Archive

Archive for the ‘Ciem & Moel’ Category

Jogja TRIP : [Chapter 3.0] Singgah di Kunthi

Februari 4, 2013 Tinggalkan komentar

Jon….. Siap-siap! Udah sampai Lempuyangan”

Si Micky mengirimkan pesan pendek dari gerbong sebelah. Saya segera mengambil tas di bawah bangku kereta. Deg-degan juga rasanya. Bayangkan, saya terakhir ke Jogja saat kelas 6 SD dalam acara rekreasi perpisahan sekolah. Itu sekitar 15 tahun silam, tepatnya di tahun 1997.

Walau hanya sehari di sana, namun hawa Jogja benar-benar nancep di ingatan saya. Saat SMP, SMA, hingga kuliah saya ingin sekali ke Jogja lagi. Tapi apa daya gak ada yang ngajak. Sudah saya jelaskan di awal, bahwa Agorafobia telah membuat saya tidak berani untuk bepergian. Termasuk ke Jogja. Kota favorit saya setelah Malang.

Kerinduan akan Jogja semakin menjadi disaat FTV yang tayang di SCTV mengambil setting di kota gudeg itu. Dan lagi-lagi saya hanya bisa berangan-angan suatu saat bisa ke sana. Tapi kali ini, saya benar-benar di Jogja….. Yeaaaahhh.

“Jon Jogja Jon…,” ujar Micky begitu kami turun dari kereta.

“Yoi boy…. saatnya berpetualang. Tapi kita sholat dulu, cari makan, lalu cari penginepan!”

“Siiiip…”

Setelah sholat saya dan Micky segera mencari makanan untuk sekedar mengisi perut. Tadi di kereta tidak berani beli makanan karena takut ongkos perjalanan habis di awal. Lagipula kami memang ingin merasakan lezatnya kuliner khas kota jogja.

Menurut buku pedoman yang saya beli dari Gramedia, harga makanan di Malioboro cukupan nonjok. Jadi kalau pengen makanan yang agak murah mending cari di tempat lain. Kebetulan saya nemu yang jualan nasi campur di Jl. Mataram. Untuk ukuran PKL, rasa kuah Jangan-nya bener-bener sedap. Dan tahu saya habis berapa untuk sepiring nasi campur dengan telur, plus dua gelas es teh? Enam ribu lima ratus. Murah biiangettt.

Selesai mengisi perut, saya mengajak Micky untuk mencari penginapan. Pegel juga bawa tas kemana-mana. Apalagi saya agak migrain. Migrain ini mungkin karena saya belum kramas. Sehingga keringat di kepala jadi mengendap dan bikin pori-pori tersumbat. Eh iya…. bahkan saya belum mandi loh. Tapi baunya tetep maskulin kok. Campuran antara bau domba jantan dipadukan dengan cuka masak. Dengan aroma seperti ini mana mungkin wanita gak klepek-klepek. Semaput maksudnya.

Hotel pertama yang kami tuju adalah di perempatan Jl. Gandekan Lor. Tapi begitu melihat price list-nya, saya dan Micky langsung mengernyitkan dahi. Masa 160ribu untuk 8 jam. Ediaaaan.

Merasa hotel memang tidak bersahabat dengan kantong kami, saya mengajak Micky untuk mencari losmen atau rumah singgah saja. Dan kami mencari di kawasa Dagen.

Saat berjalan di kawasan Dagen, begitu banyak tukang becak yang menghampiri kami untuk menawarkan penginapan. Tapi kok harganya bikin pengen nampol orang ya? Akhirnya kami memutuskan mencari sendiri.

Belum sempat semenit kami berniat, masih bilang nawaitu, eh depan mata sudah terpampang papan nama “Penginapan Kunthi”. Saya pandang-pandangan sama Micky. Bukan karena kita saling suka sih…eh. Tapi sama-sama ragu, jangan-jangan harganya sama nonjoknya dengan yang sudah-sudah. Namun berhubung pundak kami sudah sangat pegel akhirnya nekat saja lah.

Saya segera bertanya pada mas-mas resepsionis di ruang lobi. Satu kamar paling sederhana dibandrol 120ribu rupiah per 24 jam-nya. Si mas sih bilang karena ini hari libur harganya naik 30-40%. Iya sih, sebelum berangkat salah seorang temen kantor saya pernah bilang kalau harga penginaan di jogja bisa naik drastis saat liburan panjang.

Daripada banyak membuang waktu, saya dan Micky akhirnya sepakat untuk menginap di Kunthi. Mas-mas resepsionis segera mengantar ke kamar yang kami sewa. Begitu sampai di kamar yang tidak jauh dari loby, saya langsung shock, pucet pasi. Ranjangnya cuma satu…. Gedhe sih. Tapi tetep aja satu. Kampret.

“Jon…. sepulangnya dari Jogja aku mau melamar gadis. Plis Jon, jangan jamah aku,” ujar Micky sambil menunjukkan raut wajah yang kunyuk banget.

“Najiiiiiisssss,”

“Sabar jon…. sabar…. guyon. BTW lihat Brokeback Mountain dulu yuk,”

Ndiaassmu…….

Waktu sudah menunjukkan jam 2 siang. Kami segera mandi dan ganti baju. Bener emang, Jogja panas. Sepanas kalau liat gebetan jalan sama cowok lain. Saking panasnya saya mulai merasakan migrain yang saya rasakan makin menjadi. Sepertinya saya memang butuh istirahat dulu.

Sembari merebahkan badan, saya bilang ke Micky agar kami berangkat setelah Ashar saja. Micky menganggukkan kepala sambil terus sibuk sms-an dengan orang yang jauh di sana.

Jogja TRIP : [Chapter 2.0] Menikmati 6 Jam Perjalanan di Kereta

Januari 16, 2013 6 komentar

Saat kereta datang, saya langsung mencari kursi sesuai dengan yang tertera di tiket. Kebetulan saya dapat seat 9B di gerbong 2. Sementara Micky ada di gerbong 3. Begitu menemukan kursi saya, saya segera meletakkan tas ransel di tempat penyimpanan. Saya ambil HP, dan buku sebagai teman perjalanan.

Duduk di sebelah saya adalah seorang bapak berusia 40an. Sambil tersenyum dia mempersilahkan saya duduk.

“Adik mau kemana?” tanya Bapak tadi.

“Oh, saya mau ke Jogja pak.” jawab saya singkat, namun dengan ekspresi muka yang super ramah.

“Kuliah di sana ya dik?” tanya si Bapak lagi. Pertanyaan ini benar-benar membuat hati saya berbunga-bunga. Gimana nggak, ini pertama kalinya saya dipanggil “Dik” dan dikira anak kuliahan. Biasanya saya dipanggil “Pak”. Bahkan saat ke kampus buat mengurusi skripsi (yang belum juga kelar), saya malah dikira dosen. Kampret banget kan?

“Tidak pak, saya ke Jogja dalam rangka liburan kok,”

“Oooh…”

Tak beberapa lama kemudian dua orang ibu-ibu datang, dengan membawa barang bawaan yang seabrek. Salah satunya kemudian bertanya,

“Mas betul disini 9C?”.

“Iya bu’, silahkan”

“Terima kasih….”, Ibu yang bertanya tadi lalu berusaha meletakkan barang bawaannya di tempat barang. Karena kesulitan saya bantu.

“Mas-nya ini mau kemana?”

“Saya mau ke Jogja bu,”

“Ooooh… mahasiswa UGM ya?”

“Eh.. bukan bu. Saya kesana buat berlibur.”

Lagi-lagi ada orang yang ngira saya masih Mahasiswa. Gila, hari itu benar-benar hari keberuntungan saya.

Saya akhirnya berfikir kenapa sampai ada beberapa orang yang khilaf mengira saya seorang mahasiswa. Apa mungkin karena dandanan saya yang beda dari biasanya. Kalau di Malang seringnya saya pakai celana kain, baju hem, dan berdasi. Maklum, tuntutan pekerjaan. Nah pas mbolang ke Jogja ini kebetulan saya pake kaos dan celana pendek. Rupanya fashion saya kali ini berhasil mengelabuhi pandangan orang. Aseeeek.

Sayup-sayup terdengar pengumuman dari stasiun bahwa kereta akan berangkat. Saya pun menempatkan diri, mencari posisi paling pewe, sehingga saat perjalanan bisa terasa nyaman. Bapak dan ibu yang mengira saya mahasiswa tadi juga mulai merebahkan diri nya di sandaran kursi kereta. Sepi deh…

Karena mati gaya, saya ambil HP. Gak ada sms, gak ada yang nelpon, gak ada pesen dari whatsapp maupun LINE. Saya pun menghela nafas panjang. Tapi begitu sadar saya belum gosok gigi segera saya hentikan hal itu. Khawatir aroma jigong menyeruak, dan merusak kedamaian manusia-manusia di sekitar saya.

Gadget jadi sangat sepi pasca hubungan saya dengan teman-teman saya agak renggang. Salah paham sih. Mungkin saya memang yang lagi ruwet, lagi jenuh, lagi penat, lagi galau. Sehingga saat ada masalah simple yang harusnya bisa diselesaikan dengan kepala dingin, malah jadi besar.

Saya tetap merindukan mereka. Apapun yang telah terjadi mereka adalah orang-orang terbaik yang pernah saya jumpai. Namun kini saya sedang membutuhkan waktu untuk sendiri. Bukan untuk menghindar. Tapi untuk me-refresh diri saya. Tujuannya agar saat bertemu dengan mereka, saya bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Yang jauh lebih bisa memperlakukan mereka dengan layak. Miss you guys.

“Tahu asin….. Tahu asin…”

“Mijon…. Mijon….”

“Kopi… Kopi… “

“Pendidikan anak bu’…. Pendidikan anak pak….”

Sejam perjalanan dari Gubeng, gerbong mendadak riuh dengan suara pedagang asongan. Ada yang jualan tahu, jualan buku, jualan mainan, jualan sabuk, jualan dompet, jualan minuman, sampai jual rumah pun ada. Saya agak heran juga. Bukannya KAI sudah menerapkan sistem baru ya, sehingga tidak memungkinkan pedagang asongan bisa masuk ke gerbong. Tapi ya sudahlah, saya gak ngerti dengan seluk beluk KAI sebagaimana Pepenk temen saya. Yang jelas, justru tingkah laku ajaib pedagang asongan inilah yang membuat ke-bete-an saya sirna.

Di stasiun Balapan Solo bahkan saya menjumpai fenomena unik. Sesaat sebelum sampai, mata saya sempat terpejam karena saking ngantuknya. Dalam kondisi sadar dan tak sadar, saya kemudian mendengar suara-suara aneh. Mirip rapalan mantra di kuil-kuil (atau lantunan dizikir kalau di agama saya). Karena penasaran, saya paksakan untuk membuka mata perlahan-lahan. Mata saya sekilas menangkap tiang-tiang fondasi yang menyangga atap langit-langit. Sesaat saya benar-benar merasa ibarat Indiana Jones yang terperangkap di kuil suku kuno. Namun begitu mata benar-benar terbuka lebar, ternyata bayangan saya kliru. Bangunan tadi ternyata stasiun balapan Solo dan lantunan mantra tadi tak lain adalah suara para pedagang asongan.

Perjalanan 6 jam ke jogja tanpa ada hiburan macam televisi atau teman ngobrol benar-benar harus disiasati. Dan memainkan imajinasi adalah salah satu hal paling bisa saya lakukan saat itu. Kejadian Indiana Jones tadi adalah salah satunya.

Namun ada imajinasi “sesat” paling sering sliweran adalah tiba-tiba ada penumpang dekat saya yang mirip Julie Estelle, kenalan, lamaran, menikah, hidup bahagia selamanya….. halah. Baiklah masih 2-3 jam lagi sebelum sampai di Jogja. Nikmati saja tiap moment di kereta ekonomi ini.

(Bersambung)

Jogja TRIP : [Chapter 1.0] Saatnya Berubah, Saatnya Berpetualang

Januari 13, 2013 3 komentar

Saya adalah penderita fobia. Saya takut sendirian, takut bepergian, takut pada keramaian, dan takut tersesat. Sepertinya itulah yang menyebabkan jarang sekali saya meninggalkan rumah atau keluar kota. Hal ini juga ditunjang dengan kondisi saya yang menjadi anak semata wayang. Saat ingin mencoba hal baru, seringkali orang tua melarang karena khawatir saya akan terjatuh dan depresi.

Saya tetap menganggap itu adalah bentuk kasih sayang orang tua. Namun kini usia saya telah menginjak usia 27 tahun. Tidak mungkin saya terus terperangkap dalam ketakutan semu sehingga membuat saya hampir tidak pernah berpetualang dan berkembang.

Agorafobhia, sepertinya menjadi istilah paling tepat bagi fobia yang saya alami. Agorafobhia adalah ketakutan berada di tempat dimana bantuan tidak tersedia. Penderita agoraphobia selalu takut pada kerumunan atau menjadi penyendiri. Agoraphobia kadang berhubungan dengan kelainan ansietas lain, seperti gangguan panik atau fobia khusus.

Gejala Agorafobhia seperti yang sudah saya singgung di awal seperti mengurung diri dalam rumah untuk beberapa saat, bergantung pada orang lain, takut sendiri, takut berada di tempat yang memungkinkan tidak bisa lari, dan tak berpengharapan.

Tepat tanggal 25 Desember 2012 saya merencanakan sebuah perjalanan. Perjalanan menuju JOGJA. Tampak sepele? Bagi yang tidak merasakan Agorafobhia mungkin hal itu tampak biasa dan keciiil. Tapi bagi saya ini sangat berbeda. Karena disinilah awal saya untuk mengalahkan fobia yang telah merenggut sebagian besar masa produktif saya.

Hingga pada akhirnya saat yang telah saya nantikan pun tiba. Tepat pukul 2.20 pagi, saya bersama Micky, teman karib sewaktu di Poltek, berangkat dari Malang menuju Stasiun Gubeng Surabaya. Kami sengaja memilih Gubeng karena tiket ke Jogja dari sana terbilang sangat terjangkau. Hanya Rp 38.000,-. Bandingkan dengan langsung dari Malang yang rata-rata di atas seratus ribu! Keinginan kami untuk menghemat biaya perjalanan bukan lantaran kami pelit sih, cuman karena kikir aja….halah. Cari yang murah karena biar kesan “petualangan”-nya lebih berasa.

Mengendarai motor dengan santai, kami bisa datang pukul 5 pagi di Gubeng. Segera, saya dan Micky mencari musholah terdekat untuk menjalankan ibadah sholat subuh.

Setelah sholat tiba-tiba raut muka cah Blitar itu berubah serius. Dia lalu menepuk pundak saya dan berkata,”Boy… doakan aku! Setelah pulang dari Jogja, aku akan melamar gadis.”

Kunyuk, Deja Vu nih….. Sudah berapa kali adegan seperti ini saya alami? Mulai dari Yhanuar, Putut, Dhanie, Fahrur, dan sekarang si Micky ikut-ikutan mendahului saya untuk menikah. Sebenernya gak masalah mereka nikah duluan. Tapi kenapa harus disampaikan pada saya dulu yang seorang Jomblo Orisinil ini? Eike juga pengen gilaaaaa’.

Ya Allah, kenapa sih di saat saya masih suka nonton film kartun, baca komik, dan main game, teman-teman saya malah pada sibuk berumah tangga?

Banyak sih yang bilang kalau saya sampai sekarang masih kekanak-kanakan gara-gara masa kecil saya kurang bahagia. Wuoooh, itu salah besar cuiii. Masa kecil saya terlalu bahagia, hingga pada akhirnya saya lupa bahwa usia terus bertambah. Lupa deh dengan urusan MENIKAH.

“Baiklah boy… doa Bang Zafran selalu bersamamu,” ucap saya sambil menirukan mimik muka Herjunot di 5cm. Ya walau jatuh-jatuhnya gak mirip sih. BTW kenapa sih banyak yang gak trima kalau saya bilang bahwa perwujudan Zafran 5cm di dunia nyata itu ya gak beda jauh dengan saya?

Tuuuuuut jes jes jes jes (Suara kereta yang bener gimana sih?)

Suara tunggangan kami mulai terdengar memasuki stasiun Gubeng. Kereta Pasundan, ekonomi, gak pake AC….. #BiarLebihGreget.

Saya merinding, jantung rasanya bedebar-debar, saat kereta tunggangan saya ke Jogja datang. Rasa hati riangnya bukan main. Inilah kali pertama saya senang setengah mati melihat kereta api. Mungkin gini kali ya perasaan si Pepenk temen saya dedengkotnya Rail Fans Malang, tiap kali lihat kereta. Hebohnya setengah mampus. Baru kereta cuiii…. gimana kalau cewek cakep? Bisa semaput kegirangan dia.

Dalam hati saya berkata, “Ini saatnya, ini saatnya saya berubah… Memulai hidup penuh petualangan”

(Bersambung ke chapter 2.0)

Ciem & Moel [31-12-2011]

Desember 31, 2011 Tinggalkan komentar

Klik Gambar Untuk Memperbesar

Ciem & Moel [24-12-2011]

Desember 24, 2011 1 komentar

klik gambar untuk memperbesar

 

Ciem & Moel [12-12-2011]

Desember 12, 2011 1 komentar

klik gambar untuk memperbesar

 

Kategori:Ciem & Moel

Ciem & Moel Cartoon: Resolusi Tahun Baru

Desember 31, 2010 Tinggalkan komentar

Ayo ngaku deh…. Pasti tahun baru udah bikin resolusi, tapi tetep aja bangunnya pas tangal 1 pada molor….

%d blogger menyukai ini: