Ciem & Moel [31-12-2011]

Desember 31, 2011 Tinggalkan komentar

Klik Gambar Untuk Memperbesar

Ciem & Moel [24-12-2011]

Desember 24, 2011 1 komentar

klik gambar untuk memperbesar

 

Saya bukan tukang bakso…..!!!!

Desember 14, 2011 1 komentar

“Mas bakso 3 porsi….”, ucap seorang bapak kepadaku. Melihat logatnya sepertinya dia orang dari luar kota. Apalagi melihat gaya berbusananya yang mungkin terlalu ‘necis’ bagi orang Malang kebanyakan.

“Mas bakso ya… 3 porsi, gak pake lama,” ujarnya sekali lagi kepadaku. Aku yang saat itu tengah asik memilah-milah penthol di mangkok pun jadi semakin bengong. Bukan karena permintan si bapak yang memesan bakso kepadaku. Tapi karena aku ini bukan penjual baksonya. Aku konsumen wuooooy…

Memang sih tempat bakso langgananku itu sistem belinya “self service”. Yang artinya kalau mau beli ya ngambil sendiri.

“Maaf pak…. Saya juga pembeli. Di sini kalau beli bakso harus ngambil sendiri.” Kataku pada si Bapak tadi dengan wajah manyun (memang pada dasarnya manyun…. Puasss???). Sontak saja si bapak memohon maaf pada saya. Tanpa disuruh dia juga menjelaskan latar belakang hidupnya yang ternyata dari Jakarta. Tapi bentar deh…. Saya khan gak minta si Bapak cerita ke saya???

Kejadian sekitar tahun 2008 itu memang cukup membuat muka saya tercoreng (walau memang sudah coreng moreng… ngapain liat-liat, gak usah ngledek deh!). Si bapak yang orang Jekerda itu memang sudah minta maaf ke saya. Tapi malunya itu loh… apalagi saat kejadian itu di warung bakso langganan saya sedang banyak pelanggan. Saya masih teringat tawa sadis seorang cewek SMU bersama teman-temannya. Tak sumpahi bisulan di pantat tuh orang.

Tapi kalo boleh saya instropeksi diri memang kejadian itu tak bisa lepas dari kesalahan saya juga. Saat itu sebelum beli bakso, saya memang sudah niat pakai pakaian yang biasaaaaaaaaa banget. Soalnya saya terinspirasi dari Om Bob Sadino dan orang-orang kaya keturunan Tiong Hoa yang gaya busananya selalu tampil ala kadarnya. Padahal duit mereka banyaknya gak kira-kira.

Namun kenyataan memang kadang menyakitkan. Muka saya yang masuk dalam kategori muka ‘sengsara’ ini sepertinya jadi semakin terlihat hancur dalam balutan celana pendek lusuh dan kaos oblong berwarna putih mangkak (istilah Malang untuk kata ‘kusam’). Payahnya…. dandanan pegawai bakso malah lebih mbuois dari saya. Wajarlah kalau bapak Jekerda tadi ngira saya lah sang penjual bakso.

Kejadian itu memang salah satu kejadian terkelam dalam hidup saya. Namun entah kenapa, kejadian seperti itu justru terulang pada saya sampai tiga kali. Dan selalu saja semua itu terjadi karena kalau saya tidak salah kostum, ya gara-gara sistem self service tadi.

Kejadian kedua saya alami akibat salah kostum (lagi). Kali ini saya mencoba untuk berbusana seperti orang kebanyakan. Hanya saat ini pemilihan warnanya yang bikin apes. Saat itu saya memilih baju hitam dan celana hitam. Dimana kombinasi seragam pegawai si penjual bakso juga sama, hitam-hitam. Alhasil, seorang mahasiswi langsung manggil saya “Bang” dan menyodorkan uang seratus ribuan pada saya. What the F…….?

Kejadian ketiga pun tak jauh beda. Lagi-lagi orang luar kota yang tidak pernah beli bakso dengan metode “self service” meminta saya menyuguhkan beberapa mangkok bakso saat saya sedang asik ngambil kuah.

Dari kejadian-kejadian itu saya simpulkan bahwa untuk membeli bakso, penampilan sangat dibutuhkan. Kalau perlu pakailah kemeja, celana kain rapi, sepatu kulit mengkilat, dasi, bahkan kacamata (biar tampak seperti orang pintar yang demen beli tolak angin). Dan itu sudah coba saya terapkan beberapa kali. Kalau sampai masih ada saja yang ngira saya tukang bakso, tak sumpahi bisulan di ketiak tujuh turunan.

Bukan Tukang Bakso

Categories: Tentang saya Tag:

Ciem & Moel [12-12-2011]

Desember 12, 2011 1 komentar

klik gambar untuk memperbesar

 

Categories: Ciem & Moel

Bunga Rasa Honda

September 4, 2011 4 komentar

wajah saya sensor atas permintaan para pelaku

Hidup tidak seindah cerita Cinderella, itulah pepatah yang tidak sengaja saya ciptakan saat merenung dibawah shower. Itupun juga muncul gara-gara mata saya pedes lihat timeline penuh dengan candaan-candaan para penderita SGM (Sindrom Galau Massal). Terutama sih bagi mereka-mereka yang jomblo atau sudah punya pasangan tapi belum menikah.

Memang sih di usia-usia seperti itu kebanyakan orang jadi labil dan gak jelas. Hal ini tak lepas dari kondisi di masyarakat kita sendiri yang rese banget suka nanya-nanya “kapan nikah?” ke sanak saudara dan kerabatnya yang terlihat belum nggandeng gebetan. Keliatan banget khan dari pertanyaannya kalo masyarakat kita suka noton infotainment? Padahal banyak loh pertanyaan yang lebih berbobot dan cerdas. Contoh : “Harga Ferrari berapa ya sekarang?”, “Eh jarak Malang-Jakrta dengan Jakarta-Malang sama ya?”, “Kapan nyalonin diri jadi presiden”, “Katanya situ temen deketnya Sun Go Kong ya?”, atau “Kapan ganteng…??”. Tuh khan, masih banyak banget pertanyaan yang berbobot dan kesannya gak basa-basi.

Dan rupanya aura kegalauan itu tak hanya tersebar di twitter saja. Tapi saat di dunia nyata saya masih melihat para tuna asmara dan jomblo-jomblo terlantar ini berbicara tak jauh dari topik yang saya dibahas diatas. Oh iya… sebelumnya orang yang sudah punya pacar tapi belum menikah tetep saya golongkan dalam kategori “tuna asmara”. Soalnya kalo belum diikat dalam ikatan pernikahan saya anggap masih saja rapuh dan bisa bubar kapan saja tanpa pemberitahuan.

Lanjut….. kembali ke nuansa kongkow-kongkow dengan beberapa teman alumni SMA 5. Ada dua orang teman saya sebut saja namanya Bunga Rasa dan Honda. Dua perumpaan itu saya ambil karena yang cewek punya nama seperti merk roti tawar yang cukup laris di toko-toko kelontong. Jadi namanya saya plesetkan nama roti lain yaitu roti gopek-an cap Bunga Rasa (Insya Allah gak kalah laris). Untuk yang cowok ini namanya cukup nyleneh, tapi kalo dilafadzkan mirip salah satu seri Honda yang populer di era 90-an, Honda Astrea.

Nah si Bunga Rasa dan Honda ini menurut kabar burung yang beredar, mereka sedang saling memberikan sinyal-sinyal ketertarikan. Cuma biasalah…. gengsi semua dan tidak ada yang berani memulai. Ini yang bikin gedeg. Terutama bagi oportunis sejati seperti saya yang suka banget ditraktir. Padahal si Bunga Rasa keesokan harinya sudah balik ke ibu kota. Kalo sampe mereka dead lock  hingga pukul 09.30, maka kesempatan untuk menikmati kopi di 14022 bisa gagal total.

Menghadapi dua insan manusia yang “Malu-Malu Kampret” model mereka, memang dibutuhkan campur tangan pihak lain. Awalnya saya pikir mereka malu jadi tontonan teman-temannya bila terjebak dalam situasi romantis, sehingga proses penembakan pun jadi hil yang mustahal. Saya dan dua orang lainnya sempat menawarkan untuk keluar sebentar sehingga si Bunga Rasa dan Honda bisa bicara dari hati ke hati. Tapi…. gagal.

Saya coba alternatif kedua yaitu sms-an saja…. eh tetep gak mau. Mungkin mereka malu sms-an karena tulisan mereka mirip ceker ayam, takutnya gak kebaca nanti. Ya sudahlah, daripada malah gak jadi saya putuskan membantu mereka. Scara tulisan saya cukup elok untuk dipandang.

Isi smsnya cukup simpel, dari hp si Honda saya kirimkan kalimat sebagai berikut :

*** mulai skrg kta jadian. Ok? Ga dbls berarti ya, dbls brarti setuju.

Nama pun saya sensor atas permintaan dari para oknum

Kemudian setelah sms sampai di hp si Bunga Rasa saya kirim balasan ke HP Honda :

Yo wis, ayo…. Cinta :p

itu mah bukan di sensor... cuman kameranya emang burem

Dan saya mulai detik itu, mereka jadi pasangan secara de Yuro. Secara de Facto mungkin akan menyusul belakangan. Yang penting 14022-nya itu dulu loh.

Hingga tulisan ini dibuat saya masih belum bisa membayangkan akan dibawa kemana hubungan mereka selanjutnya. Apakah kisah cinta mereka akan jadi mirip Cinta dan Rangga yang harus kejar-kejaran di bandara dan tertunda untuk saling memadu kasih selama 7 purnama (beneran 7 ya?). Ataukah justru menjadi seperti Bang Toyib yang 3 kali puasa dan 3 kali lebaran terpisahkan. Atau malah seperti Sri Minggat, dimana sang Bunga Rasa hilang entah kemana setelah beli trasi di warung dekat rumah Wak Kaji Solikin. Who knows??? Yang saya tahu hanyalah Gorgom masih mengancam, dan Ksatria Baja Hitam akan terus melindungi bumi. Dimana Syahrini masih suka bilang Alhamdulillah Yahhh itu sesuatu banget……… Fiuuuuhhhhh *merenung…. dibawah shower*

Categories: Tentang saya Tag:

Inilah Cara Jaman Dulu Kalo Mau Dapet Lagu Gratis…!!!

Mei 18, 2011 2 komentar

Asik ngublek-ngublek file mp3 di kompie sembari menunggu download-an selesai. Maklum brur, quota Sapidol sudah over limit, jd downloadnya lumayan lemot. Nah sedang asik-asiknya melototin mp3 tembang nostalgia, mata indah saya langsung tertuju pada dua buah lagu yaitu How Do I Live (Trisha Yearwood) dan My Heart Will Go On (Celine Dion). Dua lagu yang booming di era 96-97.

Dan hebatnya dua lagu ini berhasil menguak masa lampau saya. Bahwa sesungguhnya saya adalah Putra Yang di Tukar dengan Sandal Jepit hayaaaaaah…. Bukan om, dua lagu ini mengingatkan saya akan aktivitas saya pada masa itu. Karena saking kepinginnya ndengerin dua lagu ini setiap saat, saya terpaksa merampok salah satu kaset bekas milik kakak untuk dibuat merekam lagu. Maklum lah buat mendapatkan lagu di jaman segitu tidak seperti sekarang. Kalo sekarang tinggal ngopy di warnet, beli mp3 bajakan, ato download via internet. Nah dulu, nemu rentalan komputer yang ada game dos-nya saja sudah untung (gak nyambung kan…?).

Aktivikas rekam merekam ini tidaklah semudah yang dikira. Memang sih teknisnya cuman tinggal mencet tombol rec dan play di Tape bersamaan. Namun masalahnya, kita kudu betah nunggu lagu yang diincer diputar di radio lebih dahulu. So…. disini kita olang pake filosofinya orang mancing. Sabar.. sabar.. dan sabar.

Beberapa hal yang bikin jengkel saat mau merekam lagu di radio adalah sebagai berikut :

Kelewatan

Ini merupakan masalah umum yang dihadapi orang yang gemar rekam merekam seperti saya. Lagu yang diputar jadi kepotong di awal. Padahal intro sebuah lagu biasanya justru jadi daya tarik lagu tersebut. Pada kasus kelewatan yang sering saya alami, saya sering kelewatan gara-gara pas asik di depan radio, tiba-tiba saya disuruh Ibu beli micin dan terasi di warung sebelah. Nah pas saya beli micin dan terasi tadi, ternyata tuh lagu malah diputer.

Penyiar Terlalu Cerewet

Lagu belum rampung (bahkan masih di reff pertama) si penyiar sudah terlanjur ngoceh. Alunan nada yang indah jadi terkontaminasi suara lebay penyiar. (Sori yang profesinya penyiar… bukan maksudku melukai hatimu)

Pitanya Habis

Kalo ini sih lebih ke faktor perekamnya saja. Kadang-kadang saya sering lupa ngecek posisi pitanya. Pas sudah dapat timing yang pas… eh lah dalah… kasetnya habis. Jadilah kucing-kucing di kasur jadi pelampiasan. Saya gigiti ekornya, sampe nyathek-nyathek (nyakar-nyakar)….

Salah Saluran

Misalnya menunggu lagu barat, eh kitanya malah nungguin di siarang lagu dangdut ato karawitan. Itu masih mending, saya malah pernah nungguin lagu “Hard To Say I’m Sorry” yg dinyanyikan AZ YET di program siaran Sanggar Cerita Anak-Anak….. Slamat berjumpa dengan sangar cerita…tutuw tutuw

Tidak Ada Yang Request

Bukannya tidak mau request sendiri sih… tapi saat itu umur saya masih 10 tahun. Masih lucu dan lugu… imut lagi. Jadi tidak mungkin donk telpon ke kakak-kakak penyiar supaya diputerin lagu-lagu barat yang notabene konsumsi 17 tahun ke atas itu. Ntar saya malah disuruh ndengerin lagunya Joshua ato Trio Kwek-Kwek lagi.

Sialnya…. selama 60 menit ternyata tidak ada satu orang pun yang merequest lagi itu.

Kaset Sudah Tidak Layak Pakai

Berubung kaset yang dipakai itu-itu saja, kualitas pita doi jadi menurun drastis. Lagu yang direkam pun jadi mendengung dan tidak jelas. Solusinya, bajak kaset lain…… Tapi kadang-kadang saya tetap bertahan dengan kaset lama. Karena kalo pake kaset sembarangan bisa dimarahi kakak saya yang saat itu terkenal cukup kejam dengan seorang adik.

Njegleg (Trip) ato Mati Lampu di Tengah Merekam

Listrik padam di tengah aktivitas merekam. Yang pertama gara-gara listrik di rumah saya njegleg (trip). Pasalnya saat itu daya di rumah saya memang tidak besar. Bahkan untuk menyalakan tv Dijitak… Digitec ding, listrik bisa padam.

Namun kedongkolan itu bisa tambah menjadi-jadi bila PLN tiba-tiba memadamkan listrik di area tempat tinggal saya tanpa peringatan di radio KDS 8 dulu.

Walaupun tampak ribet dan tidak praktis, tapi tetap saja aktivitas merekam lagu-lagu di radio dengan kaset menjadi kegiatan yang menyenangkan. Kenangan tentang kebiasaan saya di masa lampau ini menjadikan saya hamba yang bersyukur. Bayangkan dulu pengen dapat satu lagu saja susahnya minta ampun. Sedangkan sekarang cukup butuh sesaat dan lagu favorit pun telah tersedia. Fiuh fiuh fiuh….

Iklan Pocari Sweat 2011 versi Youth Sweat Beautiful

Mei 17, 2011 4 komentar

Awalnya saya pikir iklan ini adalah MV terbaru dari GirlBand asal Korea. Eh ndilalah iklan Pocari Sweat toh. Berubung saya suka dengan wajah-wajah sinam khas Asia Timur, maka mata saya pun jadi terpaku tak berkedip mirip Bunglon melihat iklan produk asal Jepang ini.

Dan rupanya bukan saya saja yang terkesima. Namun beberapa teman yang notabene perempuan juga begtu menyukainya. Hanya saja mereka suka dengan backsong-nya. Tapi beneran kok… lagunya asik. Mau tah….???? Monggo deh saya kasih link-nya :

Download Jingle Pocari Sweat – Youth Sweat Beautiful

BTW saya baru dapat info dari kaskus.us, kalau ternyata modelnya bukan orang Jepun. Karena dia adalah sali bikinan Indonesia sejak 1988 (sampean pikir Gethuk pake dibikin…???). Nama sang model imut ini adalah Aelke Mariska. Nih penampakanya :

Ato ini yang nyeni banget :

Udah-udah…!!!! Jangan ngiler mas!!! Sisanya sampean cari sendiri deh!!!

Pasukan Turbo

Februari 10, 2011 3 komentar

Pasukan Turbo atau yang judul aslinya Turbo Ranger adalah salah satu Sentai yang paling tenar di Indonesia. Serial ini hadir di era 90-an bersamaan dengan era kejayaan KBH dan Power Ranger. Lagu opening adalah hal yang paling diingat dari film buatan Jepang ini.

Kangen dengan lagu pasukan Turbo…? Cekidot gan!!!!

Lirik Pasukan Turbo

Turbo.
Turbo.

Saya dilahirkan,
Ke dalam dunia ini,
Telah diberi kekuatan,
Untuk Selamatkan dunia.

Saya telah dilahirkan,
Tuk Ciptakan Perdamaian,
Karena saya suka Perdamaian.

Marilah kawan-kawan,
Kita menjaga,
Kedamaian,
Dengan Kekuatan,
Yang ada pada kita,
Ayolah bersatu.

Kita berlima,
Menjadi satu,
Ciptakan perdamaian dan keadilan di dunia,
Kita berlima,
Menjadi satu,
Ciptakan perdamaian dan keadilan,
Di dunia ini

Pasukan cepat,
Pasukan Turbo

Iklan AXIS 2011 versi Pacar Kelewat Hemat (Pelit)

Januari 25, 2011 9 komentar

Iklan Axis is back. Setelah sukses dengan iklan “Nduk aer nduuk!!!”, kini mereka meluncurkan iklan hemat 60 menit versi terbarunya. Dan yang paling saya suka dari Axis adalah mereka tidak suka ikut arus beberapa kompetitornya yang lebih suka iklan dengan gaya “sindir-menyindir”.

Dalam iklan komersialnya kali ini, diceritakan seorang cowok yang kelewat hemat. Bahkan boleh dibilang sih dia cenderung pelit. Bagaimana tidak mulai dari makan cuma beli nasi putih doank sementara minuman dan lauknya minta punya temen. Saat pacaran pun gak kalah keterlaluan bakhil-nya. Pacarnya bahkan gak boleh pake AC mobil, sebagai gantinya disediakan kipas angin kecil tenaga baterei.

Ketika mobil mogok, si Pacar malah disuruh dorong (gak gentle banget kan?). Tak sampai disitu, isi bensin pun ternyata hanya 1/2 liter. Yah semoga karakter cowok edan seperti ini gak nular ke saya (walaupun urusan duwit saya lumayan pelit).

Serupa dengan konsep “Nduk Aer Ngul”, iklan ini juga bermaksud menyampaikan anda boleh hemat (pelit) di semua urusan kecuali nelpon, selama nelponnya pake Axis. Dikarenakan tarif dan bonusya yang bla bla bla bla (saya bukan pegawai dan pemakai axis, jadi liat saja sendiri iklannya).

Ok kawan-kawan cukup demikian. Selamat menunggu iklan gokil lainnya dari Axis.

 

Lagu Andai Aku Jadi Gayus Tambunan (Sebuah Tamparan Bagi Penegak Hukum)

Januari 15, 2011 1 komentar

Kasus Gayus memang benar-benar membuat banyak pihak jengah. Bagaimana tidak, penegak hukum kita seolah dipecundangi oleh terdakwa kasus penggelapan pajak ini. Dengan uang yang dimilikinya, Gayus dapat dengan bebas nonton tenis di Bali atau plesiran sampai ke luar negeri. Padahal statusnya adalah sebagai tahanan. Caranya tentu saja dengan menyuap pihak-pihak terkait.

Fenomena gayus dan ilmu SUAP yang dimilikinya ini, menggelitik seorang seniman bernama Bona untuk membuat lagu sentilan. Berangkat dari pengalamannya sebagai seorang napi, dia berusaha menyampaikan betapa tidak adilnya perlakuan hukum di negeri ini bagi si kaya dan si miskin.

Lagu ini sangat menarik karena iramanya yang dibuat easy listening dan mengikuti tren masa kini. Terlebih lagi suara Bang bone menurut saya mirip dengan suara vokalis ST12 atau D’Bagindaz he he he.

Tertarik untuk menyanyikannya, monggo kerso masdab ini klip dan liriknya :

Andai Aku Jadi Gayus Tambunan

Sebelas Maret
Diriku masuk penjara
Awalku menjalani

Proses masa tahanan
Hidup di penjara
Sangat berat kurasakan
Badanku kurus
Karena beban pikiran

Kita orang yang lemah
Tak punya daya apa-apa
Tak bisa berbuat banyak

Seperti para koruptor
Andai ku Gayus Tambunan
Yang bisa pergi ke bali
Semua keinginannya
Pasti bisa terpenuhi
Lucunya di negeri ini
Hukuman bisa dibeli
Kita orang yang lemah
Pasrah akan keadaan

Tujuh Oktober
Ku bebas dari penjara
Menghirup udara segar
Lepaskan penderitaan
Wahai Saudara
Dan para sahabatku
Lakukan yang terbaik
Jangan Engkau salah arah

Andai ku Gayus Tambunan
Yang bisa pergi ke bali
Semua keinginannya
Pasti bisa terpenuhi
Lucunya di negeri ini
Hukuman bisa dibeli
Kita orang yang lemah
Pasrah akan keadaan

Biarlah semua menjadi kenangan
Kenangan pahit
Dalam hidup ini

Andai ku Gayus Tambunan
Yang bisa pergi ke bali
Semua keinginannya
Pasti bisa terpenuhi

Lucunya di negeri ini
Hukuman bisa dibeli
Kita orang yang lemah

Pasrah akan keadaan

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.