Arsip

Posts Tagged ‘jokowi’

Netral, Golput, dan You Know Laaaah

mengamati calon

Melihat lebih dalam siapa yang akan dipilih

Bagi yang ngefans berat ama capres-capres (you know laaaah) yang tengah bertanding, siapapun yang beda pendapat bakal dianggap “berdosa” oleh mereka.

Pernah nih ditanya, “Eh pilpres kamu dukung siapa?”

Saya jawab, “Netral”

Langsung deh ditanggepi dingin, “Wah gak punya sikap loh”

Errrrrr….. Gak punya sikap? Trus situ merasa punya sikap gitu?

Netral atau bahkan golput itu adalah sikap.

Netral itu artinya tidak berpihak bisa juga tidak berat sebelah dalam menilai, atau tidak ikut membantu salah satu pihak. Dengan kata lain orang yang netral itu masih menimbang-nimbang pilihannya. Mereka membutuhkan waktu lebih lama untuk mempelajari opsi yang ada. Karena bisa jadi opsi yang ada tidak sesuai dengan kriteria yang mereka hendaki.

Kalau golput ya jelas, gak mau tahu, dan gak mau milih. Tapi tetep golput adalah sebuah sikap juga, gak perlu keki. Karena kalau anda gak terima sama keberadaan mereka, andalah yang kurang waras. Sering ada analogi kaya gini, Golput itu ibarat disuruh pilih nasi goreng apa nasi pecel trus gak mau. Akhirnya dia gak makan. Oh em ji, ini analogi macem apa? Bisa aja disanggah gini, gak pilih nasi goreng ama nasi pecel karena pengen makan mie ayam. Nah loh. Tapi tetep saya sarankan jangan golput.

Orang netral itu justru punya sikap loh. Mereka punya idealisme. Sehingga saat kenyataan tidak sesuai dengan idealismenya, mereka bakal mempertimbangkannya masak-masak pilihannya.

Paling tidak sikap netral ini jauh lebih rasional daripada langsung memihak tapi alasan keberpihakannya cuman ikut-ikutan, cuma karena duit, atau cuman biar dianggep keliatan peka politik aja.

Orang netral biasanya bakal kritis. Kritisnya gak lebay ngehujat capres sebelah kaya si you know laaaah. Orang netral justru akan super kritis ke pilihannya sendiri. Mereka menganggap bahwa pilpres seperti saat ini bukanlah ajang pencarian bakat macam Indonesian Idol. Tinggal vote trus dukung habis-habisan (di youtube). Kalau ada beda pilihan, celaaaaaaaa atau sindiiiiiiiir. Di jejaring social sih. Paling kalau ketemu langsung juga diem takut digampar.

Mereka lebih menganggap bahwa pilpres ini sarana memilih orang yang diamanahi jabatan presiden oleh rakyat. Berhubung presiden itu “pelayan” rakyat, jadi wajar donk majikannya banyak ngatur. Daripada ntar kerjannya keliru.

So jangan takut jadi orang netral.

Iklan

Dagangan TV: Jualan Capres

indepedensi media

Golkar TV vs Hary Tanoe TV vs Nasdem TV

Gak apa-apa donk TV ngumbar iklan politik, kan bosnya juga yang punya. Trus kalau kita eneg liatnya tinggal ganti channel, gampang toh?

Pernah gak, denger pendapat serupa dengan kalimat diatas? Biasanya kalimat itu diungkapkan untuk menyikapi televisi-televisi swasta yang lagi keranjingan ikutan politik praktis. Sebut saja TV One (Aburizal Bakrie/Golkar) , Metro TV (Surya Paloh/Nasdem), atau semua tv dibawah MNC (Hary Tanoe).

AJI (Aliansi Jurnalis Indonesia) Jakarta melalui ketuanya sampai angkat bicara bahwa adanya kolaborasi antara pasangan capres-cawapres dan pimpinan parpol yang juga pemilik media telah menyebabkan adanya pemanfaatan frekuensi publik dalam kampanye mereka. Sebagai contohnya Metro TV menyiarkan segala hal tentang Jokowi-JK baik melalui program pemberitaan maupun non berita. Pun sama dengan TV One, yang menayangkan Prabowo-Hatta juga melalui pemberitaan dan non berita.

Kampanye yang dibalut dalam pemberitaan akan lebih mudah mengarahkan opini publik. Orang yang belum pernah mempelajari bagaimana bobroknya media kita, tentu akan mengiyakan isi berita tadi. Padahal berita tadi bukan berita yang datang dari kaidah jurnalistik, tapi hasil pesenan.

Selain itu seringkali capres juga muncul-muncul di acara yang gak nyambung. Indonesian Idol misalnya. Kapan hari, Prabowo ikut nonton langsung. Ya ampun, ini kaya balik lagi ke jaman AFI dulu. Pas itu AFI juga ngundang capres-capres di 2004. Disuruh nyanyi pula mereka -_-.

KPI sebenernya sudah negur stasiun televisi yang telah melakukan pelanggaran terhadap frekuensi public tadi. Tapi apa daya, apalah artinya KPI disbanding bos-bos media tadi.

Soal independensi dan netralitas lembaga penyiaran sudah diatur dalam Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) dan Standard Program Siaran (SPS) yang dikeluarkan KPI. Pedoman tersebut tertera di P3 Pasal 11 Ayat 2 yang berbunyi :

Lembaga penyiaran wajib menjaga independensi dan netralitas isi siaran dalam setiap program siaran.

Dalam SPS juga diatur lebih detail dan tegas, bahwa independensi dan netralitas lembaga penyiaran harus dijaga. Aturan tersebut dalam pasal 11 yang memerintahkan seluruh lembaga penyiaran, bahwa program siaran wajib dimanfaatkan untuk kepentingan publik, tidak hanya untuk kelompok tertentu, dan dilarang untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya. Hal itu dikuatkan dalam pasal 40 yang mengatur tentang program jurnalistik, bahwa program jurnalistik harus akurat, adil, berimbang, dan tidak berpihak.

Dilihat dari P3 dan SPS sudah jelas bahwa posisi media disini harusnya adalah sebagai wasit. Penengah yang mengedukasi masyarakat dengan berita yang informatif dan tidak berat sebelah. Tak selayaknya media jadi pelacur politik.

Jadi kalau ada yang mengeluh dengan ketidak berimbangan televisi, itu adalah hak mereka. Karena segelintir orang sedang memakai sarana bersama untuk kepentingan kelompoknya. Ibarat jalan raya tiba-tiba ditutup untuk dipakai acara pribadi. Jengkel gak? Ya kudu jengkel karena yang makai jalan tadi ngawur. Gak mikir apa efeknya buat orang lain. Trus kita bilang gini: ya udah tinggal ambil jalan lain saja. Sambil muter jauh.

Memilih, Untuk Indonesia?

Fans Jokowi vs Prabowo

Fans Capres

Dua teman saya yang paling asyik buat diskusi politik ada dua, yang satu namanya Mas Said dan satu lagi Fahrur. Mas Said adalah dosen FIA di sebuah kampus. Dia ngajar politik, jadi dari Mas Said ah saya nanya hal-hal yang gak saya mengerti soal politik.

Kalau Fahrur adalah teman SMP dan SMA saya. Dia gak punya background politik sih. Cuman manusia biasa seperti saya. Bedanya dia mantan playboy saya mantan jones he he he.

Dalam memandang dunia politik Fahrur sering memandangnya dari sudut yang berbeda. Selain itu dia termasuk orang yang gak ikut-ikutan dalam menentukan pilihan. Dia selalu mencari alasan kuat kenapa dia harus memilih pilihan politiknya tersebut. Satu lagi kesamaan kami adalah, kami melihat politik gak seharusnya jadi sarana gontok-gontokan.

Kami (saya dan Fahrur), mungkin termasuk orang yang agak terganggu dengan hiruk pikuk politik belakangan ini. Terutama di media sosial. Bukan karena kami golput, tapi kami rada speechless sama pendukung capres-capres yang tengah bertarung.

Bayangin ya, 2 orang nih yang bertarung untuk kursi presiden, Jokowi dan Prabowo, tapi cukup berhasil bikin orang berantem. Berantemnya di dunia maya sih, disuruh berantem beneran paling juga keder.

Adu argumen para fans awalnya sih asik-asik saja. Masing-masing membedah visi-misi (yang udah bisa diunduh di situs KPU) dan juga karakter kuat dari masing-masing capres. Namun makin lama, mulai  lah kebiasaan mulia dari warga kita yaitu saling ejek.

Fans Prabowo nyerang Jokowi dengan sebutan capres boneka, cukong (maaf) China, dll. Sementara fans Jokowi mulai melancarkan serangan juga dengan menyebut Prabowo pelanggar HAM, jomblo (karena gak punya istri), dll.

Tulisannya pun kadang juga bikin ngelus dada. Variabel-variabel kebaikan seseorang yang seharusnya diukur secara objektif dan luas mulai didegradasi. Sekarang orang dinilai baik atau nggak cuma karena pilihan politiknya.

Contoh saya pernah liat status: “Yang pilih Jokowi, bego” atau “Orang cerdas, gak pilih Prabowo”.

Nah, mulai ngaco kan. Saya kenal tuh orang yang suka banget ama Jokowi, tapi pinter banget. Juara olimpiade fisika malah. Trus saya juga tahu tuh orang yang pilih Prabowo tapi cerdas karena dia sering banget bantu masyarakat dengan ide-idenya.

Penilaian fans capres mulai gak objektif. Para capres tidak lagi dinilai visi-misinya. Bagi mereka satu-satunya alasan pilih capres adalah karena capres sebelah, brengsek.

Serius deh, kalian yang kaya gini milih untuk Indonesia? Dan Indonesia model begini kah yang kalian pengen? Saya sih nggak pengen milih dengan metode macam itu. Itu mah kaya pemikiran fans boyband Korea.

Saya pribadi menilai begini, siapapun presidennya maka mereka bakalan jadi presiden semua rakyat Indonesia. Kebijakan yang dia buat tentu saja harus baik semua rakyat, bukan hanya yang memilih mereka saat pemilihan, tapi juga yang tidak memilih mereka, atau yang membenci sekalipun. Artinya perlakuan si presiden yang sekarang anda dukung habis-habisan tetap tidak akan mengistimewakan anda.

Kalau anda memang ingin mendukung salah satu capres, maka utarakan kenapa mereka layak dipilih. Jabarkan visi-misi mereka. Jelaskan dengan baik dan bijak kenapa kami harus memilih mereka. Kami tidak butuh anda mengupas kejelekan capres lain. Capres anda juga bukan malaikat yang tanpa dosa. Karena dengan anda menjelekkan si capres lain, maka justru orang lain malah tertarik dengan capres yang anda jelekkan. Kecuali anda memang cuma bisa main ceng-cengan. Ok saya maklum.

Pasang erat-erat kewaspadaan. Politik itu abu-abu, tidak ada yang benar-benar hitam atau putih. Saat yang terpilih bukan pilihan anda, maka anda BOLEH kritis. Saat yang terpilih adalah pilihan anda, anda WAJIB kritis.

Salam damai, dari seorang pencinta damai garis keras.

Kategori:politik Tag:, , ,
%d blogger menyukai ini: