Archive

Posts Tagged ‘Indonesia’

5 cm : Menjelajah Impian di Puncak Semeru

Desember 13, 2012 10 komentar

PROLOG

12-12-12 alias Dua belas desember dua ribu dua belas. Tanggal cantik, dimana banyak orang nembak gebetan, menikah, bahkan operasi caesar demi mendapatkan sebuah momen berharga di tanggal cantik. Namun saya, seorang pemuda lajang berusia matang malah sibuk antri tiket 5cm. Sebuah film Indonesia besutan Rizal Mantofani.

Tapi kali ini takdir tak berpihak pada saya. Julukan saya sebagai mr. Premiere ternoda. Gara-garanya saya tidak berhasil mendapatkan bangku untuk nonton film ini di hari pemutaran perdananya. Peminatnya buanyak buanget. Antriannya saja hampir sama kaya antri minyak tanah tempo hari sebelum negara kita konversi ke gas elpiji.

Sebenernya ada sih sisa 3 bangku. Yang satu di barisan paling depan, dan paling ujung pula. Saya mah ogah, bisa jereng leher saya. Sementara dua sisanya saya dilarang beli sama mbak penjaga loketnya. Soalnya sisa bangku dua itu hanya boleh dibeli dua sekaligus. Wah ini sih diskriminatif pada kaum tuna asmara. Gimana Indonesia bisa maju? Terpaksa dengan hati yang luka saya, memutuskan untuk nonton keesokan harinya.

Film 5 cm ini diadaptasi dari novel berjudul sama. Saya sendiri belum pernah membaca novelnya. Namun salah seorang teman pernah memberikan sinopsisnya pada saya. Dan saat itu saya langsung tertarik.

Pernah saya berniat akan membeli novelnya. Namun begitu dengar kabar kalau bakal diangkat ke layar lebar saya mengurungkan niat saya. Saya lebih menikmati menonton film soalnya daripada baca novel.

Sebulan menjelang peluncuran film ini saya mulai goyah, mau liat apa nggak? Yang pertama karena euforia publik yang terlalu antusias (dan saya kurang suka euforia), yang kedua karena film ini banyak mengulas tentang pendakian. Masalahnya saya gak jago tuh soal mendaki (walau daki saya banyak banget).

Tapi semua berubah… saat negara api menyerang (halah). Saya akhirnya memutuskan melihat. Seorang kawan memberi nasehat bahwa dalam film ini saya akan menemukan sedikit jawaban tentang masalah yang saya alami saat ini. Tentang persahabatan, tentang cinta, dan tentang pencarian jati diri.

SINOPSIS

Genta (Fedi Nuril), Arial (Denny Sumargo), Zafran (Herjunot Ali), Riani (Raline Shah) dan Ian (Igor Saykoji) telah menjalani hari-hari mereka sebagai sahabat dekat selama hampir belasan tahun. Tak ada satu weekend pun yang tak mereka lewati bersama (sounds familiar). Namun kebersamaan mereka malah mebuat sebuah situasi “jenuh” (again….sounds familiar). Karena dengan kondisi seperti itu seolah mereka tidak memiliki lingkugan pertemanan lain di luar sana. Genta kemudian mengusulkan agar mereka break selama tiga bulan. Dan selama tiga bulan itu mereka tidak boleh berkomunikasi dengan cara apapun.

Selama tiga bulan masa break, banyak hal yang terjadi dalam kehidupan mereka. Mereka mulai memperbaiki kekurangan masing-masing dan fokus pada hal-hal yang selama ini sering mereka abaikan. Rasa rindu mereka jadikan pelecut untuk melakukan pekerjaan yang belum usai. Sehingga saat bertemu nanti mereka datang dengan membawa sebuah kabar gembira bagi teman-temannya.

Tiga bulan kemudian tibalah saatnya untuk bertemu kembali. Genta mengajak keempat sahabatnya plus Dinda (adik Arial) untuk merayakan pertemuan dengan cara yang tak biasa. Mereka pergi kesebuah tempat yang akan memberikan kesan mendalam bagi mereka. Dan tempat itu adalah MAHAMERU.

Petualangan mereka ini terbilang gila. Karena mereka sendiri hampir tidak pernah melakukan perjalanan di medan pegunungan. Dan ini adalah pegunungan semeru. Dimana medannya terkenal berat. Namun banyak hal menakjubkan yang terjadi dalam perjalanan mereka menuju puncak tertinggi di pulau Jawa itu.

PENDAPAT SAYA

Semula saya agak khawatir film ini bakalan gak menarik. Karena di bagian awal film, tipikal film Indonesia banget. Dimana kalau temanya persahabatan bakalan ada narasi dari salah satu pemerannya yang menjelaskan satu per satu sahabatnya dengan karakter unik masing-masing. Coba deh tonton lagi film Indonesia dengan tema sahabat, pasti rata-rata awalnya dibikin seperti itu.

Beruntung awal yang menurut saya agak mengkhawatirkan, mulai bisa dilupakan begitu narasi oleh Zafran selesai dibawakan. Film ini langsung konsen di alur ceritanya. Adegan demi adegan terasa begitu menarik dan tidak membosankan. Banyak sekali dialog cerdas, puitis, namun tidak melupakan joke-joke yang punch line-nya nampol banget. Dan nih film bisa banget bawa kita masuk dalam suasana syahdu trus ke suasana gokil dan masuk lagi ke suasana syahdu, tanpa mengorbankan ceritanya.

Selain itu kisah romatis di 5 cm juga menjadi point plus. Topik “Jatuh Cinta Pada Sahabat Sendiri” (lagi dan lagi…. sounds familiar) benar-benar jadi salah salah satu daya tarik. Terbukti banyak banget penonton di sekitar saya yang kaya #makjleb ha ha ha ha. Banyak yang ngalamin tuuuh :D.

Sinematografi 5cm juga terbilang sukses mengeksploitasi keindahan alam semeru. Saya sampai kepikiran kalau sampai film ini gak bisa dijual ke luar negeri maka rugi besar. Karena bisa saja film ini jadi promosi wisata Gunung Semeru.

Hanya saja saya agak kecewa di score-nya. Kura melibatkan unsur etnik. Padahal kalau music directornya berani memasukkan unsur instrumen jawa kesannya bakal makin kuat lagi. Yah tapi semua tu tertolong dengan lagunya Nidji he he he he.

Over all saya menilai 8 dari 10 deh. Dan saran saya lihatlah film ini dengan sahabat anda bukan dengan pacar anda. Karena rasanya akan berbeda.

Taruh Cita-Citamu 5CM di Depan Keningmu

Pahlawan dan Kita

November 9, 2012 Tinggalkan komentar
Tribute to Pak Zuri

Pak Zuri

“Alhamdulillah, saya tunggu-tunggu mas,” ujar Pak Zuri. Dia tampak senang dengan kedatangan saya di rumah kecilnya.

“Maklum mas, mau saya buat beli Iqro’ untuk anak-anak TPQ. Lah mereka pada gak mampu beli sendiri,” imbuhnya.

Pak Zuri adalah seorang guru ngaji di wilayah Tumpang yang ikut program Insentif Bulanan Guru Quran (Ibuqu) yang diadakan oleh kantor saya, NH Malang. Tiap bulannya program ini memberikan uang sebesar Rp. 100.000,- pada para guru ngaji di Malang Raya seperti Pak Zuri. Hingga saat ini sudah sekitar 250 orang yang bergabung dalam Ibuqu.

“Santrinya Pak Zuri sekarang berapa pak,” tanyaku.

“Sekitar 100 anak mas”

“Semuanya bapak yang handle?”

“Iya mas, mau siapa lagi?”

“Wah, gak capek tuh pak? Kenapa tidak cari ustadz lain untuk bantu Pak Zuri,”

“Kalau cari orang lain saya mau bayar pakai apa mas? Wong anak-anak itu mengaji disini juga saya gratiskan, gak pake iuran. Ya, kalau mau ada yang bantu ngajar disini sih gak apa-apa, tapi syaratnya lillahita’ala,” jelas Pak Zuri.

Terus terang saya dibuat garuk-garuk kepala. Masih saja ada orang yang mau berbuat kebaikan untuk orang lain tanpa minta imbalan. Insentif dari NH saja seringkali dia gunakan untuk memenuhi kebutuhan belajar mengajar santrinya. Bukan untuk beli beras atau kebutuhan pribadinya.

Pak Zuri adalah salah satu contoh dari sekian banyak orang yang perannya besar di masyarakat namun sering terabaikan. Statusnya sebagai guru ngaji mungkin sangat remeh bagi kita. Tapi sesungguhnya orang-orang seperti Pak Zuri ini layak disebut pahlawan. Mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendekatan agama. Dan point terpentingnya, semua itu dilakukan tanpa pamrih. Tanpa mengharapkan imbalan berupa materi. Walaupun kondisi ekonomi pria asli Tumpang ini tidak bisa dikatakan cukup.

Pahlawan, apa itu arti pahlawan? Diambil dari bahasa Sansekerta, phala-wan, yang berarti orang yang dari dirinya menghasilkan buah (phala) yang berkualitas bagi bangsa, negara, dan agama. Dengan kata lain pahlawan bukan hanya mereka yang gugur di medan perang saat penjajahan saja. Tapi pahlawan adalah siapapun yang mau berbuat sesuatu untuk membangun bangsa.

Lalu bagaimana kalu kita berbuat. Berbuat sesuatu yang bisa merubah keadaan lebih baik. Bahasa maduranya, Let’s change the world. Dan ketika itu disampaikan maka kebanyakan jawaban kita adalah, “serius amat yaaaahhh”.

“Ciyus, miapah?”

“Ngrubah dunia? Ngerubah diri sendiri aja susah kalee”

“Saya cuma rakyat kecil”

“Saya cuma mahsiswa”

“Saya cuma pegawai biasa”

“Saya cuma ini, Saya cuma itu…..”

Itulah beberapa contoh jawaban kita untuk lari dari tanggung jawab. Kalau kata Nasional.Is.Me karangannya Pandji, kita terlalu sering merendahkan diri kita dengan kata cuma, susah, gak mungkin dan sejuta kalimat pesimis lainnya.

Sejarah mengajarkan pada kita bahwa “gak mungkin” kita menang lawan sekutu yang saat itu persenjatannya super canggih. Dan, ternyata kita bisa mempecundangi mereka tuh. Atau pikir lagi deh, apa mungkin 1128 suku bangsa bisa membentuk suatu negara kesatuan. Buktinya bisa tuh, Indonesia.

Siapapun dan apapun profesi kita, kita punya kesempatan yang sama untuk menjadi pahlawan. Pak Zuri orang dengan penghasilan minim saja bisa punya kontribusi besar untuk lingkungannya, kenapa kita tidak? Bayangkan kalau anda dosen, penghasilan anda mungkin sepuluh kali lipat penghasilan Pak Zuri. Belum lagi sumber daya di kampus itu melimpah ruah, baik dana maupun sumber daya inteleqtualnya. Apa itu masih kurang untuk memberikan sesuatu perubahan?

Pun sama dengan anda yang pegawai kantoran. Gaji anda tiap bulan dan akses anda dengan klien kantor, saya kira sudah bisa jadi modal yang cukup kuat untuk menghasilkan karya yang bisa dinikmati masyarakat.

Bahan kalau anda hanya mahasiswa sekalipun, tetap saja modal anda merubah kondisi lingkungan sosial tetap terbuka lebar. Jangan remehkan you punya otak dan tenaga hei mahasiswa.

Setiap orang dilahirkan untuk menjadi pahlawan. Sekarang pilihan ada pada kita. Apakah kita mau menggunakan potensi itu atau justru menyerah pada keadaan, lalu membuangnya begitu saja.

There’s a hero,
If you look inside your heart,
You don’t have to be afraid of what you are,
There’s an answer,
If you reach into your soul,
And the sorrow that you know will melt away.

(Hero – Mariah Carey)

Selamat Hari Pahlawan, Kawan!

Renungan Hari TNI : Jendral Sudirman

Oktober 5, 2010 5 komentar

Jendral Sudirman bergerilya dengan ditandu

Tandu mungkin adalah simbol kelemahan dan ketidakberdayaan. Namun di tangan Jendral Sudirman, tandu ibarat simbol kekuatan, keberanian, pantang menyerah, dan perlawanan terhadap agresor yang menginjak-injak harga diri bumi Pertiwi di tahun 1949. Dalam tandu itu duduk seorang Jendral yang ringkih kondisi tubuhnya. Hanya satu paru-paru yang membantu kerja pernafasannya.

Namun jangan lihat fisik yang ringkih itu. Tapi lihat cita-cita tulusnya menjaga keutuhan Republik ini. Pancaran semangatnya seolah membakar hati rakyat Indonesia untuk turut berjuang membela panji-panji negara. Baginya hanya ada dua pilihan, Hidup mulia atau mati sebagai Syuhada. Merdeka atau Mati.

KISAH HIDUP JENDRAL SUDIRMAN


Jenderal Sudirman merupakan salah satu tokoh besar di antara sedikit orang lainnya yang pernah dilahirkan oleh suatu revolusi. Saat usianya masih 31 tahun ia sudah menjadi seorang jenderal. Meski menderita sakit paru-paru yang parah, ia tetap bergerilya melawan Belanda. Ia berlatarbelakang seorang guru HIS Muhammadiyah di Cilacap dan giat di kepanduan Hizbul Wathan.

Ketika pendudukan Jepang, ia masuk tentara Pembela Tanah Air (Peta) di Bogor yang begitu tamat pendidikan, langsung menjadi Komandan Batalyon di Kroya. Menjadi Panglima Divisi V/Banyumas sesudah TKR terbentuk, dan akhirnya terpilih menjadi Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia (Panglima TNI). Ia merupakan Pahlawan Pembela Kemerdekaan yang tidak perduli pada keadaan dirinya sendiri demi mempertahankan Republik Indonesia yang dicintainya. Ia tercatat sebagai Panglima sekaligus Jenderal pertama dan termuda Republik ini.

Sudirman merupakan salah satu pejuang dan pemimpin teladan bangsa ini. Pribadinya teguh pada prinsip dan keyakinan, selalu mengedepankan kepentingan masyarakat banyak dan bangsa di atas kepentingan pribadinya. Ia selalu konsisten dan konsekuen dalam membela kepentingan tanah air, bangsa, dan negara. Hal ini boleh dilihat ketika Agresi Militer II Belanda. Ia yang dalam keadaan lemah karena sakit tetap bertekad ikut terjun bergerilya walaupun harus ditandu. Dalam keadaan sakit, ia memimpin dan memberi semangat pada prajuritnya untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda. Itulah sebabnya kenapa ia disebutkan merupakan salah satu tokoh besar yang dilahirkan oleh revolusi negeri ini.

Sudirman yang dilahirkan di Bodas Karangjati, Purbalingga, 24 Januari 1916, ini memperoleh pendidikan formal dari Sekolah Taman Siswa, sebuah sekolah yang terkenal berjiwa nasional yang tinggi. Kemudian ia melanjut ke HIK (sekolah guru) Muhammadiyah, Solo tapi tidak sampai tamat. Sudirman muda yang terkenal disiplin dan giat di organisasi Pramuka Hizbul Wathan ini kemudian  menjadi guru di sekolah HIS Muhammadiyah di Cilacap. Kedisiplinan, jiwa pendidik dan kepanduan itulah kemudian bekal pribadinya hingga bisa menjadi pemimpin tertinggi Angkatan Perang.

Sementara pendidikan militer diawalinya dengan mengikuti pendidikan tentara Pembela Tanah Air (Peta) di Bogor. Setelah selesai pendidikan, ia diangkat menjadi Komandan Batalyon di Kroya. Ketika itu, pria yang memiliki sikap tegas ini sering memprotes tindakan tentara Jepang  yang berbuat sewenang-wenang dan bertindak kasar terhadap anak buahnya. Karena sikap tegasnya itu, suatu kali dirinya hampir saja dibunuh oleh tentara Jepang.

Setelah Indonesia merdeka, dalam suatu pertempuran dengan pasukan Jepang, ia berhasil merebut senjata pasukan Jepang di Banyumas. Itulah jasa pertamanya sebagai tentara pasca kemerdekaan Indonesia. Sesudah Tentara Keamanan Rakyat (TKR) terbentuk, ia kemudian diangkat menjadi Panglima Divisi V/Banyumas dengan pangkat Kolonel. Dan melalui Konferensi TKR tanggal 2 Nopember 1945, ia terpilih menjadi Panglima Besar TKR/Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia. Selanjutnya pada tanggal 18 Desember 1945,  pangkat Jenderal diberikan padanya lewat pelantikan Presiden. Jadi ia memperoleh pangkat Jenderal tidak melalui Akademi Militer atau pendidikan tinggi lainnya sebagaimana lazimnya, tapi karena prestasinya.

Ketika pasukan sekutu datang ke Indonesia dengan alasan untuk melucuti tentara Jepang, ternyata tentara Belanda ikut dibonceng. Karenanya, TKR akhirnya terlibat pertempuran dengan tentara sekutu. Demikianlah pada Desember 1945, pasukan TKR yang dipimpin oleh Sudirman terlibat pertempuran melawan tentara Inggris di Ambarawa. Dan pada tanggal 12 Desember tahun yang sama, dilancarkanlah serangan serentak terhadap semua kedudukan Inggris. Pertempuran yang berkobar selama lima hari itu akhirnya memaksa pasukan Inggris mengundurkan diri ke Semarang.

Pada saat pasukan Belanda kembali melakukan agresinya atau yang lebih dikenal dengan Agresi Militer II Belanda, Ibukota Negara RI berada di Yogyakarta sebab Kota Jakarta sebelumnya sudah dikuasai. Jenderal Sudirman yang saat itu berada di Yogyakarta sedang sakit. Keadaannya sangat lemah akibat paru-parunya yang hanya tingggal satu yang berfungsi.

Dalam Agresi Militer II Belanda itu, Yogyakarta pun kemudian berhasil dikuasai Belanda. Bung Karno dan Bung Hatta serta beberapa anggota kabinet juga sudah ditawan. Melihat keadaan itu, walaupun Presiden Soekarno sebelumnya telah menganjurkannya untuk tetap tinggal dalam kota untuk melakukan perawatan. Namun anjuran itu tidak bisa dipenuhinya karena dorongan hatinya untuk melakukan perlawanan pada Belanda serta mengingat akan tanggungjawabnya sebagai pemimpin tentara.

Maka dengan ditandu, ia berangkat memimpin pasukan untuk melakukan perang gerilya. Kurang lebih selama tujuh bulan ia berpindah-pindah dari hutan yang satu ke hutan yang lain, dari gunung ke gunung dalam keadaan sakit dan lemah sekali sementara obat juga hampir-hampir tidak ada. Tapi kepada pasukannya ia selalu memberi semangat dan petunjuk seakan dia sendiri tidak merasakan penyakitnya. Namun akhirnya ia harus pulang dari medan gerilya, ia tidak bisa lagi memimpin Angkatan Perang secara langsung, tapi pemikirannya selalu dibutuhkan.

Sudirman yang pada masa pendudukan Jepang menjadi anggota Badan Pengurus Makanan Rakyat dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Keresidenan Banyumas, ini pernah mendirikan koperasi untuk menolong rakyat dari bahaya kelaparan. Jenderal yang mempunyai jiwa sosial yang tinggi, ini akhirnya harus meninggal pada usia yang masih relatif muda, 34 tahun.

Pada tangal 29 Januari 1950, Panglima Besar ini meninggal dunia di Magelang dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta. Ia dinobatkan sebagai Pahlawan Pembela Kemerdekaan.

NASEHAT-NASEHAT JENDRAL SUDIRMAN


1. Jogjakarta, 12 Nopember 1945

Tentara hanya mempunyai kewajiban satu, ialah mempertahankan kedaulatan negara dan menjaga keselamatannya, sudah cukup kalau tentara teguh memegang kewajiban ini, lagi pula sebagai tentara, disiplin harus dipegang teguh.

Tentara tidak boleh menjadi alat suatu golongan atau orang siapapun juga.

2. Jogjakarta, 1 Januari 1946

Tentara bukan merupakan suatu golongan diluar masyarakat, bukan suatu kasta yg berdiri diatas masyarakat, tentara tidak lain dan tidak lebih dari salah satu bagian masyarakat yang mempunyai kewajiban tertentu.

3. Jogjakarta, 17 Pebruari 1946

Kami tentara Republik Indonesia akan timbul dan tenggelam bersama negara.

4. Jogjakarta, 25 Mei 1946

Sanggup mempertahankan kedaulatan dan kemerdekaan negara Republik Indonesia, yang telah diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945, sampai titik darah penghabisan.

5. Jogjakarta, 27 Nopember 1946

Karena kewajiban kamulan untuk tetap pada pendirian semula, mempertahankan dan mengorbankan jiwa untuk kedaulatan negara dan bangsa kita seluruhnya.

6. Jogjakarta, 5 Oktober 1949

Pelihara TNI, pelihara angkatan perang kita, jangan sampai tni dikuasai oleh partai politik manapun juga.

Ingatlah, bahwa prajurit kita bukan prajurit sewaan, bukan parjurit yang mudah dibelokkan haluannya, kita masuk dalam tentara, karena keinsyafan jiwa dan sedia berkorban bagi bangsa dan negara.

7. Jogjakarta, Januari 1948

Bahwa kemerdekaan satu negara, yang didirikan diatas timbunan runtuhan ribuan jiwa-harta-benda dari rakyat dan bangsanya, tidak akan dapat dilenyapkan oleh manusia siapapun juga.

8. Jogjakarta, 17 Agustus 1948

Robek-robeklah badanku, potong-potonglah jasad ini, tetapi jiwaku dilindungi benteng merah putih, akan tetap hidup, tetap menuntu bela, siapapun lawan yang aku hadapi.

9. Jagjakarta, 1 Agustus 1949

Bahwa satu-satunya hak milik nasional/republic yang masih utuh tidak berubah-ubah, meskipun harus mengalami segala macam soal dan perubahan, hanyalah angkatan perang Republik Indonesia (Tentara Nasional Indonesia)

10. Jogjakarta, 4 Oktober 1949

Jangan mudah tergelincir dalam saat-saat seperti ini, segala tipu muslihat dan provokasi-provokasi yang tampak atau tersembunyi dapat dilalui dengan selamat, kalau kita waspada dan bertindak sebagai patriot.

Angkatan perang Republik Indonesia lahir dik medan perjuangan kemerdekaan nasional. Ditengah-tengah dan dari revolusirakyat dalam pergolakan membela kemerdekaan itu, karena itu angkatan perang Republik Indonesia adalah :

1. Tentara Nasional.

2. Tentara Rakyat.

3. Tentara Revolusi.

Esensinya adalah bahwa Prajurit TNI harus memiliki militansi sbb:

1. Memiliki keunggulan moral dan moril.

2. Pantang menyerah dan rela berkorban.

3. Senantiasa bersama-sama rakyat.

SUDIRMAN DALAM NAGA BONAR



JANGAN MAU KALAH, AYO BIKIN VIDEO HEBOH SENDIRI :)

Juni 10, 2010 2 komentar

Apa yang bisa anda lakukan dengan kamera HP, web cam, ato camera digital??? Jawaban terbanyak dan pertamax yang terlintas di pikiran pasti “foto-foto”. Entah itu foto gaya sok manis, sok imut, sok garang, sok manyun, ga masalah. Yang penting bisa diupload di FB dan di tag kesana-kemari.

Itu kalo kita bicara soal fungsi kamera untuk mengambil gambar tidak bergerak. Trus pertanyaannya kalau kamera itu difungsikan untuk mengambil gambar bergerak alias video bagaimana? Kalo ini bisa jadi agak susah jawabnya. Memang sih, fungsi kamera sebagai perekam gambar video masih jarang dimaksimalkan di Indonesia. Malahan beberapa orang menyalahkan gunakan untuk merekam adegan tidak senonoh. Adegan tidak senonoh ini meliputi adegan mesum, ngintip orang, atau merekam tindakan-tindakan anarkis.

Sangatlah disesalkan, ketika teknologi tidak digunakan sebagai mana mestinya. Kata guru saya di SMA dulu, teknologi diciptakan untuk membuat manusia semakin produktif. Produktif di sini tentunya bersifat positif. Bukan malah sebaliknya. Mungkin sudah saatnya kita belajar dari masyarakat Amerika, Jepang, atau Korea yang mampu memaksimalkan teknologi (termasuk kamera) justru untuk mengasah talenta.

Tentu nama Justin Bieber sudah tak asing lagi bagi peminat jagad hiburan. Namun tahukah anda, ketenaran Justin Bieber didapat karena seringnya dia mengupload videonya saat bernyanyi, di YOUTUBE. Bermula dari situ, salah sorang pencari bakat langsung melihat potensi bintang dalam dirinya. Dan hasilnya… Taraaaaa… Justin kini menjadi salah satu penyanyi paling tenar di dunia. Bahkan di twitter konon dia menguasai arus twit sampai 10%.

Kembali lagi soal fungsi kamera di negara kita. Kita perlu mengadaptasi budaya positif negara lain terkait dengan penggunaan kamera ini. Di beberapa akun Youtube milik orang Jepang dan Korea, kita bisa menyaksikan banyak sekali remaja-remaja yang mengabadikan bakatnya. Dance, Menyanyi, Memasak, bermain musik, akrobat, bahkan sampai bakat unik seperti mengambil jarum dengan kelopak mata :hammer:. Walaupun diupload hanya untuk sekedar senang-senang, tapi tak jarang juga bisa mendapatkan penghasilan dikarenakan bakatnya dilirik oleh media entertainment.

Ksimpulannya…. Daripada kita Bugil di depan kamera dan bikin video mesum, mending buat video yang bermutu. Anda yang ahli main gitar, rekam permainan gitar anda! Anda yang ahli ndalang, rekam juga! Anda yang bisa tari Jaipong atau Remo, rekam tarian anda!Atau anda yang bisa nulis dengan kedua tangan dan kaki bersamaan, jangan malu…rekam juga talenta unik anda. Biarkan dunia tahu. Kalau orang Indonesia tidak hanya bisa mempopulerkan PETERP**N saja. Tapi Indonesia juga bisa menunjukkanpada dunia bahwa masyarakatnya punya Bakat yang tak bisa dibayangkan oleh bangsa lain.

Ditulis untuk mensupport gerakan #remarkableIndonesia di twitter.

Indonesia, Kita Ini Kenapa?

“Nak kalo pipis jangan di jalan! Malu dilihat banyak orang!”

“Le, ojo ngintip! Ngko timbilen!” (Nak Jangan ngintip nanti bintitan!)

“Jangan dua-duaan! Nenek bilang itu berbahaya!”

Saya kira sudah banyak nasehat soal moral yang sering dilontarkan oleh pinisepuh jaman doeloe kala. Baik itu bapak, ibu, nenek, kakek, pak Kyai, guru sekolah, dll. Dan gara-gara nasehat itu kita jadi mengartikan kalo lihat sesuatu yang tidak pada tempatnya maka sudah sepantasnya kita malu dan menundukkan pandangan. Sebagai contoh kalau tiba-tiba lewat cewek cantik, pakaian pating mecotot, ketat gak karuan, sampai bagian tubuhnya pada menonjol maka tindakan kita  adalah mengalihkan pandangan. Bukan malah menikmati tiap centi dan kemudian memasukkan dalam otak dan kemudian turun entah kemana.

Namun jaman sekarang sepertinya beda ya? Ato saya memang yang ketinggalan jaman? Organ vital yang saat saya menempuh pendidikan itu diajarkan untuk dijaga dari khalayak ramai, ternyata saat ini boleh diumbar kemana-mana. Anak smp dan sma main cinta sampai ke ranjang malah sudah biasa. Bahkan lebih afdol kalo direkam dan disebar di internet. Lumayan….. bisa tenar mendadak he he he he.

Lah, ngomong-ngmong soal merekam adegan kompor saat ini, kebetulan lagi anget-angetnya berita Ariel Peterporn eh Peter Pan. Maklum si Don Juan itu tersandung kasus video porno mirip dirinya dengan dua presenter papan atas sekaligus. Tak pelak, dunia maya (maya disini internet maksudnya, bukan mantannya si Ahmad Dhani) pun merespon dengan luar biasa. Nyang namanya di twitter, Ariel melejit jadi trending topic. Namanya pun berubah dikit jadi Ariel Peterporn (plesetan dari PeterPan). Sampe-sampe Justin Bieber, Paris Hilton dan Lady Gaga artis tersohor dari amrik sono tanya di twitter-nya : Who or what is Ariel Peterporn? Tau yang nanya artis nomor wahid dari luar negeri, pada keranjingan deh orang-orang kita kalau ariel itu artis yang tengah kesandung video tak senonoh.

Uniknya di twitter juga ada beberapa tanggapan dari anak usia remaja baik cewek maupun cowok, yang asik memperbincangkan itu video itu. Ada sih yang mengecam tapi tak sedikit yang saling bertukar link download. Bahkan beberapa juga dengan santai bilang kalau mereka sudah nonton.

Tak berhenti disitu saja, pas tadi saya makan Bakso bakar ada seorang cowok yang sempat kirim file itu ke temen ceweknya. Nah loh…..

Pertanyaannya sekarang, kita sebenernya kenapa ya??? Walaupun bukan termasuk orang alim dan beriman bak ustadz tapi saya kok kurang sepakat kalo urusan “beginian” dibawa ke ranah publik. Ato dengan kata lain dosa ya kita pelihara sendiri lah! Gak usah ikut-ikutan ngajak yang laen.

Perilaku pemeran video mesum itu boleh jadi telah dikutuk dan dihujat habis-habisan. Tapi kok bagi saya pribadi, perilaku para penghujat tidak kalah menjijikkan. Coba bayangkan, di salah satu berita, diperlihatkan sekelompok pelajar, pegawai negeri, dan mahasiswa dengan enjoy menikmati video ini beramai-ramai (laki perempuan).

Nah mas-mas dan mbak-mbak yang terhormat…. Itu yang ditonton barang pribadi loh. Dimana bentuknya bisa jadi mirip dengan yang kita punya. Gimana kalo pas nonton bareng Om Iblis mbisikin kita bwt berangan-angan kalo pelaku itu adalah orang yang ikut nonton di sebelah kita?

Kalo memang kita masih memandang Pancasila sebagai falsafah kehidupan berbangsa, mbok ya mari kita iling (ingat)! Sila pertama kita itu Ketuhanan. Apapun agama kita, pasti diajarkan untuk tidak menyebar aib orang lain khan?

Setelahnya, sila kedua itu Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab loh. Bukan kemanusiaan yang Labil dan Biadab. Jadi masa sih kita tega terus-terusan mengangkat Skandal jepit ini sampai berlarut-larut. Khan katanya beradab? Ayolah kita cari topik yang lebih manfaat. Soal tips cari duit kek, link kerja kek, atau soal wisata kuliner setempat (sambil bantu UKM ceritanya).

Masa sih kita mau terkenal gara-gara jadi negara dengan pengakses situs basah terbesar, ato gara-gara Ariel peterporn jadi Trending Topics nomor wahid….? Saya kira nggak toh… Ayo angkat sesuatu yang positif dari negara ini! Indonesia masih punya banyak hal baik dan luar biasa yang bisa dibanggakan.

TANAH AIR BETA

Aliena kembali menyuguhkan sebuah film dengan latar belakang daerah yang jarang terekspose. Kali ini NTT tempatnya. Setting ceritanya mengambil di kamp pengungsian pasca Timor-timur berpisah dari NKRI.

Ketika Timor-Timur berpisah dari Indonesia, perisahan harus terjadi, terhadap dua kakak beradik yang saling menyayangi, mereka terpaksa harus hidup dalam kondisi dan lokasi yang berbeda, dikarenakan kepentingan yang sangat tidak mereka mengerti, menjadikan Merry (10 th) harus tinggal berdua saja dengan ibunya…Tatiana (29 th) disebuah kamp pengungsian  di Kupang NTT. Sementara kakak laki-lakinya Mauro (12 th)  tinggal bersama pamannya… di Timor Leste!

Tatiana dan anaknya…Merry, hidup di sebuah kamp pengungsian bersama ratusan ribu orang pengungsi lainnya. Di antaranya Abubakar seorang keturunan Arab yang sudah turun temurun hidup dan tinggal di Timor-Timur

Tatiana mengajar di sekolah darurat di kamp tersebut. Merry juga bersekolah di tempat itu bersama Carlo seorang anak laki-laki yang sangat jail dan suka menggangu Merry, itu dikarenakan Carlo ingin sekali  mempunyai seorang adik dan merasakan kembali cinta kasih  keluarga

Kehidupan yang sangat berat di sebuah kamp pengugsian dan di tengah ketidakpastian akan keberadaan anak laki-lakinya, tidak membuat Tatiana menjadi lemah. Kerinduan Merry akan kakaknya dan penderitaan yang begitu mendalam dari sang ibu…menjadikan Merry, anak perempuan yang cerdas dan nekad.
Suatu hari Dari seorang petugas relawan, Tatiana mendapatkan informasi bahwa ada kemungkinan ia bisa bertemu dengan anak laki-lakinya

Dapatkah Tatiana bertemu anak laki-lakinya? Dapatkah Merry berkumpul dengan Mauro kakaknya? Saksikan di film !! ”TANAH AIR BETA”

Trailer :

Arema Masuk List Trending Topics di Twitter

Akhir yang sempurna ditorehkan oleh Arema Indonesia di senayang dengan mengalahkan Persija 5-1. Tim besutan Robert Albert ini sekaligus mengukuhkan dominasinya sebagai juara Indonesia yang telah dikunci saat menghadapi PSPS.

Tak pelak prestasi luar biasa yang ditorehkan Singo Edan membuat euforia para suporternya. Baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Kalau di dunia nyata, Aremania dan Aremanita merayakannya dengan berkonvoy dan syukuran kecil-kecilan. Lalu bagaimana dengan Aremania di dunia maya.

Seolah tak mau kalah dengan konvoy besar-besaran di jalanan kota Malang, Aremania pemilik akun twitter pun juga melakukan pawai dan konvoy di twitter. Hasilnya cukup sukses, Arema menjadi salah satu trend paling populer (Trending Topics) di situs micro blogging ini.

Semoga dengan pencapaian yang dilakukan oleh Arema tiak melenakan tim kebanggan kota Malang ini. Karena sesungguhnya banyak tantangan yang perlu ditaklukkan di depan sana. Viva Arema, Viva Aremania/nita, Viva Sepak Bola Indonesia.

%d blogger menyukai ini: