kegigihan orang-orang di barat yang haus akan ilmu dan pengetahuan tentang agama yang mereka anut, telah menjadikan mereka lagi-lagi lebih mengungguli kita. Bagi mereka agama tidak hanya sekedar ritual di masjid. Tapi telah menjadi pedoman pelaksanaan teknis dalam kehidupan sehari-hari. Knowing Is Not Enough, We Must Apply ! Willing is not enough, We Must Do!!!!

Yah…. Mungkin memang benar, di akhir zaman matahari akan terbit dari barat. Bukan dari timur…..

DILEMATIKA BUKBER MASA KINI

Agustus 25, 2010 5 komentar

Tahu Bukber kan…? Yang jelas beda jauh dengan Puber. Dan semakin gak nyambung kalo anda mengaitkannya dengan penyanyi remaja yang sedang tenar, Justin Bukber (Bieber kaleeee). Bukber yang saya maksud disini adalah singkatan dari Buka Bersama. Sebuah acara yang tampaknya sudah menjadi tradisi saat bulan puasa tiba.

Entah sejak kapan tradisi ini mulai muncul. Namun Bukber telah menjadi kebiasaan sekelompok masyarakat dari berbagai macam profesi. Mulai dari teman sekolah, rekan seprofesi, teman satu pengajian, teman satu organisasi, dll. Kalangan pejabat pun telah menjadikan Buka Bersama sebagai sarana untuk merangkul dan mendinginkan suhu politik yang biasanya memanas. Bahkan Presiden Obama (preesidennya Amrik) mengadakan pula Buka Bersama dengan perwakilan kaum muslim sambil menyatakan dukungannya untuk mendirikan Masjid di Ground Zero.

Buka Bersama memang memiliki sebuah nilai yang positif dan luar biasa saat dilakukan dengan cerdas dan baik. Bukber dapat menjadi ajang silaturahmi bagi orang-orang yang sebelumnya sangat sulit bertemu. Buka bersama juga bisa menjadi pelepas ketegangan dari rutinitas pekerjaan atau sekolah yang kadang menjemukan.

Namun tak selamanya buka bersama bernilai positif. Akhir-akhir ini saya malah melihat bahwa Buka Bersama tidak lagi menjadi ajang yang menyejukkan. Banyak alasan kenapa saya bilang “tak lagi menyejukkan”. Entah itu ditinjau dari sisi tempat pelaksanaan, dari banyaknya uang yang dikeluarkan, dan tentu saja konsep acara yang terkadang jadi ajang adu prestis sebagian orang.

Dari sisi tempat selalu saja tempat-tempat “wah” yang dipilih. Entah itu Café, restoran mahal, ato restoran cepat saji. Dan tentu saja saja pilihan lokasi akan berimbas cukup berat pada ongkos. Bagi orang yang mampu dan punya penghasilan gedhe, okelah hal itu tidak akan jadi masalah. Tapi bagi seorang yang berpengasilan kecil atau bahkan Jobless ini bisa jadi kiamat Sughro. Ibarat memakan buah simalakama tak ikut khawatir dianggap sombong dan akhirnya dikucilkan, kalo ikut mungkin jatah Buka kali itu digabung dengan jatah sahur atau bahkan buka esoknya.

Dilihat dari sisi konsep, seringnya Buka Bersama pada masa kini hanya sekedar berkutat pada 3 hal. Datang, ngobrol, dan makan. Tak ada misi-misi “unik” dan “menantang”, apalagi mengingat acara ini diadakan di bulan Ramdhan. Seolah tak ada bedanya Buka Bersama dengan Makan Bersama di hari-hari biasa.

Saya teringat beberapa tahun yang lalu, atau tepatnya di tahun 2006. Puasa tahun 2006 merupakan salah satu bulan puasa paling mengesankan bagi saya. Saat itu saya masih terdaftar sebagai mahasiswa D3 Politeknik Negeri Malang.

Suatu saat kakak tingkat saya mengajak saya dan salah seorang teman saya untuk ikut Buka Bersama dengannya. Awalnya saya mengira itu adalah buka bersama seperti biasa dimana acaranya sebatas makan-makan dan kumpul-kumpul. Namun saya mulai heran ketika menuju TKP kami mengambil dua nasi bungkus sebanyak dua keresek besar penuh. Aneh karena jarang-jarang menu makan Bukber adalah nasi bungkus.

Dan keheranan saya pun menjadi-jadi saat tiba di lokasi tujuan yang ternyata adalah Panti Asuhan. Rupanya kakak tingkat saya itu, sengaja mengadakan acara Bukber ini sebagai wujud syukurnya karena sesaat lagi dia akan menghadapi Ujian Akhir.

Buka bersama itu berlangsung sederhana. Hanya dibuka sedikit sambutan dari kepala panti dan dari kakak tingkat saya. Serta tak lupa lantunan ayat suci yang dibacakan dengan indah oleh salah seorang anak panti. Namun, acara itu berubah menjadi sebuah pengalaman spirituil yang mengesankan di saat kami semua mulai menyantap Nasi Bungkus yang disuguhkan. Salah seorang anak panti yang berumur 11-12 tahun terlihat menangis tersedu-sedu. Alasannya karena baru kali ini dia makan sepotong ayam dan telur dadar yang besar dalam waktu bersamaan. Biasanya mereka hanya makan sepotong kecil ayam dengan sayur bayam. Atau malah hanya dengan tahu tempe dan sop. Dan kalau keuangan panti sedang seret tak jarang hanya nasi putih dan tempe.

Entah kenapa saya dan teman saya ikut sesegukan. Nasi bungkus Mak Cus yang sudah sering kami makan, tiba-tiba saja berasa seperti masakan mahal di resoran terkenal gara-gara peristiwa tadi. Dan itulah nasi bungkus terenak yang pernah saya rasakan hingga saat ini.

Saya salut dengan apa yang dilakukan kakak tingkat saya. Membuat sebuah momen Buka Bersama menjadi wisata spiritual yang tak terduga. Dan momen seperti inilah yang betul-betul saya rindukan.

Rekan-rekan sekalian, salah satu hikmah puasa adalah agar kita bisa merasakan dan berempati dengan apa yang dirasakan kaum dhuafa. Bila kita mampu mendapati hikmah itu, jalan untuk menjadi manusia yang bersyukur akan terbuka lebar. Dan bukankah Allah mencintai orang-orang yang bersyukur.

Tidaklah dilarang mengadakan buka puasa bersama. Namun kenapa kita tak mencoba menjadikan momen itu sebagai sarana yang justru mendekatkan kita pada Sang Pemberi Nikmat dan juga orang-orang tak mampu di sekitar kita…..

(Ditulis karena pembicaraan dengan seorang kawan baik)

%d blogger menyukai ini: