3M : Malang, Mall, dan Macet

Maret 8, 2013 1 komentar

Malang Town Square
(gambar : http://www.halomalang.com)

Soal Mall dulu ya

Malang sebentar lagi akan punya dua mall baru. Yang satu di Dinoyo dan satunya lagi di Blimbing. Uniknya dua mall baru itu dibangun di bekas pasar tradisional.

Pembangunan dua mall baru ini rupanya mendapat tanggapan beragam. Ada yang pro dan ada yang kontra.

Kemaren di sebuah akun @MLGRumahKita menanyakan pada followers-nya (saya termasuk) apakah setuju dengan adanya penambahan mall. Sebagian besar yang mention yang di retweet, menjawab tidak setuju. Bahkan kebanyakan menambahkan lebih baik dibangun ruang hijau, menambahkan pasar tradisional, dan mengurangi pembangunan ruko.

Saya pribadi sebenernya pengen nimbrung dan bilang gak setuju juga. Tapi kemudian saya ingat kasusnya Matos dan MOG. Dulu pas masih kuliah di Poltek, saya sangat menolak pembangunan dua mall paling gedhe di kota Malang itu. Walau gak sempat ikut demo-nya sih.

Bahkan sampai tahun 2007 saya tidak mau menginjakkan kaki di mall-mall itu. Hingga kemudian gara-gara film Transformers, akhirnya saya menghancurkan idealisme sendiri. (“._.)/|dinding Matos|

Dan kini, saya malah langganan ke MOG dan Matos…… Aku kotooooor mamaaaaaaah.

Ini ibarat menjilat ludah sendiri.

Sekarang, semuanya kembali pada kita. Kalau semisal Mall Dinoyo dan Blimbing jadi dibangun, berani gak kita konsisten dengan omongan kita? Ya kalau gak setuju ntar jangan kesana! Bisa gak?

Soalnya banyak banget dari kita yang awalnya nolak-nolak pembangunan, ujung-ujungny jadi pengunjung setia. Saya contohnya (_ _”). Ini kalau dalam dunia asmara, ibarat pasangan yang benci tapi rindu. Di bibir ngomong nggak, tapi di hati ngarep banget. Kok jadi curcol?

True Story, ada loh eks aktivis UB angkatan 2000an awal yang sampai saat ini bener-bener gak mau ke MOG dan Matos karena megang omongannya sendiri. Nah looo…. Kalau memang menolak harus kaya gini sikapnya.

Kemacetan di jembatan Soekarno-Hatta
(Gambar dr : http://smantumpang.blogspot.com)

Sekarang Soal Macet

Lebaran lalu, temen SMP saya yang sudah lama merantau di Jakarta shock pas liat Malang. Pasalnya dia saat di pesawat menuju Malang, sudah membayangkan suasana Malang yang tenang dan dingin.

“Kampret, ini masih di Jakarta? Macet amat”. Ujar status FBnya saat di angkot.

Saya ingat betul tahun 2005 Malang masih lenggang banget jalannya. Namun begitu memasuki 2007, tampaklah gejala kemacetan yang parah apalagi pas hari libur atau akhir pekan.

Bisa jadi salah satu faktor kemacetan Malang adalah karena Kota Batu. Kota Batu punya Jatim Park 1 dan 2 serta BNS. Belum lagi tempat wisata klasik seperti Selekta atau Cangar. Sementara untuk ke sana jalan yang paling bagus adalah lewat Kota Malang. Alhasil volume kendaraan dari kota-kota sekitar Malang yang masuk pun meningkat tajam. Hasilnya…..Macet.

Faktor lainnya adalah jumlah motor dan mobil yang buaanyaaak tapi jalannya sempit. Kondisi ini diperparah dengan PKL yang menjamur di sana-sini. Ibarat manusia, Malang ini sedang terkena penyakit darah tinggi dan kolesterol. Bentar lagi stroke tuh.

Mengeluh dan menuntut pemkot untuk menanggulangi ini semua tidaklah terlalu efektif. Iya kalau mereka denger, kalau enggak mungkin kita sendiri yang dongkol.

Jadi mari kita coba ambil langkah kecil dari diri kita dulu. Langkah kecil mungkin gak bakal terasa dampaknya. Tapi itu masih mending daripada diam dan gak berbuat apa-apa tapi nuntut melulu.

Dari mobil dulu ini ya. Saya sendiri termasuk orang yang agak heran dengan sebagian pengguna mobil di Malang (ingat: sebagian). Udah tahu jalan sempit, naik mobil sendirian dan mobilnya segedhe kapalnya Gaban pula.

Alp*ard adalah salah satu jenis mobil yang bikin emosi kalau jalan di Malang. Ini mobil kaya lapangan badminton di kelurahan, gedhe banget. Mobil kaya giuni sering makan jalan. Bukankah esensi mobil itu memindahkan manusia dan barang dari satu tempat ke tempat lainnya dengan efektif dan efisien. Bukan sambil main futsal. Saya yakin tuh kalau pas di dalam tuh mobil kita teriak bakalan bergema…. ma….. ma…..ma…..ma….. (bit : Pandji)

Pengguna mobil gedhe kaya Alp*ard dan sejenisnya, tolonglah lihat sikon! Kalau memang arus lalinnya lagi padet pakai kek mobil yang lain (kalau punya). Atau kalau nggak pakai motor atau angkot kek. Namun kalau misalnya lagi butuh banget, ya paling nggak tuh mobil berdayakan untuk ngangkut beberapa orang (serah deh siapa). Biar kalau pas macet gak pengen nimpuk he he he… Peace bro!

Sekarang beralih ke pengguna motor. Kali ini saya bakal nyindir diri saya sendiri juga kok.

Dulu, kalau pergi ke suatu tempat yang jaraknya 300meter kebanyakan orang akan memilih jalan kaki. Atau minimal naik sepeda kayuh. Sekarang…. jarak 100 meter, kita sudah tancap gas.

Okelah kalau di dalam kampung perilaku kaya begini gak terlalu bermasalah. Nah kalau pas yang dilewati jalan gedhe, ini yang bikin mengelus dada.

Melewati jalan besar demi menempuh sebuah jarak 100 meter, tanpa disadari akan sangat mengganggu arus lalin. Apalagi kalau pakai nyebrang jalan, pas padet pula. Apa sih yang salah dengan “Jalan Kaki”?

Jadi biasakan mulai sekarang pakai kaki kalau ke tempat-tempat yang dekat dan mudah di jangkau. Bantu kurangi volume kendaraan di jalan!

Selanjutnya soal SIM nih. Salah satu sarat mutlak kita boleh mengendarai motor adalah mempunyai SIM C. Jadi kalau belum punya segeralah mengurus atau dengan kesadaran diri : jangan nyetir motor.

Salah satu syarat memiliki SIM C adalah berusia minimal 17 tahun sesuai dengan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009. Itu artinya anak sekolah yang boleh mengendarai motor adalah mereka yang kemungkinan duduk di kelas 2 SMA. Tapiiiii…… di smp-smp kok banyak banget ya motor yang parkir. Nah looooh…… Motor siapa ini?

Dan kalau tiga hal di atas tidak memungkinkan sama sekali bagi kita untuk dilakukan, ya sudah. Nikmati saja kemacetan itu. Toh kita juga bagian dari kemacetan itu sendiri kan. Yang pakai mobil juga kita, yang pakai motor juga kita, masa kita minta cuma kita satu-satunya orang yang boleh pakai mobil/motor.

Iklan
Kategori:fenomena Tag:, , , ,

A Good Day to Die Hard : Saatnya memporak-porandakan Moskow

Februari 15, 2013 Tinggalkan komentar

John & Jack McClane
Gambar dari : http://cdn-static.denofgeek.com

Bagi penggemar Die Hard, jika mendengar nama John McClane pasti yang terbayang adalah tembak-tembakan dan perkelahian yang brutal dengan para penjahat. Ya… dan itulah memang yang disajikan dalam A Good Day to Die Hard. Bahkan terkesan lebih ekstrem dari film-film sebelumnya.

Kalau sebelumnya di Die Hard ke 4, John bertemu dengan Lucy Genaro anak perempuannya, kini John berusaha mencari Jack anak keduanya. Untuk mecari si buah hati yang lama tidak dia jumpai, John harus pergi ke Rusia. Karena seorang rekannya memberi tahu John, kalau Jack terjerat khasus pembunuhan di negeri eks Uni Sovyet tersebut.

Niat John yang hanya sekedar bertemu dan memberi support anaknya dalam menghadapi pengadilan ternyata berbuntut panjang. Sang anak yang selama ini hanya dikenalnya sebagai bocah bengal tak disangka menyembunyikan rahasia lain. Jack adalah seorang agen CIA yang tengah ditugaskan untuk mengusut khasus besar Komarov, sang ilmuan nuklir.

John pada akhirnya harus ikut dalam misi yang diemban oleh anaknya. Dan sebagaimana terjadi sebelumnya, Saat McClane bertindak maka akan terjadi aksi ekstrem. Duo McClane pun memporak-porandakan Moscow.

Sebagai fans berat Die Hard, saya merasa film kelima ini adalah film paling lemah dalam segi cerita. Okelah dari segi action memang inilah yang paling “gila”. Tapi banyak ciri khas Die Hard yang dihilangkan di sini. Sebutlah karakter musuh yang punya karakter kuat seperti Hans Gruber (Die Hard 1) atau Simon Gruber (Die Hard : With a vengace). Di A Good Day to Die Hard John McClane seperti tak punya musuh yang bisa membuat dia kelimpungan.

Satu hal yang hilang di Die Hard kelima ini adalah peran karakter pembantu yang dihilangkan. Tentu kita masih ingat di film pertama hingga ke empat, McClane selalu ditemani sosok “kalem” dalam memberantas teroris. Sebutlah Dwayne T. Robinson di Die Hard pertama sebagai polisi yang simpatik. Atau Samuel L. Jackson sebagai Zeus Carver si penjaga toko yang ahli memecahkan teka-teki di film ke tiga.

Nilai 6.5/10

Jogja TRIP : [Chapter 3.0] Singgah di Kunthi

Februari 4, 2013 Tinggalkan komentar

Jon….. Siap-siap! Udah sampai Lempuyangan”

Si Micky mengirimkan pesan pendek dari gerbong sebelah. Saya segera mengambil tas di bawah bangku kereta. Deg-degan juga rasanya. Bayangkan, saya terakhir ke Jogja saat kelas 6 SD dalam acara rekreasi perpisahan sekolah. Itu sekitar 15 tahun silam, tepatnya di tahun 1997.

Walau hanya sehari di sana, namun hawa Jogja benar-benar nancep di ingatan saya. Saat SMP, SMA, hingga kuliah saya ingin sekali ke Jogja lagi. Tapi apa daya gak ada yang ngajak. Sudah saya jelaskan di awal, bahwa Agorafobia telah membuat saya tidak berani untuk bepergian. Termasuk ke Jogja. Kota favorit saya setelah Malang.

Kerinduan akan Jogja semakin menjadi disaat FTV yang tayang di SCTV mengambil setting di kota gudeg itu. Dan lagi-lagi saya hanya bisa berangan-angan suatu saat bisa ke sana. Tapi kali ini, saya benar-benar di Jogja….. Yeaaaahhh.

“Jon Jogja Jon…,” ujar Micky begitu kami turun dari kereta.

“Yoi boy…. saatnya berpetualang. Tapi kita sholat dulu, cari makan, lalu cari penginepan!”

“Siiiip…”

Setelah sholat saya dan Micky segera mencari makanan untuk sekedar mengisi perut. Tadi di kereta tidak berani beli makanan karena takut ongkos perjalanan habis di awal. Lagipula kami memang ingin merasakan lezatnya kuliner khas kota jogja.

Menurut buku pedoman yang saya beli dari Gramedia, harga makanan di Malioboro cukupan nonjok. Jadi kalau pengen makanan yang agak murah mending cari di tempat lain. Kebetulan saya nemu yang jualan nasi campur di Jl. Mataram. Untuk ukuran PKL, rasa kuah Jangan-nya bener-bener sedap. Dan tahu saya habis berapa untuk sepiring nasi campur dengan telur, plus dua gelas es teh? Enam ribu lima ratus. Murah biiangettt.

Selesai mengisi perut, saya mengajak Micky untuk mencari penginapan. Pegel juga bawa tas kemana-mana. Apalagi saya agak migrain. Migrain ini mungkin karena saya belum kramas. Sehingga keringat di kepala jadi mengendap dan bikin pori-pori tersumbat. Eh iya…. bahkan saya belum mandi loh. Tapi baunya tetep maskulin kok. Campuran antara bau domba jantan dipadukan dengan cuka masak. Dengan aroma seperti ini mana mungkin wanita gak klepek-klepek. Semaput maksudnya.

Hotel pertama yang kami tuju adalah di perempatan Jl. Gandekan Lor. Tapi begitu melihat price list-nya, saya dan Micky langsung mengernyitkan dahi. Masa 160ribu untuk 8 jam. Ediaaaan.

Merasa hotel memang tidak bersahabat dengan kantong kami, saya mengajak Micky untuk mencari losmen atau rumah singgah saja. Dan kami mencari di kawasa Dagen.

Saat berjalan di kawasan Dagen, begitu banyak tukang becak yang menghampiri kami untuk menawarkan penginapan. Tapi kok harganya bikin pengen nampol orang ya? Akhirnya kami memutuskan mencari sendiri.

Belum sempat semenit kami berniat, masih bilang nawaitu, eh depan mata sudah terpampang papan nama “Penginapan Kunthi”. Saya pandang-pandangan sama Micky. Bukan karena kita saling suka sih…eh. Tapi sama-sama ragu, jangan-jangan harganya sama nonjoknya dengan yang sudah-sudah. Namun berhubung pundak kami sudah sangat pegel akhirnya nekat saja lah.

Saya segera bertanya pada mas-mas resepsionis di ruang lobi. Satu kamar paling sederhana dibandrol 120ribu rupiah per 24 jam-nya. Si mas sih bilang karena ini hari libur harganya naik 30-40%. Iya sih, sebelum berangkat salah seorang temen kantor saya pernah bilang kalau harga penginaan di jogja bisa naik drastis saat liburan panjang.

Daripada banyak membuang waktu, saya dan Micky akhirnya sepakat untuk menginap di Kunthi. Mas-mas resepsionis segera mengantar ke kamar yang kami sewa. Begitu sampai di kamar yang tidak jauh dari loby, saya langsung shock, pucet pasi. Ranjangnya cuma satu…. Gedhe sih. Tapi tetep aja satu. Kampret.

“Jon…. sepulangnya dari Jogja aku mau melamar gadis. Plis Jon, jangan jamah aku,” ujar Micky sambil menunjukkan raut wajah yang kunyuk banget.

“Najiiiiiisssss,”

“Sabar jon…. sabar…. guyon. BTW lihat Brokeback Mountain dulu yuk,”

Ndiaassmu…….

Waktu sudah menunjukkan jam 2 siang. Kami segera mandi dan ganti baju. Bener emang, Jogja panas. Sepanas kalau liat gebetan jalan sama cowok lain. Saking panasnya saya mulai merasakan migrain yang saya rasakan makin menjadi. Sepertinya saya memang butuh istirahat dulu.

Sembari merebahkan badan, saya bilang ke Micky agar kami berangkat setelah Ashar saja. Micky menganggukkan kepala sambil terus sibuk sms-an dengan orang yang jauh di sana.

JATUH CINTA

Januari 18, 2013 8 komentar

“Fauji….. Woy bener Fauji…?” tiba seorang laki-laki berbadan agak tambun menghampiriku yang tengah asik menyuruput segelas es teh di warung soto.

“Gimana kabar ente bro?? Ceileeee makin subur nih kliatanya,” imbuhnya.

“Kabar Alhamdulillah baik. Subur mah faktor gizi mas, tiap hari makan 4 sehat 5 sempurna 6-nya cetar membahana…… BTW mas ini siapa ya?”. Mendengar jawaban saya muka si mas langsung mlongo.

“Lah masa’ ente lupa, Beni ini, Beni. UB 2002, yg sering ngaji bareng sama ente di Raden Patah”

“Oalah….. Bang Be toh, sori bang pangling ane. Lah makin tambun,”

“Halah kaya ente kagak aja tong…. Gimana udah berapa anaknya?”

“Duh bang…. jangan tanya yang begituan deh. Masih jomblo ane”

“Lailahailallah….. jenggot udah kaya sarang semut masih belum nikah ente?”

“Belum bang he he he he he”

Singkat cerita akhirnya acara makan siang saya itu saya lanjutkan ngobrol bareng Bang Be. Bang Be ini anak Betawi asli. Sepertinya sih dia satu kampung sama Si Doel anak sekolahan. Logat betawinya ituloh…. bikin gemeeeez. LAH.

Saat Bang Be lulus SMA, babenya ingin agar dia melanjutkan studinya ke perguruan tinggi. Namun masalahnya, biaya hidup dan kuliah di Jakarta itu mahal. Selain itu, kata Bang Be otaknya gak bakal nyampe kalau ikut persaingan akademis di Jakarta. Itulah kenapa Bang Be berinisiatif pergi ke daerah (daerah lu kate?), dimana biaya hidup murah tapi Bang Be masih bisa berkompetisi di bidang akademik.

Bang Be akhirnya ikut UMPTN di tahun 2002 dan ketrima di UB. Di fakultas teknik tepatnya. Watak Betawi yang melekat dalam diri Bang Be membuatnya menjadi pemuda yang relijius. Itulah kenapa Bang Be aktif ikut pengajian kampus dan jadi anak Rohis.

Sekarang Bang Be punya bisnis selular di kota Solo. Dia sudah menikah dan dikaruniai dua orang anak, laki-laki dan perempuan. Saya ingat dia menikah waktu masih mengerjakan skripsi. Dulu saya pikir orang ini kok nekat bener, skripsi belum selesai, kerja masih serabutan, tapi kok sudah berani menikah. Ternyata keputusan Bang Be gak menjadi masalah. Dia bahkan terbilang sukses baik dalam perannya sebagai kepala keluarga atau pengusaha.

“Bai de wei tong, ente…. normal khan?” tanya Bang Be penuh dengan nada curiga.

“Ya iyalah bang… ane masih doyan sama perempuan. Doyan banget malah,”

“Trus kenapa gak nikah-nikah loe?”

“Belum ada yang cocok bang”

“Muke loe…. belum ada yang cocok, apa belum ada yang mau tuh ha ha ha ha ha”

“Itu sih alasan sebenernya bang he he he he. Tapi Insha Allah lah, tahun ini ane niatin naik ke pelaminan,”

“Naik doank? Kagak ijab kabul?”

“Ya pake’lah baaaaang….. Beneran, Ane beberapa hari lalu memberanikan diri untuk melamar orang. Ane belum dapat jawabannya. Tapi apapun hasilnya nanti ane sudah siap dengan langkah selanjutnya. Baik diterima maupun tidak.”

Dan saya pun menceritakan sebuah peristiwa penting dalam hidup saya kepada Bang Be. Kenapa saya bilang penting karena inilah pertama kalinya saya berfikir amat sangat serius tentang pernikahan.

Awal cerita adalah saat saya mengikuti outbond kantor di Songa. Mulanya saya kurang interest dengan acara-acara seperti ini. Pasalnya saya sudah terlalu sering ikut outbond saat kuliah dulu. Maklum, organisatoris kampus.

Namun saya kembali merenung. Dalam renungan itu saya berfikir, inikan acara kantor. Mau gimanapun alasan kita, tetep ini agenda kantor dan harus diikuti. Wong kita masih terima bayaran dari sana. Di sisi lain, ini Songa cuy. Banyak orang yang jatuh hati dengan tempat ini. Karena konon Songa itu tempat rafting terbaik di Jatim. Buktinya berapa mobil yang nempelin “SONGADVENTURE” di kacanya. Kesimpulannya, jalani saja outbond ini. Pasti nanti banyak kejadian menarik yang tak terduga.

Hasilnya, outbond kantor saat itu benar-benar mengasikkan. Saya banyak bertemu dengan rekan-rekan baru di cabang lain yang ternyata super kocak. Satu hari saat itu benar-benar sukses membuat saya tertawa puas dikarenakan joke mereka yang nampol serta perilaku mereka yang super ajaib.

Namun semua itu bukanlah momen paling cihuy yang saya dapatkan. Momen paling cihuy justru saya dapatkan saat tak sengaja memandang kerumunan karyawati. Sengaja atau nggak saya lupa he he he. Dan saat itu ada satu orang yang membuat saya menatap lebih lama. Siapa atau dari mana dia, saya tidak tahu. Saat itu saya hanya bilang….”WOW”.

Tiga kali jatuh cinta dan tiga kali kandas. Waktu SMA, waktu kuliah, dan saat kerja beberapa bulan lalu sama temen sendiri. Udah ah capek masalah beginian. Ntar-ntar aja. Mumpung nih hati masih kosong, sekarang saatnya menikmati hidup dulu.

Malamnya, secara mengejutkan manajemen minta ada penampilan kreatifitas spontan dari masing-masing cabang. Mendengar pengumuman seperti itu, Branch Manager saya kalang kabut. Pasalnya hampir separuh personil dari cabang kami tidak bisa ikut malam itu karena sudah ada job lain di Malang. Dengan sisa personel yang ada awalnya kami mau membuat teatrikal atau nyanyi rame-rame. Tapi urung dilakukan karena sudah terlalu mainstream. Lagipula cabang lain juga banyak melakukan hal yang serupa.

Berhubung sampai 1 jam gak nemu juga konsep penampilan, akhirnya saya menawarkan untuk memperagakan sulap saja. Dan semuanya langsung setuju…… Daaaan semuanya menyerahkan segala tetek bengeknya ke saya…. yaelah tur.

Melihat wajah rekan-rekan saya di cabang Malang yang kelihatan pasrah banget, saya pun medadak gak tega. Saya sanggupi lah untuk membuat tampilan.

Tampilan saya ini ada 3 sesi. Sesi yang pertama adalah sulap jari. Sesi kedua adalah sulap membengkokkan pulpen. Dan sesi ketiga adalah hipnotis.

Semua sulap yang saya lakukan itu bukan sulap yang serius kok. Yang sulap jari contohnya. Mulanya saya tunjukkan jari telunjuk kepada penonton. Lalu jari telunjuk itu saya tutupi dengan kain. Dan begitu kain saya tarik, jari telunjuk pun sudah berubah jadi jempol.

Prok prok prok prok….. suit-suit…..

Terdengar suara tepuk tangan dan siulan penonton menggema begitu saya menyelesaikan sulap jari. Namun sambutan mereka disertai cletukan, “Kunyuuuk…. nenek-nenek kayang juga bisa”.

Sulap kedua adalah inti cerita ini. Di saat itu saya berpura-pura memanggil sukarelawan dari penonton. Saya pilih tiga orang wanita, yang paling cakep, dan masih single tentunya. Dimana salah satunya adalah wanita yang saya tatap lebih lama siang hari tadi. Modus…? Tentu saja he he he.

Saya berargumen bahwa relawan harus saya hadirkan untuk memastikan bahwa sulap ini tidak ada rekayasa. Sebelum masuk ke pertunjukkan saya minta tiga dara ini menyebutkan nama mereka da n sedikit saya ajak dialog.

Ladies, sulap saya kali ini ada dua alat yang saya bawa. Pulpen dan kertas. Namun saya masih butuh satu alat lagi, TANG. Semuanya punya tang?” tanya saya dengan menirukan aksen-nya Deddy Corbuzier.

Si tiga dara ini tentu saja kompak menjawab tidak. Ngapain juga cewek bawa tang kemana-mana. Saya pun langsung bilang,“Ok kalian gak punya tang, tapi nomer HP punya dong?”.

Tepuk tangan penonton lagi-lagi bergemuruh karena mereka sadar, kalau aksi saya ini gak lebih dari modus.

“Ok… ladies lupakan ucapan saya tadi! Walaupun saya tahu kalian akan sulit melupakan saya… begitu juga sebaliknya.”

EAAAAAAAA…… Penonton makin gemes. Karena muka tiga dara ini sudah merah padam, akhirnya saya minta mereka kembali ke tempat duduk. Kasihan juga sih. Namun sebelum kembali saya nyletuk ke salah satunya.

“Mbak… dari Madiun ya?”

“Iya….”

“Saya dari Malang, mbaknya dari Madiun. Kita LDR-an yuk! Mau gak?”

“Nggaaaak bangeeeet.”

“Ooooh gak mau LDR-an, jadi maunya deket-deket nih sama saya ya?”

“Loh… bukan… maksud saya…” Si mbak tadi langsung merah padam bin salah tingkah. Tapi karena gombalan tadi jurus paling ampuh, akhirnya dia pasrah saja…. tapi tetep tersipu-sipu.

Peristiwa ini telah membuat Direktur Program memantau gerak-gerik saya. Beliau ini hobi banget memberi tausyiah pada para bujang di kantor agar segera menyempurnakan agamanya. Itulah kenapa keesokan harinya saya di ceramahi habis-habisan oleh beliau. Saya bahkan di deadline dalam waktu satu bulan untuk melamar seseorang. Kalau tidak, saya akan berhadapan lagi dengan beliau. Wah gawat.

Petuah dari Pak Direktur Program telah membuat saya pusing tujuh keliling. Apalagi saat beliau bertanya kenapa saya belum juga mau menikah. Saya pun menjawab bahwa saya punya impian besar dan ingin keliling Indonesia bahkan dunia. Menikah hanya akan menghambat semua itu.

Pak Direktur Program ini ternyata ga kalah lihai. Beliau langsung bilang ke saya, “Kalau dalam mewujudkan impiannya Habibie tidak ditopang Ainun, mungkin dia sudah jadi orang gila. Impian besarmu akan lebih mudah tergapai saat ada istri yang bisa kau genggam tangannya saat kau terjatuh”

Skak mat…. Argumen beliau bikin saya benar-benar tidak sanggup berkata-kata.

Keesokan harinya saat di kantor, entah bagamana ceritanya saya kemudian nyelonong masuk ke ruang Branch Manager. Dan menyampaikan keinginan saya untuk melamar salah satu karyawati.

“Anda serius mas… yg dari Madiun?”

“Bukan pak…. yang Semarang. Saya minta profilnya, kalau misalnya yang bersangkutan belum ada yang meminang saya ingin melakukan proses Ta’aruf untuk bisa meminangnya.”

“Siap…. saya bantu mas.”

Setelah itu saya keluar ruang pak Manajer dengan tatapan hampa. Tidak percaya dengan yang apa saya lakukan barusan. Melamar……. gila, nembak aja gak pernah berani. Oh tidaaaak…. saya kenapa?

Cerita saya soal Songa membuat Bang Be manggut-manggut. Dia tampak tersenyum melihat ekspresi saya yang datar saat menceritakan endingnya.

“Bang Be, menurut abang saya bener gak melakukan ini”

“Tong, nikah itu ibadah. Bagus dah kalau ente punya keputusan kaya begitu”

“Tapi bang, saya gak kenal dia. Ntar kalau ditolak bagaimana?”

“Lihat ane!!! Lamaran ane ditolak sampai sembilan kali hingga ane akhirnya ketemu Inggrid. Penolakan-penolakan tadi justru mengantar ane ke wanita yang sekarang ngasih ane dua anak… lucu-lucu lagi.”

“Trus kalau misalnya diterima tapi ternyata salah satu kami atau keduanya gak bisa saling mencintai gimana bang?”

Sejenak Bang Be diam mendengarkan pertanyaan saya soal cinta. Dia seolah menelaah dulu.

“Ji’….. Cinta itu devinisinya luas. Bukan seperti yang novel roman picisan cuma sekedar kata-kata indah, belaian, dan peraduan.”

“Itu laguya Dewa 19 deh kayaknya bang,” saya langsung menyerobot

“Eh diem loe taplak! Ane belum selesai nih.”

Bang Be mengambil air minum dulu, lalu melanjutkan ,

“Ane kagak bisa njabarin cinta. Tapi ane bisa ngasih tahu konsekuensi dari cinta. Konsekuensi Cinta itu ente lebih ingat sama Yang Di Atas. Cinta juga bikin ente berkembang, jadi orang yang kuat, jadi orang yang tegar, jadi orang yang lebih baik dari sebelumnya.”

Penjelasan Bang Be ini langsung bikin bulu Roma dan Rika saya berdiri. Mungkin sat itu yang berdiri sampai soneta-sonetanya. Kelihatannya saja Bang Be ini slenge’an, tapi petuah-petuahnya juara.

“Kalau Cinta itu bikin ente jadi melankolis, lemah, galau, meratapi nasib, ngarep, bahkan jadi menghamba pada orang yang dicintai, itu namanya nafsu. Cemen ah.”

Bener juga kata Bang Be. Definisi kita soal Cinta terlalu sinetron. Sehingga saat kita tak mampu meraih cinta yang kita harapkan, mulai deh kita bersikap lebay. Apalagi dengan adanya jejaring sosial seperti saat ini. Gagal cinta dikit, udah deh status FB atau twitnya menggalau Gaban (saya juga pernah ngelakuin he he he he).

Cinta hanya karena mengharapkan satu orang akan membuat kita gagal menentukan sebuah visi pernikahan. Kita hanya akan menangkap Cinta itu secara parsial…. sepotong-potong. Dimana tolak ukur percintaan itu hanya romantisme ala novel-novel roman picisan. Padahal kalau kita mau belajar dari mereka yang telah berumah tangga, cinta ternyata lebih banyak meminta tanggung jawab dan pengorbanan.

Ibu yang melahirkan dengan rasa sakit yang amat hebat atau ayah yang kerja keras banting tulang contohnya. Mereka menderita tapi menikmati proses itu karena mereka yakin hasilnya baik untuk orang-orang yang dicintainya. Itulah konsekuensi dari Cinta.

Dan kini saat kita Jatuh Cinta, maka pastikan bahwa cinta itu membuat kita lebih baik bukan sebaliknya.

#Thanks to Bang Be atas petuah-petuahnya.

Jack Reacher : Menguak Konspirasi di Balik Kasus Pembunuhan

Januari 18, 2013 1 komentar

Jack Reacher bercerita tentang penyelidikan oleh seorang mantan polisi militer terhadap kasus penembakan 5 warga sipil di Pittsburgh, Pennsylvania, Amerika Serikat. Keterlibatan Jack pada kasus ini adalah atas permintaan James Barr, tersangka kasus ini. Barr merasa bukan dirinya yang bersalah, walaupun semua bukti mengarah ke dirinya. Untuk itulah dia meminta penyelidik kepolisian untuk melibatkan Jack Reacher agar tahu motif dan siapa pembunuh yang sebenarnya.

Mulanya Reacher merasa, memang Barr layak dihukum mati. Hal ini tidak lepas dari investigasi Reacher di masa lalu yang menemukan kasus pembunuhan keji James Barr saat di timur tengah. Saat itu Barr beruntung bisa lolos dari hukuman.

Namun saat penyelidikannya menemukan sebuah kejanggalan, Jack Reacher mulai ragu bahwa James Barr bersalah. Bersama Helen Rodin, pengacara yang membela Barr akhirnya menemukan fakta bahwa kasus ini bukanlah pembunuhan biasa. Namun sebuah konspirasi keji dari “orang besar” untuk kepentingan materi.

Jujur, saya gak seberapa tertarik melihat film ini. Namun karena faktor Tom Cruise akhirnya saya merasa layak di coba lah.

Di awal-awal sepertinya film ini menjajikan jalan cerita yang menarik. Namun cerita yang bagus diawal tidak bisa dipertahankan, sehingga saya bilang cukup “anjlok” di pertengahan hingga akhir. Siapa pelaku kunci bisa dengan mudah tertebak. Gimana nggak mudah tertebak wong dimunculkan langsung begitu, tanpa ada bumbu-bumbu misteri dan teka-teki. Investigasi yang dilakukan Reacher juga kurang teknis dan detail, malah bisa dibilang dibawah stadar serial CSI.

Jack Reacher sedikit tertolong dari joke-joke yang ditampilkan sepanjang cerita. Dari segi action pun tidak mengecewakan. Fight choreography sangat artistik. Bahkan di adegan kejar-kejaran dengan mobil sangat realistis dibandingkan dengan film-film sejenis.

Kesimpulan dari saya, Jack Reacher bukanlah film yang tepat bagi tom Cruise. Kalau dibilang mengecewakan, saya bilang cukup mengecewakan. Untuk nilai : 5 dari 10.

Jogja TRIP : [Chapter 2.0] Menikmati 6 Jam Perjalanan di Kereta

Januari 16, 2013 6 komentar

Saat kereta datang, saya langsung mencari kursi sesuai dengan yang tertera di tiket. Kebetulan saya dapat seat 9B di gerbong 2. Sementara Micky ada di gerbong 3. Begitu menemukan kursi saya, saya segera meletakkan tas ransel di tempat penyimpanan. Saya ambil HP, dan buku sebagai teman perjalanan.

Duduk di sebelah saya adalah seorang bapak berusia 40an. Sambil tersenyum dia mempersilahkan saya duduk.

“Adik mau kemana?” tanya Bapak tadi.

“Oh, saya mau ke Jogja pak.” jawab saya singkat, namun dengan ekspresi muka yang super ramah.

“Kuliah di sana ya dik?” tanya si Bapak lagi. Pertanyaan ini benar-benar membuat hati saya berbunga-bunga. Gimana nggak, ini pertama kalinya saya dipanggil “Dik” dan dikira anak kuliahan. Biasanya saya dipanggil “Pak”. Bahkan saat ke kampus buat mengurusi skripsi (yang belum juga kelar), saya malah dikira dosen. Kampret banget kan?

“Tidak pak, saya ke Jogja dalam rangka liburan kok,”

“Oooh…”

Tak beberapa lama kemudian dua orang ibu-ibu datang, dengan membawa barang bawaan yang seabrek. Salah satunya kemudian bertanya,

“Mas betul disini 9C?”.

“Iya bu’, silahkan”

“Terima kasih….”, Ibu yang bertanya tadi lalu berusaha meletakkan barang bawaannya di tempat barang. Karena kesulitan saya bantu.

“Mas-nya ini mau kemana?”

“Saya mau ke Jogja bu,”

“Ooooh… mahasiswa UGM ya?”

“Eh.. bukan bu. Saya kesana buat berlibur.”

Lagi-lagi ada orang yang ngira saya masih Mahasiswa. Gila, hari itu benar-benar hari keberuntungan saya.

Saya akhirnya berfikir kenapa sampai ada beberapa orang yang khilaf mengira saya seorang mahasiswa. Apa mungkin karena dandanan saya yang beda dari biasanya. Kalau di Malang seringnya saya pakai celana kain, baju hem, dan berdasi. Maklum, tuntutan pekerjaan. Nah pas mbolang ke Jogja ini kebetulan saya pake kaos dan celana pendek. Rupanya fashion saya kali ini berhasil mengelabuhi pandangan orang. Aseeeek.

Sayup-sayup terdengar pengumuman dari stasiun bahwa kereta akan berangkat. Saya pun menempatkan diri, mencari posisi paling pewe, sehingga saat perjalanan bisa terasa nyaman. Bapak dan ibu yang mengira saya mahasiswa tadi juga mulai merebahkan diri nya di sandaran kursi kereta. Sepi deh…

Karena mati gaya, saya ambil HP. Gak ada sms, gak ada yang nelpon, gak ada pesen dari whatsapp maupun LINE. Saya pun menghela nafas panjang. Tapi begitu sadar saya belum gosok gigi segera saya hentikan hal itu. Khawatir aroma jigong menyeruak, dan merusak kedamaian manusia-manusia di sekitar saya.

Gadget jadi sangat sepi pasca hubungan saya dengan teman-teman saya agak renggang. Salah paham sih. Mungkin saya memang yang lagi ruwet, lagi jenuh, lagi penat, lagi galau. Sehingga saat ada masalah simple yang harusnya bisa diselesaikan dengan kepala dingin, malah jadi besar.

Saya tetap merindukan mereka. Apapun yang telah terjadi mereka adalah orang-orang terbaik yang pernah saya jumpai. Namun kini saya sedang membutuhkan waktu untuk sendiri. Bukan untuk menghindar. Tapi untuk me-refresh diri saya. Tujuannya agar saat bertemu dengan mereka, saya bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Yang jauh lebih bisa memperlakukan mereka dengan layak. Miss you guys.

“Tahu asin….. Tahu asin…”

“Mijon…. Mijon….”

“Kopi… Kopi… “

“Pendidikan anak bu’…. Pendidikan anak pak….”

Sejam perjalanan dari Gubeng, gerbong mendadak riuh dengan suara pedagang asongan. Ada yang jualan tahu, jualan buku, jualan mainan, jualan sabuk, jualan dompet, jualan minuman, sampai jual rumah pun ada. Saya agak heran juga. Bukannya KAI sudah menerapkan sistem baru ya, sehingga tidak memungkinkan pedagang asongan bisa masuk ke gerbong. Tapi ya sudahlah, saya gak ngerti dengan seluk beluk KAI sebagaimana Pepenk temen saya. Yang jelas, justru tingkah laku ajaib pedagang asongan inilah yang membuat ke-bete-an saya sirna.

Di stasiun Balapan Solo bahkan saya menjumpai fenomena unik. Sesaat sebelum sampai, mata saya sempat terpejam karena saking ngantuknya. Dalam kondisi sadar dan tak sadar, saya kemudian mendengar suara-suara aneh. Mirip rapalan mantra di kuil-kuil (atau lantunan dizikir kalau di agama saya). Karena penasaran, saya paksakan untuk membuka mata perlahan-lahan. Mata saya sekilas menangkap tiang-tiang fondasi yang menyangga atap langit-langit. Sesaat saya benar-benar merasa ibarat Indiana Jones yang terperangkap di kuil suku kuno. Namun begitu mata benar-benar terbuka lebar, ternyata bayangan saya kliru. Bangunan tadi ternyata stasiun balapan Solo dan lantunan mantra tadi tak lain adalah suara para pedagang asongan.

Perjalanan 6 jam ke jogja tanpa ada hiburan macam televisi atau teman ngobrol benar-benar harus disiasati. Dan memainkan imajinasi adalah salah satu hal paling bisa saya lakukan saat itu. Kejadian Indiana Jones tadi adalah salah satunya.

Namun ada imajinasi “sesat” paling sering sliweran adalah tiba-tiba ada penumpang dekat saya yang mirip Julie Estelle, kenalan, lamaran, menikah, hidup bahagia selamanya….. halah. Baiklah masih 2-3 jam lagi sebelum sampai di Jogja. Nikmati saja tiap moment di kereta ekonomi ini.

(Bersambung)

Jogja TRIP : [Chapter 1.0] Saatnya Berubah, Saatnya Berpetualang

Januari 13, 2013 3 komentar

Saya adalah penderita fobia. Saya takut sendirian, takut bepergian, takut pada keramaian, dan takut tersesat. Sepertinya itulah yang menyebabkan jarang sekali saya meninggalkan rumah atau keluar kota. Hal ini juga ditunjang dengan kondisi saya yang menjadi anak semata wayang. Saat ingin mencoba hal baru, seringkali orang tua melarang karena khawatir saya akan terjatuh dan depresi.

Saya tetap menganggap itu adalah bentuk kasih sayang orang tua. Namun kini usia saya telah menginjak usia 27 tahun. Tidak mungkin saya terus terperangkap dalam ketakutan semu sehingga membuat saya hampir tidak pernah berpetualang dan berkembang.

Agorafobhia, sepertinya menjadi istilah paling tepat bagi fobia yang saya alami. Agorafobhia adalah ketakutan berada di tempat dimana bantuan tidak tersedia. Penderita agoraphobia selalu takut pada kerumunan atau menjadi penyendiri. Agoraphobia kadang berhubungan dengan kelainan ansietas lain, seperti gangguan panik atau fobia khusus.

Gejala Agorafobhia seperti yang sudah saya singgung di awal seperti mengurung diri dalam rumah untuk beberapa saat, bergantung pada orang lain, takut sendiri, takut berada di tempat yang memungkinkan tidak bisa lari, dan tak berpengharapan.

Tepat tanggal 25 Desember 2012 saya merencanakan sebuah perjalanan. Perjalanan menuju JOGJA. Tampak sepele? Bagi yang tidak merasakan Agorafobhia mungkin hal itu tampak biasa dan keciiil. Tapi bagi saya ini sangat berbeda. Karena disinilah awal saya untuk mengalahkan fobia yang telah merenggut sebagian besar masa produktif saya.

Hingga pada akhirnya saat yang telah saya nantikan pun tiba. Tepat pukul 2.20 pagi, saya bersama Micky, teman karib sewaktu di Poltek, berangkat dari Malang menuju Stasiun Gubeng Surabaya. Kami sengaja memilih Gubeng karena tiket ke Jogja dari sana terbilang sangat terjangkau. Hanya Rp 38.000,-. Bandingkan dengan langsung dari Malang yang rata-rata di atas seratus ribu! Keinginan kami untuk menghemat biaya perjalanan bukan lantaran kami pelit sih, cuman karena kikir aja….halah. Cari yang murah karena biar kesan “petualangan”-nya lebih berasa.

Mengendarai motor dengan santai, kami bisa datang pukul 5 pagi di Gubeng. Segera, saya dan Micky mencari musholah terdekat untuk menjalankan ibadah sholat subuh.

Setelah sholat tiba-tiba raut muka cah Blitar itu berubah serius. Dia lalu menepuk pundak saya dan berkata,”Boy… doakan aku! Setelah pulang dari Jogja, aku akan melamar gadis.”

Kunyuk, Deja Vu nih….. Sudah berapa kali adegan seperti ini saya alami? Mulai dari Yhanuar, Putut, Dhanie, Fahrur, dan sekarang si Micky ikut-ikutan mendahului saya untuk menikah. Sebenernya gak masalah mereka nikah duluan. Tapi kenapa harus disampaikan pada saya dulu yang seorang Jomblo Orisinil ini? Eike juga pengen gilaaaaa’.

Ya Allah, kenapa sih di saat saya masih suka nonton film kartun, baca komik, dan main game, teman-teman saya malah pada sibuk berumah tangga?

Banyak sih yang bilang kalau saya sampai sekarang masih kekanak-kanakan gara-gara masa kecil saya kurang bahagia. Wuoooh, itu salah besar cuiii. Masa kecil saya terlalu bahagia, hingga pada akhirnya saya lupa bahwa usia terus bertambah. Lupa deh dengan urusan MENIKAH.

“Baiklah boy… doa Bang Zafran selalu bersamamu,” ucap saya sambil menirukan mimik muka Herjunot di 5cm. Ya walau jatuh-jatuhnya gak mirip sih. BTW kenapa sih banyak yang gak trima kalau saya bilang bahwa perwujudan Zafran 5cm di dunia nyata itu ya gak beda jauh dengan saya?

Tuuuuuut jes jes jes jes (Suara kereta yang bener gimana sih?)

Suara tunggangan kami mulai terdengar memasuki stasiun Gubeng. Kereta Pasundan, ekonomi, gak pake AC….. #BiarLebihGreget.

Saya merinding, jantung rasanya bedebar-debar, saat kereta tunggangan saya ke Jogja datang. Rasa hati riangnya bukan main. Inilah kali pertama saya senang setengah mati melihat kereta api. Mungkin gini kali ya perasaan si Pepenk temen saya dedengkotnya Rail Fans Malang, tiap kali lihat kereta. Hebohnya setengah mampus. Baru kereta cuiii…. gimana kalau cewek cakep? Bisa semaput kegirangan dia.

Dalam hati saya berkata, “Ini saatnya, ini saatnya saya berubah… Memulai hidup penuh petualangan”

(Bersambung ke chapter 2.0)

%d blogger menyukai ini: