Arsip

Archive for the ‘sepak bola’ Category

Goal Penalty Paling Konyol

September 12, 2010 2 komentar

Inilah yang terjadi kalo kiper terlalu cepat berpuas diri dan tinggi hati.

Iklan

Highligth Video Arema vs Persib di Babak 8 Besar

Gilas Persib, Arema Tatap Semifinal

VIVAnews – Satu kaki Arema Indonesia berada di semifinal Piala Indonesia usai melumat Persib Bandung 3-0 pada laga pertama 8 Besar Piala Indonesia di Stadion Kanjuruhan, Malang, Minggu 18 Juli 2010.

Tampil di depan puluhan ribu fans yang memadati Stadion Kanjuruhan, Arema tampil percaya sepanjang pertandingan. Bintang kemenangan Singo Edan pantas disematkan kepada kiper Kurnia Mega yang mampu dua kali menggagalkan penalti yang dieksekusi striker Persib Christian Gonzales.

Tiga gol tuan rumah baru tercipta di babak kedua melalui Rahmat Afandi menit ke-59, penalti kapten Pierre Njanka pada menit ke-69 dan gol pamungkas Dendy Santoso dua menit berselang.

Dengan kemenangan meyakinkan ini langkah Arema untuk menembus babak semifinal Piala Indonesia terbilang cukup ringan. Persib sendiri harus bekerja keras saat menjamu Arema di Bandung pekan depan, Kamis 22 Juli 2010.

Jalannya Pertandingan

Tampil tanpa kehadiran striker Noh Alam Shah membuat lini depan Arema terlihat tumput di babak pertama. Peluang emas didapat Arema melalui Roman Chmelo pada menit ke-32 ketika tendangannya masih membentur tiang gawang. Padahal posisi kiper Markus Haris Maulana sudah kalah posisi.

Menit ke-42, Persib mendapat peluang emas setelah mendapat hadiah tendangan penalti karena Pierre Njanka menekel Budi Sudarsono di kotak terlarang. Sayang, eksekusi yang dilakukan Christian Gonzales masih bisa ditepis kiper Arema Kurnia Mega.

Di awal babak kedua Persib mulai berani bermain terbuka. Dan tim Maung Bandung mendapat peluang mencetak gol melalui tendangan bebas Gonzales yang masih menyamping tipis di kanan gawang Kurnia Mega.

Arema akhirnya memecah kebuntuan pada menit ke-59 melalui gol indah yang dicetak Rahmat Afandi. Memanfaatkan umpan silang yang dilepaskan Zulkifli Syukur, Rahmat berhasil melepaskan tendangan voli ke tiang kiri tanpa bisa diantisipasi Markus.

Tuan rumah berhasil menggandakan keunggulan pada menit ke-69 melalui penalti yang dilesakkan Pierre Njanka. Penalti diberikan wasit Jimmy Napitupulu menyusul handball yang dilakukan Gilang Angga saat menahan tendangan Ahmad Bustomi.

Dua menit berselang Singo Edan semakin menggila dengan berhasil mencetak gol ketiga melalui pemain pengganti Dendy Santoso. Masuk di babak kedua menggantikan M Fakhrudin, Dendy berhasil menusuk pertahanan Persib dari sayap kanan dan melepaskan tendangan dari sudut sempit yang menggetarkan gawang Markus untuk kali ketiga.

Keberuntungan benar-benar menjauhi Persib pada pertandingan ini setelah penalti kedua Gonzales pada menit ke-74 kembali diblok Kurnia Mega. Penalti diberikan setelah Irfan Raditya melanggar Budi. Namun, eksekusi Gonzales bisa dihentikan Kurnia Mega dengan kaki.

Arema berhasil mempertahankan keunggulan 3-0 hingga wasit Jimmy Napitupulu meniup peluit tanda berakhirnya pertandingan.

Susunan Pemain:

Arema Indonesia (4-5-1): Kurnia Mega; Irfan Raditya, Pierre Njanka (Purwaka Yudi, 87′), Benny Wahyudi, Zulkifli Syukur; Juan Revi, Roman Chmelo, M Fakhrudin (Dendy Santoso, 56′), Ahmad Bustomi, M Ridhuan (Rony Firmansyah, 62); Rahmat Afandi.

Persib Bandung (3-5-2): Markus; Maman, Nova Arianto, Rene Martinez; Wildiansyah, Gilang Angga (Munadi, 81′), Atep, Hariono, Cucu Hidayat (Airlangga, 66′); Budi Sudarsono, Christian Gonzales.

Uji Taktik dan Prediksi : Pragmatisme Belanda VS Total Football Spanyol

Ini merupakan final yang menarik. Mengutip dari perkataan Bung Koesnaini, “Saat Spanyol berhadapan dengan Belanda di final maka bersiaplah kita melihat TONTONAN”. Disebut tontonan karena kedua tim merupakan raksasa sepak bola Eropa dengan sejarah yang kuat, namun belum pernah memenangi satu gelar pun di Piala Dunia. Belanda pernah ‘hampir’ mendapatkan gelar ini pada 1974 dan 1978, namun di partai puncak mereka dijungkalkan oleh masing-masing Jerman dan Argentina. Sedangkan Spanyol selalu gagal bersinar di fase grup dan final Piala Dunia, walaupun saat kualifikasi mereka selalu jadi momok yang menakutkan bagi lawan-lawannya. Dengan demikian, baik Spanyol atau Belanda yang memenangkan pertandingan ini, maka mereka telah menjadi Juara Dunia untuk pertama kalinya.

Pragmatisme Belanda

Belanda pernah membuat mata dunia terpana dengan permainan super atraktif mereka di era Johan Cruyff saat 1974-1974. Saat itulah dunia mengenal istilah Total Football. Sebuah sistem sepakbola yang mengeksploitasi kemampuan dan kreatifitas para pemain untuk terus mengolah bola. Dengan demikian orientasi total football adalah menyerang dan menyerang. Dalam taktik ini pertahanan terbaik adalah menyerang lawan sampai tak berkutik dan frustasi.

Namun saat 2010, melihat asuhan Van Marwijk mungkin anda akan bertanya, “Apakah ini total football?”. Kalau anda bertanya seperti itu maka anda tidak keliru. Belanda di bawah asuhan Van Marwijk telah meninggalkan sistem sepakbola yang membesarkan nama Belanda di masa lalu itu. Dan justru saat meninggalkan ciri khas mereka, Belanda melaju ke final dengan mengkandaskan lawan-lawanya, termasuk sang musuh bebuyutan Brazil.

Ada banyak faktor kenapa Belanda meninggalkan kultur Total Football. Dan faktor terbesar adalah karena mereka sampai kini tidak pernah menjadi kampiun di ajang 4 tahunan ini. Bahkan setelah 1978 mereka lebih sering terjungkal.

Ada sebuah celah dalam Total Football Belanda. Sistem ini memberi ruang bagi masing-masing individu untuk bermain sangat demokratis (sesuai dengan karakter orang Belanda). Karena itulah dalam Total Football dituntut pemain super kreatif macam Cruyff, Gullit, Berkamp, hingga Clarence Seedorf. Namun keleluasaan pemain Belanda dalam bermain justru menyebabkan mereka lupa bahwa Sepak Bola adalah permainan tim. Karena kesatuan dan disiplin dalam teamwork kurang diperhatikan maka Belanda sering kehilangan tujuan permainan, menang dan menjadi juara pada akhirnya. Mungkin hal ini tidak berbeda jauh dengan kondisi politik mereka di masa lalu ha ha…

Kelemahan sistem inilah yang membuat van Marwijk dan punggawanya berfikir ulang untuk kembali menerapkan sistem yang sama. Julukan Juara tanpa Mahkota seperti menjadi sebuah gelar yang ingin mereka kubur dalam-dalam. Alhasil Belanda pun masuk dalam era ‘Pragmatis’. Kerja sama, tim, menang, dan juara.

Permainan Belanda yang berorientasi tim bisa kita amati dari permainan mereka sejauh ini. Memakai 4-2-3-1, dengan seorang van Persie sendirian di depan yang uniknya bukan penyerang murni. Robin Van Persie seolah berfungsi sebagai pembuka ruang gerak bagi 3 gelandang serang di belakangnya baik itu Sneijder, Robben dan Kuyt untuk bisa melakukan penetrasi dan mencetak goal. Dan hasilnya, pencetak goal terbanyak Oranje adalah seorang gelandang serang (Second Striker), Wesley Sneijder.

Kekuatan Belanda sebagai tim juga terlihat dari bagaimana padunya Wesley Sneijder dan Arjen Robben. Mereka berdua merupakan pemain yang menonjol di klubnya masing-masing, Internazionale dan Bayern Munich. Tetapi saat berkostum Oranje, mereka menjadi sebuah kesatuan yang sangat merepotkan. Dan sekali lagi saya tekankan beginilah seharusnya tim. Mampu mengkombinasi dua Matahari dalam satu langit.

Spanyol, Barcelona dan Total Football

Spanyol saat ini tidak bisa dilepaskan dari cara bermain Barcelona. Walaupun Del Bosque merupakan mantan pelatih Madrid, tapi dia mengakui bahwa permainan terbaik di Spanyol adalah milik The Catalan. Karena itu del Bosque mengadopsi total gaya permainan Barcelona. Dari sisi pilihan pemain pun, Spanyol sangat Barcelona. Ketika David Villa mencetak gol kemenangan melawan Paraguay minggu lalu, ada 7 pemain milik Barcelona di lapangan pada saat itu: Carles Puyol, Gerard Pique, Sergio Busquets, Xavi Hernandez, Andres Iniesta, Pedro Rodriguez dan Villa. Bahkan Cesc Fabregas mau tidak mau bisa dikaitkan dengan el Barca, karena pemain ini merupakan didikan mereka.

Barcelona sendiri merupakan tim dengan gaya permainan yang sangat “Belanda”. Dalam sejarah klub, hanya ada 4 arsitek yang melatih dalam 150 pertandingan. Rinus Michels (1971-1975 dan 1976-1978), Johan Cruyff (1988-1996), Louis van Gaal (1997-2000) dan Frank Rijkaard (2003-08). Sembilan dari 20 gelar La Liga mereka memenangkan di bawah manajemen Belanda.

Michaels merupakan kunci dari pewarisan gaya Oranje pada Barcelona. Dia adalah bapak Total Football Belanda, yang dibawanya juga saat menukangi Barcelona. Dibawah tangan dinginnya muncul pemain brilian, Johan Cruyff. Dimana Cruyff juga anak asuh Michaels di el Barca. Di kemudian hari Cruyff menukangi Barcelona dan membawa Frank Rijkard ke klub yang kelak juga menukangi The Catalan.

Manajer Barcelona saat ini, Pep Guardiola juga adalah asuhan Cruyff dan Van Gaal saat menjadi pemain. Suka atau tidak, Pep telah memberikan warna sepak bola ala Belanda pada pemain binaan asli Barcelona macam Xavi, Guardiola, dan Pedro Rodrigues, yang pada akhirnya warna permainan ini terbawa ke tim nasional saat mereka bermain di sana.

Barcelona pun kini telah menjadi tim yang paling konsisten menerapkan Total Football, lebih dari negara asalnya Belanda.

Dalam sebuah buku berjudul “Brillian Orange”, disebutkan apa yang menjadi kunci permainan Total Football,

“Ruang merupakan elemen unik dalam sepak bola Belanda… Total Football dibangun berdasar teori baru tentang fleksibelitas ruang… Michaels dan Cruyff mengeksploitasi kemampuan seorang pemain untuk merubah demensi dari lapangan sepak bola… mereka membuat pola serangan seluas mungkin, dan mengembangkan permainan dari sayap… saat kehilangan bola para pemain menekan kedalam hingga setengal lapangan, memburu bola, menjaga garis pertahanan 10 meter dalam zona mereka, serta memasang perangkap offside dengan agresif untuk mematahkan serangan lawan”.

Bisa jadi inilah gambara Barcelona. Fleksibelitas, mengembangkan permainan seluas mungkin, presing yang kuat, garis pertahanan jauh ke dean, serta perangkap offside yang agresif. Inilah gaya Total Football yang kemudian dibawa para punggawa Barcelona ke timnas Spanyol. Dan Spanyol dalam hal ini lebih baik karena memberikan sentuhan baru pada Total Football dengan tidak melupakan permainan tim serta tujuan akhir dari permainan.

Sekarang pertanyaan besarnya, kenapa dengan menerapkan Total Football, Spanyol justru kurang menggigit? Mereka hanya mampu menang dengan selisih satu goal. Bahkan kalah saat berhadapan dengan Swiss di laga pembuka. Ada dua faktor menurut saya kenapa La Fujia Roja tidak mampu menyarangkan banyak goal.

Yang pertama adalah lemahnya penyelesaian akhir. Spanyol sepanjang pertandingan selalu menyerang, dan menciptakan banyak peluang. Namun dalam penyelesaian akhir mereka seolah kurang dapat feel.

Yang kedua adalah soal kebingungan del Bosque dalam menyusun starting XI. Faktor kedua ini bisa jadi punya keterkaitan dengan faktor pertama. Villa sendiri di depan atau berduet dengan Torres? Lucunya saat Villa sendiri di depan, serangan Spanyol selalu deadlock. Tapi begitu Torres dipasang, Villa malah mampu memberikan tusukan dari kiri dan mampu mencetak goal. Sedangkan Torres seolah hanya menjadi penarik perhatian lawan dan tidak bisa mengembangkan permainannya dengan maksimal (selain faktor kebugaran tentunya).

Di sisi lain pilihan lini tengah Spanyol begitu bervariasi. Spanyol termasuk tim yang beruntung karena punya dua Game Maker nomor satu dalam satu tim, Xavi dan Fabregas. Namun mustahil memasang keduanya secara bersamaan. Karena keseimbangan tim akan dipertaruhkan.

Lepas dari dua faktor itu kita tetap harus mengacungi jempol permainan Spanyol. Selain Chile, mereka lah tim yang konsisten untuk menerapkan permainan atraktif.

Kesimpulan Awal

Final ini merupakan pertemuan dua tim dengan sejarah sepakbola yang baik. Keduanya akan berusaha meraih gelar juara pertama mereka.

Sangat ironi, bahwa Belanda akan menghadapi Spanyol yang justru mengadaptasi Total Football yang kini mereka tinggalkan.

Kalau Belanda menang, maka mereka boleh berbangga karena berani meninggalkan ideologi yang mereka anggap ‘usang’ dengan gelar juara di tangan. Namun bila kalah, sepertinya Belanda akan malu karena justru Spanyolah yang berhasil mengawinkan Total Football dan Juara Dunia untuk pertama kalinya.

UJI TAKTIK PERMAINAN

Sekali lagi pertempuran ini akan mempertumakan permainan Pragmatisme ala Belanda dan Total Football yang telah dimodifikasi ala Spanyol. Kedua tim sama-sama memadukan kerja sama tim yang solid. Dan pergerakan saat kehilangan bola akan menjadi titik tekan dalam taktik kedua tim agar mereka tidak tertinggal.

Spanyol akan meletakkan Xavi sedikit ke dalam untuk menjemput bola dari Bosquet. Agar serangan terjalin maka Iniesta bergerak dari sayap mengisi kekosongan yang ditinggalkan Xavi. Hal ini membuat permainan Spanyol akan cenderung ke pusat lapangan. Di lini tengah Belanda, Sneijder dan Robben merupakan pemain paling dinamis. Tapi mereka sangat lemah pada penjagaan bola, dan sangat buruk saat menjalankan peran pertahanan. Untuk itu mungkin mereka hanya berfungsi sebagai pembantu saat bola dikuasai pemain Spanyol.

Kunci penahan serangan Spanyol ada pada Van Bolel dan De Jong. De Jong berposisi lebih maju daripada van Bommel. Tujuannya agar dia bisa menganggu atau bahkan memutus aliran bola Spanyol yang mengalir secara singular (melingkar). Dan saat De Jong gagal, maka van Bomel yang menjadi tembok bagi gelandang-gelandang Spanyol di tengah.

Masalah lain akan muncul saat Iniesta melakukan penetrasinya dari sayap kanan. Saat itu terjadi maka van Bronchost akan mengawalnya. Hanya saja kebiasaan Bronchost adalah selalu menempel ketat lawannya. Hal ini akan riskan saat Iniesta mengambil inisiatif untuk bermain lebih ke dalam.

Solusinya ada pada Dirk Kuyt. Kuyt merupakan penyerang yang memiliki kemampuan bertahan baik. Dia bisa saja menahan laju Iniesta. Tapi perlu diingat bahwa fokus utama Kuyt adalah penjagaan pada Ramos yang sering overlap menusuk dari sisi kiri pertahanan lawannya.

Sementara itu, Robben akan menjepi Capdevill. Dan di sisi lain Sneijder akan menjadi momok bagi Bosquetdan Xabi Alonso, bahkan saat Spanyol menguasai bola.

Spanyo sendiri sepertinya lagi-lai akan kesulitan membuat keputusan siapa yang akan mreka pasang untuk mendampingi Villa. Torres, Villa, atqau Pedro. Namun mengaca dari pertandingan melawan Jerman, maka ada baiknya kalau Pedro yang dimainkan.

Pedro lebih efektif bermain dalam tim. Apalagi dia akan memainkan peran yang penting pada saat bertukar posisi degan Iniesta. Pertukaran Posisi ini menjadi penting untuk melemahkan konsentrasi pertahanan Belanda yang dimotori van Bronchost.

Kritikan terbesar perlu dialamatkan pada lima gelandang Spanyol. Mereka erlalu bermain memusat di tengah. Lebar lapangan kurang tergarap dengan rapi. Karena hal ini akan berbahaya mengingat Belanda punya dua pemain bergenre sayap murni. Boleh jadi Belanda akan punya inisiatif untuk lebih bertahan. Namun saat bola dikuasai oleh mereka, Spanyol harus siap bertarung di lebar lapangan.

Kalau ingin juara Spanyol harus mengubah permainan Total Football mereka menjadi lebih menghasilkan. Karena 6 gol mereka sejauh ini sangat mengenaskan. Karena bila Spanyol nanti menang lagi-lagi dengan sebiji goal mereka akan tercatat sebagai juara dengan produktifitas goal terminim (walaupun konsep sepakbola mereka adalah menyerang).

Iniesta dan Pedro harus lebih menyerang. Goal dalam pertandingan ini begitu penting. Mereka perlu belajar bagaimana proses goal Robinho ke gawang Belanda. Karena Iniesta dan Pedro punya kesamaan posisi dan naluri dengan Robinho.

Prediksi :

Spanyol mungkin lebih diunggulkan. Ingat mereka adalah kandidat juara dalam turnamen ini. Selain itu titel Juara Eropa 2008, menjadi poin penting kenapa Spanyol sangat diunggulkan.

Namun sejauh ini efektifitas permainan Belanda lebih baik daripada Spanyol, walaupun mereka bukan favorit juara.

Dan kesimpulannya berdasarkan pertandingan-pertandingan sebelumnya kemungkinan Belanda akan lebih punya peluang merebut gelar juara.

Namun…. soal tekad Spanyol lebih punya tekad. Kekalahan mereka dari Swiss justru memunculkan karakter pantang menyerah di pertandingan berikutnya. Dan biasanya tim seperti inilah yang muncul sebagai pemenang.

Belanda vs Spanyol = 55:45

Spanyol Bertemu Belanda di Final

VIVAnews – Spanyol menyusul Belanda lolos ke final Piala Dunia 2010. Artinya   nanti akan muncul juara baru karena kedua tim belum pernah menjadi pemenang.

Bagi Spanyol, mereka bahkan belum pernah lolos ke final Piala Dunia. Rekor terbaik La Furia Roja adalah lolos ke semi final. Kejadiannya sudah sejak lama, 1950 atau 60 tahun yang lalu.

Sementara Belanda lebih berpengalaman. Oranje sudah dua kali lolos ke final. Namun selalu gagal. Pada 1974 Belanda kalah dari Jerman dan empat tahun kemudian kalah dari Argentina. Kedua musuh Belanda itu adalah tuan rumah.

Hingga saat ini baru tujuh negara yang berhasil menjadi juara Piala Dunia. Mereka adalah Uruguay (1930, 1950), Italia (1934, 1938, 1982, 2006), Jerman (1954, 1974, 1990), Brasil (1958, 1962, 1970, 1994, 2002), Inggris (1966), Argentina (1978, 1986) dan Prancis (1998).

Jerman dan Spanyol Bertemu di Semifinal

Juli 4, 2010 1 komentar

Jerman Bantai Argentina

VIVAnews – Jerman berhasil melaju ke babak semifinal Piala Dunia 2010 usai menyingkirkan Argentina, Sabtu, 3 Juli 2010. Di babak perempatfinal ini, Jerman menang dengan skor telak 4-0.

Bertanding di Green Point, Cape Town, Jerman sudah memimpin saat laga baru berjalan 3 menit. Adalah Thomas Mueller yang membuka gol kemenangan Tim Panser lewat kerasnya tandukannya.

Argentina mencoba bangkit. Pasukan Diego Maradona mulai meningkatkan tekanannya ke pertahanan Jerman. Namun hingga babak pertama usai, Jerman tetap memimpin 1-0.

Di babak kedua, Jerman kembali tertekan. Sayang, serangan yang dilancarkan Lionel Messi cs tak mampu menembus barisan pertahanan Jerman.

Sebaliknya, Jerman justru berhasil menggandakan keunggulannya lewat Miroslav Klose pada menit ke-68. Enam menit berselang,  Arne Friedrich berhasil membawa Jerman unggul menjadi 3-0.

Argentina coba mengejar ketertinggalannya. Namun alih-alih ingin mencetak gol,  gawang Tim Tango kembali kebobolan pada menit ke-89 lewat kaki.

Klose mencetak gol keduanya memanfaatkan umpan Mesut Ozil sekaligus membawa Jerman unggul 4-0. Skor ini  bertahan hingga laga usai.

Spanyol Menang Dramatis Atas Paraguay

VIVAnews – Spanyol berhasil melaju ke babak semifinal setelah berhasil menaklukkan Paraguay 1-0 lewat gol semata wayang David Villa. Spanyol akan menantang Jerman di semifinal Piala Dunia 2010.

Bertanding di Ellis Park Stadium, Johannesburg, Minggu 4 Juli 2010, Paraguay hampir membuat kejutan saat pertandingan baru berjalan satu menit. Aksi Oscar Cardozo hampir mengancam gawang Iker Casillas. Sayang sontekan striker Paraguay ini masih melenceng.

Spanyol mulai mendominasi pertandingan. Peluang pertama La Furia Roja datang di menit 7 lewat tandukan Sergio Ramos memanfaatkan umpan Xabi Alonso. Namun usaha bek Real Madrid ini masih melenceng.

Paraguay hampir membuat pendukung Spanyol terdiam saat Nelson Valdez berhasil menjebol gawang Casillas di menit 41. Beruntung wasit menganulir gol Valdez karena dianggap telah berdiri dalam posisi off side.

Memasuki babak kedua, Spanyol tetap mengendalikan jalannya pertandingan. Namun lagi-lagi Paraguay mampu membuat pendukung Spanyol cemas saat wasit Carlos Batres memberikan hadiah penalti kepada Paraguay di menit 59.

Penalti diberikan karena pelanggaran Gerard Pique terhadap Cardozo. Sayangnya Cardozo gagal memanfaatkan peluang Paraguay unggul setelah tembakannya dihentikan Iker Casillas.

Pada menit 61, giliran Spanyol yang mendapat hadiah penalti. Penalti ini diberikan setelah David Villa dilanggar Antolin Alcaraz di kotak terlarang. Xabi Alonso yang maju sebagai eksekutor sebenarnya berhasil menjebol gawang Justo Villar.

Namun wasit mengulang penalti Alonso. Dan dipercobaan kedua, giliran Villar yang sukses menghadang penalti Alonso. Kedudukan masih imbang 0-0.

Spanyol baru bisa menjebol gawang Paraguay di menit 82. Berawal dari serangan balik, Iniesta berhasil membawa bola sebelum akhirnya menyodorkan kepada Pedro yang langsung melepaskan tembakan.

Bola sempat membentur mistar sebelum akhirnya Villa sukses merebound bola sekaligus merubah kedudukan menjadi 1-0. Skor ini akhirnya bertahan hingga pertandingan usai dan sekaligus mengantar Spanyol ke babak semifinal.

Prediksi dan Uji Taktik : Argentina vs Jerman

Juli 3, 2010 2 komentar

Masih ingat dengan World Cip 2006? Baik itu goal, penalti, atau bahkan perkelahiannya?

Yang paling menarik dalam hal taktis adalah keputusan Jose Pekerman untuk menarik Juan Roman Riquelme menjelang akhir waktu normal, dan menggantikannya dengan Esteban Cambiasso yang punya orientasi untuk sebagai pemain bertahan. Dengan demikian, ia merombak skema 4-3-1-2 / 4-4-2 diamond, dan beralih 4-4-2 dasar yang sangat kaku. Alhasil Argentina dari 1-0, disusul menjadi 1-1, dan akhirnya menyerah pada adu pinalti.

Sayangnya dalam kompetisi kali ini kita tidak akan melihat Riquelme maupun Cambiasso. Namun tetap, Maradona akan dihadapkan pada kasus yang serupa. Haruskah dia mempertahankan skema saat menghadapi Korsel dan Meksiko- dengan 4-4-2 diamon atau menambah lebih banyak gelandang di lini tengah? Memprediksi jalan pikiran Maradona sangatlah sulit, ujar Joel Richard, seorangg pengamat sepakbola terkenal Argentina.

Saat ini di lini tengah Argentina, Juan Mascherano adalah pilihan utama Maradona. Mascherano didampingi oleh Maxi Rodrigus dan Angel di Maria pada kedua sisi. Mereka berdua telah memainkan peran sebagai gelandang bertahan dengan baik. Namun itu belum cukup, dan kemungkinan salah satu dari mereka akan diganti.

Kembalinya Juan Sbastian Veron adalah satu pilihan. Bersama Mascherano, dia akan menjaga bola di lini tengah dengan lebih baik, sebagaimana pertandingan melawan Nigeria.

Bila ternyata Maradona ingin bermain lebih defensif, maka Mario Bolati adalah sebuah pilihan alternatif. Bolati merupakan pengganti paling efektif dari sosok Cambiasso. Walaupun kemampuan maksimal pemain masih belum jelas karena penampilannya mengecewakan di Porto dan bermain jarang di Fiorentina, tapi dia adalah bagian squad utama dari Argentina. Dan yang terpenting Bolati merupakan penyeamat Argentina untuk lolos ke Piala Dunia 2010.

Komposisi di lini tengah akan menentukan, bagaimana trio Messi, Higuain dan Teves digunakan. Terutama untuk Teves, pada dasarnya pemain Mancester City ini sangat suka beroperasi di zona yang luas, di kedua sisi. Pada saat melawan Korsel dan Meksiko Teves bermain di sisi kiri. Namun menghadapi Nigeria, Teves bermain lebih ke kanan. Pada saatnya, Higuain akan berperan juga di sisi-sisi yang kosong. Dengan demikian pergerakannya membuat Messi atau Teves menjadi striker sementara  (lubang). Khusus untuk posisi Messi sendiri merupakan sebuah keunikan. Maradona memberinya kebebasan untuk bergerak dimanapun. ini mengacu dari apa yang dilakukan Maradona di masa silam.

Messi menjadi orang yang wajib dihentikan oleh para pemain Jerman. Tugas ini sangat rancu bila diberikan pada center-back. Karena itu hanya akan membuat Teves dan Higuain merajalela. Cara terbaiknya adalah memakai gelandang Bertahan untuk mengunci mati Messi. Bastian Schweinsteiger dan Sami Khedira bisa jadi adalah dua pemain yang akan bertugas mengawal Messi. Mereka telah menunjukkan penampilan yang luar biasa saat menghadapi Inggris. Namun masalahnya Schweini dan Sami Khedira belum pernah menghadapi pemain yang benar-beenar gelandang menyerang dalam empat pertandingan sebelumnya. Apalagi seseorang yang berbakat seperti Messi.

Namun Argentina pun memiliki permasalahan yang sama. Mereka harus berusaha menutupi gerak Mesut Ozil. Argentina hanya permain dengan satu gelandag tengah. Dan bila Mascheranho difokuskan untuk menjaga Ozil bukankah itu justru membuka celah bagi Khedira untuk mengembangkan permainannya.

Di depan Miroslav Klose, Lucas Podolski, dan Thomas Mueller akan menjadi ancaman serius bagi pertahanan Argentina yang cukup lamban. Ini akan menjadi PR besar bagi Maradona agar asuhannya tidak dipencundangi Jerman sebagaimana Inggris minggu lalu.

Dan pembahasan terakhir ada pada lini belakang. Posisi back kanan Argentina kemungkinan diberikan pada Otamendi. Pemain ini memiliki kecenderungan untuk bertahan lebih baik. Dan hal ini akan menguntungkan mengingat pergerakan duo wingback Jerman, Lahm dan Boateng sangat menakutkan. Namun siapa diantara keduanya yang akan menjadi penjaga Teves. Apakah Joachim Loew telah siap dengan ini dengan memerintahkan Lahm?

Catatan Dari Saya :

Mungkin sangat mengejutkan saat Maradona bilang bahwa kesuksesan tim-nya sejauh ini justru karena dia tidak memiliki taktik. Maradona menambahkan kalau saat eranya bermain dulu dia selalu bermain sesuai kehendaknya. Tidak pernah pelatih saat ini menyuruhnya harus begini atau begitu. Dan itulah yang mengantarkan dia dan Argentina di puncak karir pada 1986.

Namun Maradona harus ingat, bahwa kali ini yang dihadapinya adalah Jerman. Tim yang terkenal sangat taktis permainannya.

Lini belakang Argentina sedikit mengkhawatirkan bila harus menghadapi serangan-serangan cepat milik Jerman. Terkecuali Maradona telah menemukan formulasi tepat di gelandang tengah sehingga, tugas lini belakang bisa dicover.

Jerman sendiri bukan tanpa catatan. dari pertandingan sebelumnya, Jerman mudah bermain terlalu terbuka saat mereka unggul. Terbukti Inggris bisa saja menyamakan kedudukan setelah tertinggal dua gol bila saja, tendangan Lampard dianggap masuk.

Siapa berpeluang menang? Secara teknis Jerman lebih berpeluang. Namun secara faktor non-teknis, sepertinya Argentina yang akan unggul.

Paling Dramatis, Uruguay Singkirkan Ghana

Juli 3, 2010 1 komentar

VIVAnews – Uruguay akhirnya mengamankan satu tiket ke babak semifinal usai menaklukkan Ghana lewat drama adu penalti. Setelah skor bertahan 1-1 hingga 120 menit, Uruguay akhirnya unggul adu penalti dengan skor 4-2.

Ghana mampu unggul 1-0 lewat gol Sulley Muntari di masainjury time babak pertama. Namun striker Uruguay Diego Forlan berhasil menyamakan kedudukan menjadi 1-1 pada menit 55.

Ya, duel ini pantas menjadi duel paling dramatis. Bagaimana tidak, Ghana sebenarnya berpeluang unggul 2-1 di akhir babak perpanjangan waktu andai tandukan Dominic Adiyiah tidak dihadang Luis Suarez yang harus menyelamatkan gawang dengan tangannya bak kiper.

Suarez mendapat kartu merah dan Ghana mendapat hadiah penalti. Namun Uruguay benar-benar tak ditakdirkan kalah, Asamoah Gyan yang menjadi algojo gagal mengeksekusi penalti setelah bola hanya membentur mistar.

Jalannya Pertandingan

Bertanding di Soccer City Stadium, Johannesburg, Sabtu 3 Juli 2010, Uruguay harus tertinggal lebih dulu lewat gol Sulley Muntari di masa injury time. Gelandang Inter Milan ini berhasil melepaskan tembakan keras yang gagal dihadang kiper Nestor Muslera.

Tak hanya itu, Uruguay juga harus bermain tanpa bek terbaiknya Diego Lugano yang mengalami cedera. Sebuah kerugian besar tentu tanpa pilar sang kapten yang harus digantikan Andres Scotti di menit 37.

Setelah jeda, Uruguay mencoba mengejar ketertinggalan. Usaha La Celeste membuahkan hasil saat pertandingan memasuki menit 55. Berawal dari pelanggaran John Pantsil kepada Jorge Fucille, Forlan yang mengeksekusi tendangan bebas berhasil menempatkan bola ke tiang jauh yang gagal dihentikan Richard Kingson. Skor sementara menjadi 1-1.

Kedua tim silih berganti melancarkan serangan. Pada menit 57, Asamoah Gyan berhasil mengancam gawang Uruguay lewat tendangannya di dalam kotak penalti. Namun usaha itu mampu digagalkan Muslera.

Pada menit 77, bola hasil tendangan bebas Forlan berhasil disambut tandukan Luis Suarez. Sayang bola masih melebar dari gawang Ghana. Namun hingga 90 menit pertandingan skor tak berubah dan memaksa babak perpanjangan waktu.

Pada babak 2×15 menit, Ghana tampil menekan. Peluang demi peluang diciptakan tim besutan Milovan Rajevac. Dan peluang terbaik tercipta di akhir babak perpanjangan waktu. Ghana seharusnya tak perlu kalah dalam adu penalti andai tandukan Adiyiah tak ditepis tangan Suarez. Ini menjadi Tangan Tuhan Jilid II usai gol Diego Maradona di Piala Dunia Meksiko pada 1986 silam.

Wasit memberikan hadiah penalti kepada Ghana sekaligus mengusir Suarez dari lapangan. Namun Asamoah Gyan gagal menghindarkan The Black Stars dari drama adu penalti.

Laga harus dilanjutkan dengan adu penalti. Setelah Forlan dan Mauricio Victorino sukses, Ghana membalas lewat Asamoah Gyan dan Stephen Appiah. Saat Andres Scotti sukses, John Mensah justru gagal menaklukkan Muslera sekaligus merubah kedudukan menjadi 3-2.

Harapan Ghana kembali terbuka saat Maximiliano Pereira gagal menaklukkan Kingson. Namun penembak keempat Ghana Dominic Adiyiah juga gagal. Dan kemenangan Uruguay akhirnya ditentukan lewat penalti Sebastian Abreau. Uruguay akhirnya menang 4-2.

Hasilnya Ghana gagal menyelamatkan wajah Afrika setelah tersingkir dalam drama adu penalti dengan skor 4-2. Dan Uruguay berhak menantang Belanda di babak semifinal.

%d blogger menyukai ini: